Perjuangan M Syukron: 63 Hari Jalani Isolasi Mandiri karena Positif Covid-19

PURWOREJO, Tanggal 30 Juni lalu merupakan hari bersejarah dalam hidup Mukhamad Syukron (48), karena pada hari itu ia akhirnya dinyatakan sembuh alias negatif Covid-19 setelah 63 hari menjalani statusnya sebagai pengidap virus yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya itu. Bilangan 63 hari adalah waktu yang terbilang lama dan “menyiksa” untuk lepas dari belenggu serta stigma sebagai pasien Covid-19.

Syukron, warga Desa Sucen Jurutengah, Kecamatan Bayan, kepada Purworejonews yang mewawancarainya Jumat (3/7) mengisahkan kronologi serta pengalamannya selama menjadi pasien positif Covid-19.

Syukron bertutur, awalnya, ia bersama serombongan jamaah tabligh dari Purworejo sebanyak 92 orang berangkat ke Gowa, Sulawesi Selatan, untuk menghadiri acara Tabligh Akbar.

Mereka berangkat tanggal 13 Maret dengan menggunakan kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Acara di Gowa kala itu dihadiri oleh puluhan ribu orang yang datang dari berbagai negara.

Apa hendak dikata, belum lagi dibuka, acara tersebut dibubarkan oleh pemerintah setempat karena dianggap tidak mengantongi izin serta untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Syukron mengaku, selama empat hari di Gowa, ia sudah mulai demam, bersin, dan batuk dengan gejala awal panas dalam. Beruntung, ia sudah memesan tiket pesawat pulang sebelum kepergiannya ke Gowa sehingga tanggal 20 Maret ia sudah kembali ke Purworejo sendirian.

Surat Keterangan Sembuh dari RSUD Dr Tjitrowardojo

Di rumah, penyakit yang dideritanya sejak di Gowa tak kunjung sembuh, hingga akhirnya ia menjalani rapid test tanggal 18 April, hasilnya negatif. Tanggal 27 April ia kembali mengikuti rapid test. Kali ini hasilnya positif.

Akibatnya, Syukron harus masuk ke RSUD Dr Tjitrowardojo sebagai PDP (Pasien Dalam Pengawasan) dan menjalani swab. Tanggal 12 Mei hasil swabnya dinyatakan positif sehingga ia menjalani perawatan intensif di ruang Bima. Beruntung dari hasil tracing, keluarga besarnya tidak ada yang tertular termasuk istri dan anaknya.

Semula Syukron merasa “enjoy” berada di rumah sakit (RS) karena ia berfikir, dengan dirawat di RS dirinya bisa lebih fokus dalam proses penyembuhan. Namun ketika menjalani swab berkali-kali dan hasilnya selalu positif, lama kelamaan ia merasa was-was.

Terlebih ketika ia masih harus menjalani isolasi mandiri di rumah setelah 38 hari menjalani perawatan di RS.

Tanggal 5 Juni ia menjalani isolasi mandiri di rumahnya, Desa Sucen Jurutengah RT 01/02. Istri dan anak satu-satunya diungsikan ke rumah kakaknya.

Berbagai upaya dilakukan Syukron untuk bisa sembuh. Ia tetap menjalankan aktivitas sholat berjamaah di masjid yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumahnya. Hanya saja ia menjalaninya di halaman masjid dengan karpet khusus yang ia bawa dari rumah.

Di teras masjid inilah Syukron menjalankan shalat

Hari-hari Syukron yang berprofesi sebagai petani dilalui dengan aktivitas di seputaran rumah.

“Saya sempat merasa sangat bersalah dan terbelenggu. Terlebih saya memiliki penyakit bawaan yakni asma dan jantung,” ucapnya.

Syukron bahkan sempat berpikiran buruk. Dalam percakapan WAG dengan teman sekelasnya saat SMA, ia bahkan sudah “berpamitan” dan memohon maaf.

“Saya pasrah dan ikhlas bila memang karena Corona ini saya harus meninggal,” ujar Syukron.

Tapi ia merasa beruntung karena memiliki komunitas yang memberi support baik materi maupun imateri. Hingga akhirnya hari bahagia itu tiba. Tanggal 30 Juni setelah diswab sampai 14 kali, Syukron akhirnya dinyatakan sembuh. Tanggal 2 Juli kemarin ia mendapatkan surat keterangan sembuh dari RSUD Dr Tjitrowardojo.

“Alhamdulillah saya bisa sembuh.
Surat ini seperti peringatan bahwa saya masih diberi kesempatan untuk hidup lebih baik,” ujar Syukron.

Ia berharap covid-19 bisa segera ditemukan obatnya sehingga tidak berlarut-larut dalam penyembuhannya, terlebih bagi dirinya yang memiliki penyakit bawaan yang berisiko. (Yudia Setiandini)

Tinggalkan Balasan