Sederhana Tapi Luar Biasa, 2 Siswi SMAN 1 Purworejo Merakit Mikroskop Digital Seharga Rp 20 Ribu

PURWOREJO, Satu lagi karya inovatif siswa siswi SMAN 1 Purworejo yang berhasil ikut dalam Lomba Krenova Kabupaten Purworejo tahun 2022. Kedua siswi SMAN 1 yakni Acintya Arindratanaya (XE) dan Maulidia Zulfa Kartika (XF) membuat karya inovatif yang diberi nama
Midirase, mikroskop digital rakitan sendiri.


Kepada Purworejo News, keduanya mengaku menciptakan Midirase karena keprihatinan mereka saat harus melakukan praktikum di laboratorium mikroskopnya harus bergantian. Disamping harganya yang mahal, mereka juga harus ekstra hati-hati saat menggunakannya.

Hal itu menyebabkan mereka mengalami kesulitan saat harus memfofo obyek benda yang akan diteliti. “Akhirnya kami berfikir untuk membuat mikroskop sederhana tapi mempunyai fungsi yang sama,” kata Acintya beberapa waktu lalu.

Tak tanggung-tanggung, dua siswi yang bergabung dalam KIR sekolah itu membuat dua seri mikroskop sekaligus. Seri 1 terbuat dari cakram CD yang berfungsi untuk meletakkan preparat, penjepit bulu mata untuk revolver, mur, lampu senter, serta papan kayu. Adapun Seri 2 terbuat dari wadah CD, penyangga tripod, dan X banner.

Cara kerjanya, jelas Acintya, siswa cukup mengaktifkan aplikasi endoskop dengan memakai kabel USB yang disambungkan melalui HP. Hasilnya, obyek bisa langsung diamati tanpa menggunakan kamera karena sudah terhubung langsung ke aplikasinya.

Acintya dan Maulidia, dua siswi penggagas Midirase

Disebutkan, kedua alat tersebut sudah diuji coba. Hasilnya valid dengan perbesaran hingga 10 kali, meski belum sebesar mikroskop “asli”. Obyek yang pernah diamati menggunakan Midirase yakni semut dan irisan daun bawang.

Dengan biaya yang lebih murah yakni hanya mencapai Rp 20 rjbu untuk Midirase Seri 1 dan Rp 50 ribu untuk Midirase Seri 2, mikroskop ini juga lebih ringkas dan ringan sehingga mudah dibawa atau portabel.

“Jadi kalau ada tugas lab bisa lebih personal,” kata Acintya. Disamping itu juga proses pembuatan Midirase yang menurut keduanya hanya butuh waktu sehari.

Meski diakui bahwa perbesaran obyek belum maksimal namun baik Acintya maupun Maulidia merasa bersyukur hasil karya mereka bisa membantu teman-temannya menyelesaikan tugas laboratorium.

“Paling tidak bisa menjadi solusi bagi mereka yang kesulitan mengakses alat mikroskop yang sangat mahal dan hanya bisa dipakai di laboratorium. Alat ini bisa dimiliki secara pribadi,” pungkas Acintya. (Dia)

Tinggalkan Komentar