Seorang Siswa SDN Pangenjurutengah 2 Tewas Tenggelam Saat Studi Tour di Gabusan Bantul

PURWOREJO, Wirajati Sentika (Rojat/12 tahun) siswa kelas 6 SDN Pangenjurutengah 2 Kecamatan Purworejo tewas tenggelam saat mengikuti studi tour yang diadakan sekolah tersebut pada Selasa (20/9). Peristiwa itu mengejutkan banyak pihak, termasuk orang tua Rojat yakni Suwaldi (57) dan Sutirah (47). Rojat merupakan anak tunggal mereka.

Dari keterangan beberapa pihak termasuk biro travel Berkah disebutkan, musibah berawal ketika anak-anak berenang di kolam renang Puri Indah Park, Gabusan, Bantul setelah dari Kasongan dan Taman Pintar. Saat itu semua anak-anak terpantau berenang di kolam yang dangkal.

Selesai berenang, anak-anak kemudian bilas. Pada saat itulah diketahui Rojat kembali lagi ke lokasi kolam renang. Kepada temannya Rojat mengatakan ada barang yang tertinggal.
Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 16.30 WIB dan kondisi kolam renang sudah sepi.

Tak lama setelah semua teman-temannya berkumpul di bus, Rojat belum juga tampak. Para guru yang masih berada di kuar bus pun mencari keberadaan Rojat. Betapa terkejutnya mereka saat mengetahui Rojat tenggelam di dasar kolam dengan kedalam 1,5 meter.

Pada saat dikeluarkan dari kolam renang, kondisi Rojat masih hidup dan sempat diberikan pertolongan pertama oleh pihak pengelola kolam renang. Namun sayang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Panembahan yang berjarak sekitar 4,5 KM dari lokasi kejadian, nyawa Rojat tak tertolong.

Kepala Dinas Pendidikan Wasit Diyono (tengah, berpeci) datang melayat ke rumah korban

Begitu berita tersebut tersebar warga langsung berdatangan ke rumah duka RT 3 RW 4 Dukuh Trukan Kelurahan Pangenjurutengah. Termasuk Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo Wsit Diyono beserta Kepala Kelurahan Pangenjurutengah Widodo. Wasit datang untuk menyatakan bela sungkawa kepada keluarga korban.

Ditemui di rumah duka , Suwaldi menjelaskan, tadi pagi (Selasa) bersama istri, dirinya mengantar anak semata wayangnya ke sekolah untuk studi tour.

Suwaldi (kiri) saat memberikan keterangan

“Saat berangkat anak saya dalam keadaan sehat. Saya tidak tahu persis tujuannya. Hanya saja waktu tadi ketemu dengan salah satu guru saya tanya, katanya ke tiga tempat, yaitu Kasongan, Taman Pintar, dan terakhir kolam renang,” tuturnya sedih.

Kepada Purworejo News ibu korban mengatakan, sebenarnya ia sudah berpesan kepada Rojat supaya tidak usah berenang. Hal itu karena Rojat tidak bisa berenang. Bahkan menurut penuturannya selama ini Rojat belum pernah sekalipun ke kolam renang manapun.

Suwaldi kemudian menjelaskan, saat hendak menjemput anaknya pulang, ia sempat bertanya di grup WA orang tua, “Mohon jnfo anak-anak atau busnya sampai mana?”. Tapi tidak ada yang menjawab.

Sampai akhirnya sekitar lepas Maghrib ada pihak travel yang datang ke rumah dan menyampaikan musibah yang menimpa anaknya tersebut.

KS Sulastri (tengah) bersama guru SDN Pangenjurutengah 2

Sekitar pukul 21.30 kepala SDN Pangenjurutengah 2 Sulastri beserta dua orang guru datang menemui ayah korban. Dengan menahan tangis, Sulastri mengakui kekhilafannya. “Kulo lepat …Monggo Bapak bade kados pundi kulo tampi,” katanya pasrah.

Dengan pilu Suwaldi meminta diselidiki faktor penyebabnya karena bukan disebabkan sakit.
“Saya meminta kepada kepala sekolah agar menjadi pelajaran apabila akan memilih lokasi, harua diperhitungkan denga kondisi dan keadaan anak,” ucap Suwaldi.

Dengan menahan emosi ia menyatakan bahwa apapun yang disampaikan tidak akan membuat anaknya hidup kembali.

Hingga berita ini diturunkan pukul 23.00, jenazah Rojat masih dalam perjalanan menuju rumah duka. (Dia)

Tinggalkan Komentar