Sri Susilowati: Pejuang Kesetaraan Gender dan Sukses Memimpin Kopwan Srikandi

SRI SUSILOWATI, SE. Rasanya tidak berlebihan bila menyebut wanita yang satu ini sebagai salah satu tokoh wanita berpengaruh di Kabupaten Purworejo. Wajar saja, karena ibu dua anak ini sudah sejak lama terlibat aktif dalam berbagai kegiatan baik di sektor sosial, ekonomi, dan politik.

Bertepatan dengan Hari Kartini hari ini, saat ditemui di kantornya yang terletak di Jalan Magelang Purworejo pada Rabu (21/4) siang, wanita yang akrab dipanggil Susi itu seperti tidak kehabisan energi saat bercerita. Padahal dirinya mengaku baru saja pulang dari menghadiri acara di salah satu desa di Kecamatan Bener.

Dengan fasih wanita kelahiran Desa Tlogokotes, Bagelen 58 tahun silam itu menuturkan, keterlibatannya dalam berbagai organisasi sudah dimulai sejak dirinya duduk di bangku SMP yakni saat menjadi pengurus OSIS.

“Waktu itu di SMPB 3 (sekarang SMPN 4), saya jadi pengurus OSIS dan aktif di kegiatan Pramuka serta  drumband. Waktu di SMA saya juga kembali aktif jadi pengurus OSIS,” ujar alumni SMAN 1 itu.

Puluhan jabatan pernah disandang oleh nenek empat cucu itu. Diantaranya sebagai anggota DPRD Kabupaten Purworejo periode tahun 1999 – 2009, Ketua LSM Kartinem Purworejo, Ketua KUB Mitra Sejahtera Purworejo, Ketua KPPI (Kaukus Perempuan Politik Indonesia) Kabupaten Purworejo, Ketua BPC AKU (Asosiasi Kelompok UPPKS) Kabupaten Purworejo, Ketua Forum PUG (Pengarus Utamaan Gender).

Sri Susilowati menerima penghargaan Satya Lencana Wira Karya dari Presiden Tahun 2017

Jabatan lainnya, Ketua P2TP2A Kabupaten Purworejo, Wakil Ketua BKAD PNPM Kecamatan Purworejo, Wakil Ketua Bidang OKK DPD Partai Golkar Kabupaten Purworejo, Sekretaris LPMK Kelurahan Purworejo, Penasehat KPPG Kabupaten Purworejo, juga sebagai Pengurus Bhakti Praja Kabupaten Purworejo.

Semuanya itu sudah cukup membuatnya sibuk. Belum lagi jabatannya sebagai Ketua Koperasi Wanita Srikandi Purworejo yang didirikannya sejak tahun 2014. Sebagai seorang pimpinan dan wanita pengusaha, berbagai penghargaan pun pernah diraihnya baik dari dalam maupun luar negeri.

Diantaranya Penghargaan Siddhakarya dari Gubernur Jawa Tengah Tahun 2018, Satya Lencana Wira Karya dari Presiden Tahun 2017, serta 3rd ASEAN Leadership Award on Rural Development and Eradication in Kuala lumpur Malaysia tahun 2017.

Peran Susi dalam kesetaraan jender juga patut diacungi jempol. Melalui KPPI, Susi gigih memperjuangkan adanya camat perempuan di Kabupaten Purworejo.

“Waktu itu di tingkat Kedu hanya Kabupaten Purworejo yang belum memiliki camat perempuan. Hingga akhirnya harapan itu dapat terealisasi,” kenang Susi.

Susi saat menerima anugerah 3rd ASEAN Leadership Award on Rural Development and Eradication in Kuala lumpur Malaysia tahun 2017

Secara gigih pula Susi memperjuangkan nasib wanita dan anak-anak yang mengalami KDRT.  Menurutnya, kekerasan pada perempuan dan anak bagaikan fenomena gunung es yang tidak tampak di permukaan.

“Mereka tidak mau melaporkan karena kondisi sosial dan memilih bersikap diam demi harmoni. Padahal selama ini dalam menangani kasus KDRT tidak selalu berakhir di pengadilan. Bahkan tugas kami di P2TP2A adalah memberikan pendampingan dan diupayakan untuk damai,” urainya.

