Sego Koyor Pak Supri, Ikon Kuliner Purworejo: Buka Tengah Malam, Limited Edition

BERBICARA soal kuliner, Kabupaten Purworejo memiliki aneka makanan khas yang bisa dinikmati. Mulai dari clorot, kue lompong, sampai warung-warung mblusuk yang memiliki cita rasa istimewa. Namun, ada satu tempat kuliner yang unik dan sangat populer. Sego Koyor Pak Supri, tempat kuliner tengah malam Purworejo yang selalu membuat penasaran pembelinya.

Sekilas, nama masakan Sego Koyor mungkin masih terdengar asing. Berbeda dengan gajih (lemak) dan jeroan, koyor merupakan urat sapi. Makanan yang memiliki rasa yang gurih, manis dan kenyal memberikan keistimewaan tersendiri bagi penikmatnya.

Di Sego Koyor Pak Supri, nasi koyor dihidangkan saat masih panas dengan daun pisang sebagai alas, dan gorengan sebagai pelengkap.

Yang membuat Sego Koyor Pak Supri ini unik dan istimewa adalah jumlahnya yang “limited edition” dan mulai dijual saat tengah malam, tepatnya pukul 23.45. Maka tak heran, banyak pecinta kuliner di Purworejo bahkan dari luar daerah datang dan rela mengantre sebelum Pak Supri datang.

Lokasi Sego Koyor Pak Supri yang viral ini berada di depan Pasar Baledono, Purworejo. Dari gang sempit, tengah malam Pak Supri muncul dengan berjalan memikul datangannya.

Pukul 23.45 Pak Supri muncul dari gang sempit memikul dagangannya

“Kalau mau beli harus dateng sebelum buka. Kalau enggak bisa-bisa udah nggak dapet nomer antrean”, kata Rohman yang merupakan salah satu pelanggan setia.

Sego Koyor Pak Supri merupakan usaha keluarga yang sudah turun temurun sejak 20 tahun lalu. “Saya hanya meneruskan ibu saya,” ucap Supri.

Supri menceritakan, saat pertama kali berjualan dia buka pagi-pagi. Pembelinya orang-orang yang akan berangkat ke pasar. Lalu lama-kelamaan banyak permintaan untuk buka malam saja.

Lha do njaluk buka bengi, yo sisan tak gawe tengah wengi to hahaha“, ujar Supri sambil tertawa.

Ditanya soal bumbu rahasia yang membuat sego koyor ini istimewa, Supri dengan lugas menjawab “Tidak ada bumbu rahasia. Semua orang bisa membuat”, katanya.

Tiap malam Pak Supri selalu dikerumuni pelanggan

Menurutnya, resep olahan koyor sudah banyak dan tidak ada yang khusus. Namun, imbuhnya, soal enak dan disukai masyarakat tergantung cara meraciknya. “Ha kui lak yo soal pengalaman hehehe,” lagi lagi Supri bergurau.

Untuk mengetahui apakah sego koyor ini bakal buka atau tidak, cukup mudah. Jika pukul 20.00 ada meja bolong di tempat Supri berjualan, berarti sego koyor buka. Itu juga merupakan strategi marketing yang dilakukan oleh Supri agar pembeli semakin penasaran.

Supri mengaku, dari awal memang sengaja membuat sego koyor dalam jumlah terbatas. Sekali angkut, Supri biasa membawa hanya untuk 150 porsi. Itupun selalu sold out (habis terjual) tidak sampai 30 menit. “Memang tidak ada niat untuk menjual dengan jumlah lebih banyak, segitu saja sudah cukup,” ungkapnya.

Tak heran jika banyak pembeli mulai dari kalangan muda, tua, bahkan ibu-ibu berdaster yang rela keluar tengah malam namun tidak kebagian sego koyornya.

Bagi Supri, kenikmatan berjualan itu katanya ya saat banyak pembeli datang walaupun sudah habis.

Anak-anak muda rela menunggu untuk bisa menyantap sego koyor Pak Supri

Kecelik ki malah seneng aku, lha kui nikmate wong dodol. Nek kebagian kabeh malah cepet bosen to, nah nek kecelik sesok bakal rene meneh hahaha“, ungkap Supri dengan wajah sumringah.

Tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menikmati kuliner “limited edition” ini. Cukup dengan Rp 10.000- Rp 15.000 sudah bisa mendapat sego koyor lengkap dengan ayam suwir atau kepala ayam sesuai selera. Disediakan juga tempe tepung hangat sebagai pelengkap.

Walaupun sedang masa pandemi, pelanggam setia sego koyor tidaklah berkurang. Bahkan Supri mengaku, ada atau tidak ada pandemi, tidak berpengaruh bagi usahanya. “Pandemi ora pandemi, ora pengaruh. Tetep sold out,” katanya.

Di akhir obrolan sebelum Supri kembali ke rumahnya sekitar 100 meter di dalam gang depan pasar Baledono, dia berpesan.

Aku dodolan ora nggolet sugih. Kalau mencari kaya pasti tidak ada cukupnya. Berjualan sing penting cukup, lillahita’ala. Wis yo tak mulih,” pungkasnya. (Alam Reformasi)

Tinggalkan Komentar