Sekolah Bertrap 5, Baru Dua Bulan Menjabat, Kepala SMPN 32 “Habis” 3 Sepatu

KEMIRI, Belum genap dua bulan menjabat sebagai kepala sekolah di SMPN 32 Purworejo, Murtiningsih, M.Pd sudah “menghabiskan” tiga buah sepatu. Itu karena hampir setiap hari Murti melakukan aktivitas naik turun lima trap sekolah untuk mengecek kondisi sekolah yang baru dipimpinnya itu sekaligus berinteraksi dengan warga sekolah.

Bangunan SMPN 32 yang terletak di tepi hutan jati Desa Karangduwur, Kecamatan Kemiri itu memang unik. Hal itu karena kontur tanah yang miring mengakibatkan sekolah dengan luas 10.150 m2 tersebut dibangun dengan model bertrap-trap.

“Ada lima trap di sekolah ini,” kata Murti kepada Purworejo News yang menemuinya di ruang KS pada Senin (10/10). Didampingi Waka Sarpras Bandel Setiyono, kepala sekolah yang baru menjabat bulan Agustus lalu itu menjelaskan ruangan di masing-masing trap.

“Trap 1 untuk kantin, mushola, ruang kesenian, parkir sepeda siswa, dan sebagian kelas 7 (empat kelas). Trap 2 berisi laboratorium komputer dan IPA, perpustakaan, ruang BK, parkir guru, serta sebagian kelas 7 (dua kelas). Trap 3 untuk dapur (pantry), ruang guru, sebagian kelas 7 (satu kelas), dan sebagian kelas 9 (dua kelas),” jelasnya.

Salah satu lintu gerbang SMPN 32

“Adapun di trap 4 ini digunakan untuk ruang KS, lapangan upacara, Ruang TU, dan waka, sebagian kelas 9 (dua kelas), toilet guru dan karyawan, serta ruang UKS. Sedangkan trap 5 untuk seluruh kelas 8 dan sebagian kelas 9 (tiga kelas),” imbuh Murti.

Keunikan lainnya yakni jumlah pintu gerbang yang dimiliki sekolah tersebut. Akibat kondisi geografisnya, sekolah membuat tiga pintu gerbang untuk memudahkan akses keluar masuk sekolah tersebut. Ketiga pintu gerbang itu terletak di trap 1, 2, dan 4.

Selain itu juga ada dua papan nama sekolah dengan satu gapura yang terdapat di lantai 2.
Adapun toilet siswa tersebar di setiap trap. Sedangkan jumlah kelas ada 21 ruang.

Hutan jati yang menjadi lokasi SMPN 32 Purworejo

Waka Sarpras Bandel menjelaskan, di awal berdirinya SMPN 32 tahun 1994, sekolah baru memiliki dua kelas yakni untuk kelas 7 dan 8. “Posisinya di trap 5. Setelah itu baru dibangun trap di bawahnya,” jelas Bandel.

Ia berkisah, pada awal berdirinya, SMPN 32 belum punya akses jalan yang memadai. “Dulu siswa selalu membawa batu untuk menutup jalan. Motor pun belum bisa diparkir di area sekolah karena jalannya tidak memungkinkan,” ucap Bandel.

Selain itu listrik pun baru terpadang pada tahun 1997 atau tiga tahun setelah sekolah berdiri. Itupun sesekali alirannya diputus dari wilayah regional Magelang.

Kepala SMPN 32 Murtiningsih di trap ketiga sekolah

Karena kontur tanahnya yang miring, membangun ruangan di sekolah itu pun membutuhkan dana yang besar. “Bangunan sekolah ini mahal sekali mecapai miliaran karena kontur tanahnya yang mudah begerak,” kata Bandel tanpa menyebutkan nominalnya.

Kini, sekolah yang pada tanggal 25 Oktober mendatang genap berusia 28 tahun itu sudah tampak gagah dari luar dengan keunikan yang dimiliki. Kepala sekolah yang baru pun bertekad akan meningkatkan kualitas siswa meski berada di “pedalaman” karena letaknya yang menepi berada di tepi hutan.

“Sekolah ini unik dan menjadi tantangan bagi saya untuk menjadikannya lebih berprestasi dari waktu sebelumnya,” kata Murtiningsih menutup wawancara. (Dia)

Tinggalkan Komentar