Respon atas SE Dindikpora: SMPN 2 Pilih Belajar Daring, SMPN 33 Tatap Muka

PURWOREJO, Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olah Raga Kabupaten Purworejo nomor 425/0274/2021 tentang Pengaktifan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan konsultasi terprogram, ditanggapi beragam oleh pihak sekolah, khususnya SMP di Purworejo.

Surat tertanggal 11 Februari yang ditandatangani Sukmo Widi Harwanto itu menyebutkan pelaksanaan KBM dengan berbagai model dan pendekatan. Yakni melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) dalam jaringan (daring), pembelajaran luar jaringan (luring), serta konsultasi terprogram bila daring maupun luring tidak dapat memenuhi kebutuhan peserta didik atau orang tua siswa.

Terkait hal tersebut, SMPN 2 Purworejo menerapkan sistem daring. Saat dikunjungi, beberapa guru sedang melakukan tatap muka secara daring melalui google meet. Hal itu dilakukan di kelas masing-masing sesuai jadwal yang ditetapkan.

Saat itu, Drs Paijo, guru Matematika SMPN 2 Purworejo, sedang mengajar di kelas 8B. Ia pun berkomunikasi seolah-olah sedang mengajar di hadapan puluhan siswanya, sambil duduk di kursi guru di pojok kelas menerangkan materi pelajaran. Dirinya juga mengabsen siswa satu persatu.

Belajar tatap muka

Demikian pula dengan beberapa guru lain di kelas yang berbeda. Kepala SMPN 2 Purworejo, Yosiyanti Wahyuningtyas, S.Pd, M.Pd mengatakan, dirinya mewajibkan semua guru untuk melakukan pembelajaran daring dengan menggunakan google meet atau zoom.

“Selain mengabsen siswa dua kali dalam setiap pertemuan, kami juga mewajibkan siswa memakai pakaian lengkap dari ujung rambut hingga ujung kaki,” ucap Yosi.

Hal itu dilakukan, ucap Yosi, untuk mendisiplinkan siswa sebagai salah satu wujud pembentukan karakter. Selain itu, guru juga djwajibkan melaporkan kepada kepala sekolah terkait proses KBM yang sudah dilakukan. Kegiatan tersebut dilakukan mulai hari ini hingga tanggal 27 Februari mendatang.

Yosi menilai, sistem daring maupun luring sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan daring yakni guru tidak perlu mengulang dua kali untuk penyampaian materi karena semua siswa mengikuti pelajaran di waktu yang sama. Sedangkan kekurangannya, siswa tidak maksimal dalam menyerap materi secara 100%.

Belajar daring, guru hanya menghadapi bangku kosong

Lain halnya dengan SMPN 33 Purworejo. Di sekolah yang terletak di Jalan Tentara Pelajar itu siswa tetap mengikuti pelajaran tatap muka khusus kelas 8 dan 9. “Dimulai pukul 07.00 hingga pukul 11.00,” kata Kepala SMPN 33 Dr Nikmatur Rohmah, S.Pd, M.Pd saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (15/2).

Menurutnya, pertemuan tatap muka atau konsultasi terprogram sangat penting, mengingat kelas 8 berada pada tahap Assesmen Kompetensi Minimal (AKM). Sedangkan kelas 9 seiring dengan pemberian les tambahan untuk persiapan materi ujian sekolah.

“Sebelumnya kami sudah menerapkan sistem daring. Juga kami isi dengan kegiatan in house training bagi guru SMPN 33 berupa penerapan pembelajaran di masa pandemi. Kami juga memfasilitasi siswa yang tidak memiliki akses internet untuk belajar di laboratorium komputer ,” imbuhnya.

Terlepas dari kedua pilihan tersebut, intinya adalah untuk menjaga kondusifitas selama masa pandemi Covid-19 sesuai dengan kapasitas sekolah masing-masing. Prinsipnya mendapat persetujuan dari orang tua siswa dan diterapkan sesuai prokes. (Dia)

Tinggalkan Komentar