Jika ke Pituruh, Sempatkan Singgah ke Warung Sate-Gule Partodrono

PITURUH, Anda termasuk sate-gule maniak? Jika Anda ke Pituruh, singgahlah ke warung Sate Gule Partodrono yang beralamatkan di selatan Pasar Pituruh. Warung satu gule Partodrono cukup populer di Pituruh dan sekitarnya. Selain sate dan gule, warung Partodrono juga menyajikan oseng kambing muda. 

Ketika berkunjung ke warung Partodrono, Purworejonews sudah tidak menjumpai Partodrono atau pun istrinya. Yang dapat ditemui hanyalah keponakan Partodrono yakni Yem (54).

Mbah Parto lan Mbah Putri mpun seda pitung tahun kepungkur (Mbah Parto dan Mbah Putri sudah meninggal tujuh tahun yang lalu),” ungkapnya.

Yem menyatakan Sate Gule Partodrono sudah berdiri sejak 1960. Dan sekarang warung telah diwariskan kepada putra pertama, Waliyah (60). Sedangkan putra kedua, Ngadiyah, menurut Yem tidak mampu karena sakit. Ketika ingin menemui Waliyah, Yem mencegahnya.

Ngapunten, Mbak Waliyah tasih mboten saget dituweni (Maaf, Mbak Waliyah sedang tidak bisa ditemui),” katanya.

Yem, sang penerus

Semenjak meninggalnya Parto, Waliyah harus meneruskan usaha kedua orangtuanya. Dibantu oleh tiga karyawannya, diantaranya Yem dalam sehari dapat menyembelih satu ekor kambing muda.

Disebut oleh Yem, kambing yang dipotong bermacam-macam, seperti kambing gembel atau kambing Jawa. 

Wedhuse niku bebas, sing penting enom kalih lemu. Mriki sampun langganan kaleh bakule ket zaman Mbah Parto (Kambingnya itu bebas, yang penting muda dan gemuk. Di sini sudah langganan dengan penjualnya sejak zaman Mbah Parto),” jelasnya.

Menurut Yem, dalam sehari satu kambing dapat menghasilkan 65 porsi sate, 30 oseng, dan 60 gule. Sedangkan modal yang dikeluarkan hampir mencapai Rp 3 juta. Omsetnya sehari sebesar Rp 5 juta.

Kan wedhuse mawon setunggal regine Rp 15 juta dumugi Rp 2 juta,” ungkapnya.

Satenya maknyus

Ketika ditanya tarif, Yem menyebut satu paket sate dan oseng yang terdiri atas sate atau oseng, nasi, dan minum teh atau jeruk seharga Rp 40.000. Untuk paket gule dihargai Rp 35.000.

Meski demikian, menurut Yem menu yang disukai pengunjung hampir sama yaitu gule, sate, dan oseng. Warung setiap hari buka sejak pukul 06.00 pagi hingga 21.00 malam.

Proses memasak semua menu, kata Yem sejak dulu selalu menggunakan kayu. Selain mengikuti tradisi Parto, juga karena takut gas kompornya meledak.

Sate oseng dimasak nek wonten sing pesen, nek gule sampun ket isuk. Wedhuse kan disembelih subuh (Sate oseng dimasak kalau ada yang pesan, kalwu gule sudah sejam pagi. Kambingnya kan disembelih sejak subuh),” sebutnya.

Di sisi lain, Yem mengaku telah lama bekerja bersama Parto. Sedari dirinya kecil sudah dekat dan membantu jualan.

Gule kambing muda

Wah, kula niki sampun dangu sanget kaleh Mbah Parto. Ket zaman dereng gadhah bojo, ngasi gadhah putu gangsal (Wah, saya ini sudah lama sekali ikut Mbah Parto. Sejak zaman belum memiliki suami, sampai punya lima cucu,” ungkapnya sambil senyum.

Ia menyampaikan warung sudah tidak ramai seperti saat dipimpin Parto. Menurutnya di daerah Pituruh dan sekitarnya sudah banyak penjual sate kambing muda, gule, dan tongseng. 

Biyen niku pas kalih Mbah Parto sedinten niku kalih dugi tiga wedhus sing disembeleh. Selasa kalih Jumat simbah mesti dodolan teng Pasar Pituruh (Dulu itu waktu sama Mbah Parto sehari bisa dua atau tiga kambing uang dipotong. Selasa dan Jumat simbah pasti jualan di Pasar Pituruh),” jelasnya.

Dengan wajah tampak sedih, Yem menuturkan bahwa pandemi membuat warung yang sudah sepi dibandingkan saat dipimpin Parto menjadi semakin sepi.

Ia menyebut satu kambing yang disembelih tidak mesti habis selama pandemi. Selain itu, dulu musim lebaran Idul Fitri sehari menyembelih hingga tujuh ekor. Namun sekarang hanya dua ekor. 

Keluarga Suryanto, pelanggan setia

Corona nggih nambah sepi sanget. Wedhus setunggal ngantos kalih dinten (Corona ya jadi tambah sepi sekali. Satu ekor kambing bisa sampai dua hari),” pungkasnya.

Sementara itu, tampak sepasang suami istri dan putrinya, Suryanto, Mia, dan Silva sedang menyantap sate, gule, dan oseng Partodrono. 
Menurut Suryanto rasa gule dan osengnya beda dari yang lain.

Mpun langganan dangu, puluhan tahun (Sudah langganan lama, puluhan tahun),” ungkap warga Desa Brengkol, Kecamatan Pituruh itu. 

Mia menuturkan lebih suka oseng dan gulenya. Menurutnya bumbu oseng termasuk pedasnya cocok di lidah.

“Gulenya mantap, santennya kental. Anak saya yang suka satenya,” ujarnya. (Fau)

Tinggalkan Balasan