Reparasi Jam “Sari” Purworejo: Melegenda Sejak Tahun 1968, Eksis Hingga Kini

PURWOREJO, Reparasi Jam Sari. Tempatnya hanya berukuran kios kecil di timur Stasiun Purworejo, tepatnya di Jalan Kolonel Sugiyono 96, Suronegaran. Tapi kios yang telah ada sejak 54 tahun lalu itu hingga kini masih eksis sebagai tempat reparasi jam paling melegenda di Purworejo. Nama Sari merupakan singkatan dari Saridjo, sang pemilik kios reparasi jam generasi pertama.

Generasi berikutnya, yakni Sugeng Riyadi Widhodho (53) merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Sugeng merupakan anak laki-laki satu-satunya pasangan Saridjo dan Legirah yang meneruskan usaha reparasi jam Sari hingga kini.

Saat ditemui Purworejo News pada Sabtu (19/2) sore, Sugeng menyebutkan, selain bapaknya, dahulu ada juga servis jam milik Pakdenya yakni Amat Sahri. Namanya reparasi jam A Sahri. Letaknya di sebelah timur Gedung Kesenian (dahulu Bioskop Bagelen), tepatnya di depan  kantor PMI Purworejo.

Sugeng menceritakan, bapaknya yang asli Magelang mulai merantau ke Purworejo tahun 1958. Saat itu Pak Sari ikut Amat Sahri, kakaknya. Sepuluh tahun kemudian, yakni tahun 1968 Pak Sari membuka sendiri kios reparasi jam dengan satu orang pegawai yakni Pak Darmo.

Saridjo dan Legirah, generasi pertama

“Waktu itu Bapak hanya khusus mereparasi jam, dibantu gerinda ini yang umurnya sudah lebih dari 50 tahun,” kata Sugeng sambil menunjukkan sebuah gerinda kuno yang terbuat dari kayu. Sugeng pun mempraktekkan gerinda yang masih sering digunakan sebagai perlengkapan kerjanya.

Sugeng mengenang, ketertarikan membantu ayahnya mereparasi jam yakni sejak dirinya masih duduk di bangku SD di tahun 1982. “Waktu itu kalau membantu Bapak saya dapat bayaran,” kenangnya.

Keterlibatannya menjadi “pewaris tunggal” merupakan suatu hal yang tidak direncanakannya.

“Sebenarnya waktu itu saya ingin kuliah di tahun 1990. Tapi karena tidak diterima di PTN akhirnya saya membantu Bapak,” ucap Sugeng.

Pak Iyik, spesialis jam kuno

Di saat dirinya ingin mencari pekerjaan di luar, secara implisit bapaknya merasa keberatan. Dituturkan Sugeng, saat mau cari kerja, ia “digendoli” bapaknya dengan ucapan seperti ini, “Yo kono nek meh golek gawean nang njobo. Tapi nek ono opo-opo ojo gelo yo“.

Akhirnya Sugeng memantapkan diri menekuni profesinya. Tahun 1991 pak Darmo yang sudah sepuh diganti sepupu Sugeng yakni Pak Iyik (66) yang sudah berpengalaman sejak tahun 1973.

Tiga tahun kemudian Sugeng secara penuh menggantikan peran Bapaknya yang mulai didera sakit stroke. 

Tujuh tahun kemudian, tepatnya tahun 1998 Pak Sari meninggal di usia 64 tahun. Tinggalah Sugeng bersama pak Iyik yang meneruskan usaha reparasi jam Sari.

Sugeng dan gerinda kesayangannya

Sugeng menuturkan, dirinya berbagi peran dengan Pak Iyik. 

“Kalau Pak Iyik spesialis mereparasi jam kuno dan yang rumit-rumit. Saya bagian menganalisa dan mengganti baterai jam,” terangnya.

Jam mekanik termahal yang pernah ditangani yakni merk Omega dan Mido. Sedangkan jam dengan baterai yakni merk Tag Heuer seharga Rp 28 juta. Dirinya juga beberapa kali dipanggil untuk memperbaiki jam lemari kuno (grandfather clock) oleh pemiliknya.

Diceritakan Sugeng, banyak jam yang diservis belum diambil si empunya. Beberapa bahkan sampai bertahun-tahun. Pak Iyik pun memperlihatkan puluhan jam tangan yang belum diambil empunya.

Kios Reparasi Jam Sari

Meski begitu Sugeng tak pernah sekalipun menjual barang yang tidak diambil pemiliknya itu meski sudah melewati batas perjanjian. Hal itu menurutnya, adalah wasiat dari Bapaknya untuk tidak mengambil yang bukan haknya.

Selama ini Sugeng selalu berpikir positif terhadap pemilik jam yang tak kunjung mengambil barang miliknya. “Mungkin mereka lupa atau tidak sempat,” begitu menurutnya.

“Pernah kejadian ada jam dinding tidak diambil selama lima tahun. Suatu ketika tanpa sengaja sang ayah yang dulu menyuruh anaknya untuk mengambil jam tersebut datang. Rupanya si bapak yang berasal dari Kalimantan mengira jam tersebut sudah diambil oleh anaknya,” tutur Sugeng.

Terhadap konsumennya pun Sugeng selalu berusaha jujur dan transparan, seperti pesan mendiang bapaknya. Itulah sebabnya bersama Pak Iyik ia mereparasi jam di depan, agar dapat dilihat langsung oleh konsumennya. Jadi mereka dapat mengetahui langsung prosesnya.

Sugeng Sang Penerus

Pelangganya pun, kata Sugeng, sebagian merupakan generasi kedua. Artinya, kala orang tuanya mereparasi jam waktu itu, mereka ikut serta. Jadi mereka menjadi generasi penerus orang tua mereka mereparasi jamnya sekarang.

Diakui Sugeng, kebanyakan mereka yang datang adalah untuk mereparasi jam atau sekedar ganti baterai. Meski saat ini Sugeng melengkapi kiosnya dengan menjual aneka jam tangan dan jam dinding mulai harga Rp 30 ribu hingga Rp 250.000. Selain itu juga kacamata fantasi maupun kacamata baca.

Sugeng pun tengah menekuni pembuatan lampu emergency berbahan baku limbah mesin jam yang dimodifikasi. Ia pun memperlihatkan beberapa lampu meja yang dijual seharga Rp 25.000.

Diakui Sugeng, kedua putranya yakni M Hatta Prayoga (20) dan Hilmi Pramono Adi (18) tidak berminat meneruskan profesinya.

“Tapi saya tidak akan memaksakan keduanya untuk seperti saya. Walaupun mereka juga saya ajari mereparasi jam dinding,” ungkapnya.

Sugeng tetap setia menekuni profesinya. Sambil menunggu kios sekaligus rumah yang buka mulai pukul 10.00 hingga 20.00, Sugeng mulai mengembangkan usaha baru membuat lampu emergency di tengah gempuran teknologi jam yang lebih canggih. (Dia)

Tinggalkan Komentar