Perannya sebagai ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Purworejo selama tujuh tahun mulai tahun 2000 atau setelah setahun berhenti jadi anggota DPRD juga berhasil memberikan virus positif bagi anggota PKK di tingkat dawis.

Melalui gerakan menabung
seikhlasnya, setiap anggota dawis di Kelurahan Purworejo diwajibkan memiliki celengan untuk gerakan sosial.

Susi pulalah yang menggagas gerakan cinta snack lokal. “Jadi kalau ada pertemuan dengan snack tiga macam, maka dua diantaranya haruslah produk lokal yang terbuat dari non tepung seperti puding jagung. Ini membuat ibu-ibu bisa berkreasi dengan olahan lokal,” imbuhnya.

Susi dengan berbagai produk unggulan Kopwan Srikandi

Tentang Kopwan Srikandi yang didirikannya, istri Slameto Dharmo Putro itu bertutur, pendirian Kopwan Srikandi diawali saat dirinya menjadi anggota DDPRD. “Saya berikan modal Rp 10 juta yang dijadikan untuk simpanan pokok anggota. Kemudian anggota diberi celengan dengan jumlah berkelompok.

“Saya edukasi ibu-ibu anggota Kopwan agar uang receh kembalian belanja walaupun hanya Rp 500 jangan mau diberikan dalam bentuk bumbu masak, tapi ditabung. Hasilnya luar biasa, tabungan mereka bisa sampai jutaan hanya dari uang receh yang telaten dikumpulkan,” ungkap Susi.

Saat ini Kopwan Srikandi anggotanya sebanyak 198 wanita dengan nilai aset mencapai Rp 500 juta. Di sisi lain, Susi juga berhasil menjalankan produksi gula semut yang diekspor ke berbagai negara.

Secara detil wanita yang selalu ceria itu merinci jenis usaha Kopwan Srikandi yang dikelolanya. Selain koperasi simpan pinjam, 
Kopwan juga memproduksi minyak kelapa, gula semut, dan VCO. Sudah banyak yang mengetahui kalau produk-produk Kopwan Srikandi yang berdiri sejak tahun 2014 tersebut bahkan kini diekspor ke berbagai negara di Eropa, Amerika Latin, Australia dan Asia. 

Tak hanya terima jadi produk-produk tersebut. Susi juga paham betul seluk beluk proses produksi serta tingkat kesulitan yang dialami para pekerja di level bawah. Intinya, Kopwan Srikandi  sebagai agen perubahan masyarakat berbasis sumber daya lokal sesuai tagline yang selalu digaungkannya.

Hj Sri Susilowati, jalani multi peran

Bagi Susi,  pencapaiannya selama ini merupakan representasi dari peran wanita yang bisa sejajar dengan pria.

“Ini jangan disia-siakan. Tapi persamaan  itu jangan pula disalahartikan. Bagi seorang wanita dan ibu, keluarga adalah nomor satu. Setinggi-tingginya pangkat dan jabatan seorang wanita, kalau di rumah maka tetaplah menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suaminya,” begitu filosofinya.

Susi beranggapan, penghargaan pemerintah terhadap wanita sudah cukup baik. Wanita sudah disejajarkan perannya dalam berbagai sektor, termasuk sektor perbankan. “Sekarang ini sudah bisa seorang wanita pinjam uang di bank dengan jaminan usahanya, tanpa melibatkan pendampingnya”.

Di Purworejo, menurut Susi, hal yang perlu ditingkatkan terkait dengan responsif gender melalui Anugerah Parahita Ekapraya (APE) yang menitikberatkan pada strategi Pengarusutamaan Gender (PUG). Sebagai ketua forum Susi mengusulkan ke dewan terkait adanya perda tentang pengarusutamaan jender yang diharapkan semua stakeholder ada payung hukumnya melalui proses politik.

Semua upaya yang dialkukan Susi tidak terlepas dari prinsip hidupnya yakni : kalau kita ingin berubah, mulai dari diri sendiri dari sekarang dari mulai yang kecil dan jangan ditunda. Prinsip hidup itu pulalah yang  tampaknya menjadikan Susi bisa menjadi sosok wanita yang bermanfaat bagi banyak orang dan tidak malu untuk belajar untuk mencapai kemajuan. *** (Yudia Setiandini, wartawan Purworejonews)

Tinggalkan Komentar