Wahyudin: Dari Sales Mainan Anak-anak Kini Sukses Jadi Produsen Panahan

OLAHRAGA panahan kini menjadi salah satu olahraga favorit di kalangan masyarakat. Selain bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan otot tangan, juga melatih fokus dan keseimbangan saat membidik target. Terlebih dalam Islam, menjadi jenis olahraga sunah Rasulullah SAW. 

Menyikapi peluang tersebut, Wahyudin Nur Abadi (33), warga Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, memproduksi alat olahraga panahan secara otodidak sejak 2015 hingga sekarang ia dapat membeli tanah, membangun rumah, daftar haji, mengumrohkan orangtua dan membeli sepeda motor.

“Dulu tujuh tahun saya jadi sales mainan anak-anak keliling di Purworejo, Magelang, dan Temanggung. Sambil jadi sales, di rumah juga iseng-iseng bikin kerajinan bersama istri seperti piring lidi, tas rajut, tas tali kur, dompet dari limbah bungkus kopi, serta panahan. Tapi yang paling laris itu panahan,” ujar Wahyudin saat ditemui Purworejonews di rumahnya, Sabtu (26/9).

Ia mengaku sejak Sekolah Dasar kelas IV mulai menyukai dunia kerajinan. Sejak kecil ia sering membuat mainan sendiri, seperti layang-layang, kandang burung, mobil-mobilan, dan sebagainya. Ia juga bersyukur memiliki istri yang kreatif berkarya seperti dirinya. 

Sejak akhir 2018, Wahyudin memutuskan untuk berhenti sebagai sales dan mulai menekuni produksi panahan. Mulanya segala komponen panahan diproduksi sendiri dengan meminjam alat-alat dari tetangga. Namun kini ia sudah memiliki alat produksi sendiri.

Wahyudin, otodidak

“Dulu semua buat sendiri mulai dari handle, busur, anak panah, dan lainnya. Tapi sekarang saya order kepada tetangga, bisa dibilang borongan lah,” kata Wahyudin.

Ketika ditanya alasannya, ia mengaku tidak ingin punya karyawan. Tenaga kerja cukup para tetangganya, dibuat di rumah mereka dan hasilnya disetor kan kepada Wahyudin. 

Selain itu untuk membuat setiap komponen secara mandiri, Wahyudin merasa kewalahan karena banyaknya permintaan pasar. 

“Sekarang saya tinggal merakit saja. Kalau dari tetangga kan masih bahan kasar. Nah saya yang menghaluskan dan mengecat,” ujarnya.

Untuk jenis produksi panahannya, kata Wahyudin, ia hanya memproduksi panahan untuk para pemula, bukan digunakan untuk profesional. Sebab menurutnya di Indonesia belum ada produksi panahan yang standar internasional, apalagi melebihi kualitas luar negeri. Menurutnya panahan yang dipakai di perlombaan kebanyakan impor dari luar negeri. 

Hasil produksi Wahyudin

“Saya punya satu set alat panahan produksi luar negeri. Itu saya jadikan sebagai acuan saja,” tambahnya.

Bahan yang digunakan pun beragam tergantung dari pesanan atau kualitas yang diinginkan. Namun biasanya handle dari kayu mahoni, busur sayap dari pipa pvc yang dalamnya diberi kayu, anak panah dari bambu, dan tali busur bow stringer yang dibeli secara online.

Panahan karya Wahyudin berukuran beragam mulai dari 120 cm sampai 140 cm. Sedangkan alat yang digunakan juga beragam, diantaranya amplas, bor, dan kompresor. 

“Satu panahan dirakit selama 15 sampai 20 menit. Sehari bisa produksi sampai 20 lah,” katanya sambil senyum.

Bapak dua anak ini menyampaikan penjualan dilakukan secara online dan offline. Secara online dengan merekrut para reseller, sedangkan offline para pembeli datang langsung ke rumahnya.

Rumah hasil usaha panahan

Ia bercerita sempat berjualan sendiri tanpa reseller, namun terganggu saat poduksi. 

“Sehari kan yang tanya bisa lima sampai 10 orang. Saking seringnya orang bertanya lewat Hp saya sering tidak bisa bekerja karna Hp bunyi terus dan membalas chat mereka. Akhirnya merekrut reseller,” ungkapnya.

Satu reseller yang aktif kata Wahyudin dapat menjual panahan 10 hingga 15 buah per hari. Satu set panahan dewasa yang terdiri atas satu busur panah, dua anak panah, satu tas anak panah atau guiver, satu face target, satu pelindung lengan tangan dihargai Rp 175.000 hingga Rp. 300.000. 

Sedangkan untuk anak-anak satu set dihargai Rp 100.000 dengan bonus anak panah. “Diatas Rp 300.000 juga bisa. Semakin mahal semakin bagus bahannya dan ukuran lebih besar.
Suami dari Marni itu menuturkan, kini tiap hari menyisakan 20 set panahan untuk stok. Dia juga memberikan jaminan atau garansi lama.

“Dulu pernah ada orang membeli, selang setahun patah. Orang itu minta ganti yang baru. Ya terima saja asal ongkir tanggung sendiri,” ceritanya. 

Wahyudin mengaku satu set panahan bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp 50.000 hingga Rp 55.000. Jika sehari terjual 10 set panahan, maka dalam sehari keuntungan bersih mencapai Rp 550.000. 

“Saya beli motor dari hasil keuntungan saya selama sebulan saja. Itu saya beli motor bekas Rp 17 juta,” sebutnya. (Fau)

Tinggalkan Balasan