Singgahlah di Warung Girli Kutoarjo, Nikmati Kelezatan Mangut Lele dan Buntilnya

PENGGEMAR kuliner tradisional di Purworejo hampir bisa dipastikan tidak asing dengan Warung Makan Girli di Kelurahan Semawung Daleman, Kecamatan Kutoarjo. Warung makan yang populer dengan menu utamanya mangut lele, buntil dan sambal cobek itu memang telah dikenal sejak puluhan tahun lalu.

Mangut lele dan buntil adalah jenis teman nasi yang banyak penggemarnya. Banyak warung makan yang menyajikan menu lauk dari daun talas yang digulung ini, salah satunya warung makan Girli (Pinggir Kali). Dinamakan Girli karena warung tepat terletak di pinggir kali Semawung.

Warung berbentuk joglo ini berdiri sejak tahun 1990 oleh almarhum Kasan (meninggal 2013). Sekarang warung makan Girli diteruskan oleh anak ketiganya, Surati (48). Ketika ditemui di warungnya, Purworejonews tidak berjumpa dengan Surati, melainkan anak tunggalnya, Eka Dana (24).

Kepada Purworejonews, Eka mengaku setahun ini sedang belajar mengurus warung makan Girli. Ia juga menceritakan bangunan warung sudah berdiri sejak 1960 yang tak lain bekas rumah kakeknya. 

Niki kan wonten kalih bangunan, biyen simbah kalih ibu kula manggen teng mriki sekalian marung. Tapi ibu bapak bangun umah, mriki mboten ditinggali malih, cukup marung mawon (Ini kan ada dua bangunan, dulu nenek dan ibu saya tinggal dan membuka warung di sini. Tapi ibu bapak membangun rumah, di sini sudah tidak ditempati, untuk warung saja),” ucap Eka.

Setiap pagi Eka mengambil bahan makanan di pasar. Dibantu oleh lima karyawannya, Duwiah (55), Turasmi, Sakira, Khotimah, dan Icuk, memasak semua jenis makanan menggunakan kayu bakar.

Mangut lele dan sayur jowo, rasanya beda

Menurut Duwiah, memasak menggunakan kayu bakar akan menghasilkan masakan yang lezat dan lebih tahan lama. 

Mriki mboten nate masak ngagem gas, ket jaman simbah ngagem kayu. Mboten tanek nek ngagem gas (Disini belum pernah memasak menggunakan kompor gas, sejak jaman simbah (Kasan) selalu menggunakan kayu bakar. Tidak merata matengnya kalau pakai gas),” jelas Duwiah.

Warung makan yang dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 pagi sampai 17.00 ini memasak menggunakan cara tradisional. Rempah-rempah dihaluskan menggunakan ulekan leyeh muthu. Menyiapkan santan kelapa dengan diparut manual. Bumbu yang digunakan pun serba alami tanpa bahan pengawet.

Buntil, misalnya, dibuat dari daun talas yang digulung, serta diisi parutan kelapa, ikan teri, dan cabai dengan dilumuri kuah dari cabai, garam, bawang serta rempah-rempah lainnya. 

Duwiah mengatakan, merebus buntil dalam kuah juga menggunakan seikat daun salam. Proses pembuatan buntil selama enam jam. Hasilnya, rasa buntilnya berbeda dari buntil lainnya.

Eka Dana, sang pelanjut

Eka selain menanam sendiri pohon talas, juga memesan kepada petani. Ia mengaku daun talas yang digunakan tidak sembarangan, melainkan daun talas jenis bonok dan Bogor yang menurutnya jika dimakan tidak menimbulkan rasa gatal di tenggorokan.

Selain buntil, warung makan Girli juga menjual masakan favorit mangut lele. Satu buntil dijual seharga Rp 3.500 sedangka mangut lele Rp 8.000.
Warung makan Girli juga menyajikan masakan rumahan Jawa lainnya seperti sayur oseng pare, tahu tempe bacem, pepes ikan bawal dan nila, ayam kampung panggang, sambal hijau, dan masih banyak lainnya. Penyajian makanan dilakukan dengan model prasmanan.

Pengunjung setiap hari dapat mencapai 200an dari berbagai kalangan mulai dari pejabat, guru, petani, ibu rumah tangga, bahkan anak sekolah. Eka mengaku kadang halaman parkir tidak mencukupi. 

Selama pandemi covid-19 pengunjung turun drastis menjadi sekitar 50 persen dibanding hari-hari biasa. Namun, sekarang menurutnya pengunjung mulai kembali normal.

Eka mengaku dirinya dan kedua orangtua sama sekali tidak kepikiran untuk pindah tempat atau merenovasi bangunan warung makan Girli.

Salwi Anto, penggemar mangut lele

Menurut Eka, bangunan warung yang sederhana dan legend ini menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Harapan Eka jika kelak menjadi penerus pengelola warung makan Girli, semoga warung semakin terkenal dan semakin banyak pengunjung. Ia juga menginginkan tempat makan lesehan.

Seorang pengunjung yang sedang menyantap mangut lele, Sutoyo (56) mengaku ia jadi pelanggan Girli sejak awal berdirinya. Menurutnya masakan yang dibuat selalu cocok di lidah. Rasa pedas dari buntil dan mangut lelenya cukup, sehingga membuat nyaman di lidah.

Selain Sutoyo, Salwi Anto (40) seorang guru SMK swasta di Kutoarjo mengaku baru pertama kali mencicipi buntil warung makan Girli.

Menurutnya buntil warung makan Girli memiliki rasa yang beda dari tempat lain. Bumbu dan matangnya terserap merata. “Pelayanan di sini juga ramah,” ucapnya. (Siti Fauziah)

Tinggalkan Balasan