Rencana Dibuka Kembali Pembelajaran Tatap Muka


Oleh: Isty Khazizah

SUDAH lebih dari setahun sejak wabah Covid-19 terjadi di seluruh pelosok tanah air, khususnya di Indonesia, banyak mahasiswa dan pelajar yang masih mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Tentu, lamanya penerapan PJJ akan berdampak negatif bagi mahasiswa.

Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menilai PJJ ini bisa berdampak negatif dalam jangka panjang. Risiko siswa mengalami putus sekolah juga akan meningkat karena anak-anak terpaksa membantu keluarganya dalam krisis keuangan saat terjadinya pandemi.

Tidak hanya itu, efek lainnya antara lain penurunan prestasi akademik, kekerasan terhadap anak, dan risiko eksternal lainnya. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Selain itu, terdapat banyak isu krusial di bidang pendidikan, salah satunya terkait persiapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada Juli 2021 mendatang. Pada saat yang sama, pemerintah juga berencana akhir Juni 2021 untuk memvaksinasi hingga 5,5 juta guru dan dosen terhadap Covid-19.

Pemerintah berharap setelah vaksinasi, sekolah akan dibuka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Dijelaskan Nadiem, sejak Januari 2021, penentu PTM secara terbatas merupakan hak prerogatif pemda. Pada awal tahun sudah diperbolehkan PTM secara terbatas. Hal itu tentu mengacu pada ketentuan PTM yakni unntuk daerah yang termasuk zona hijau dan kuning dari sebaran Covid-19 sudah diperbolehkan untuk menggelar PTM.

Penulis : Isty Khazizah

Namun, sejauh ini pembukaan sekolah tergantung keputusan pemerintah daerah masing-masing. Melalui rencana diadaknnya vaksinasi, Mendikbud menegaskan pihaknya berupaya mempercepat dilaksankannya PTM di sekolah.

Oleh karena itu, penyelenggara satuan pendidikan harus memastikan terlaksananya prosedur protokol kesehatan, seperti penerapan 3M yang meliputi memakai masker, menjaga jarak dan membatasi jumlah siswa, sehingga diberlakukan sistem shift harus dilaksanakan.

Namun, pemerintah masih dilema dengan pandemi Covid-19 saat ini, terutama terkait dengan penyelenggaraan kegiatan pendidikan di semua jenjang pendidikan. Pasalnya, wabah Covid-19 di negara belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Masalah utama pendidikan dapat diatasi dengan belajar di rumah yang merupakan salah satu tindakan saat pandemi Covid-19. Padahal, pendidikan tidak hanya memberikan keamanan dan perlindungan, tetapi juga memberikan harapan bagi masa depan peserta didik.

Kekhawatiran pada pembukaan sekolah tidak hanya disebabkan oleh mutasi virus baru. Orang tua juga belum yakin apakah pembelajaran tatap muka akan aman, karena siswa hingga saat ini belum bisa divaksinasi.

Di sektor pendidikan tinggi, banyak kampus menghimbau mahasiswanya untuk mendapatkan vaksin sebelum melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM). Sekolah yang telah menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM) tidak menerapkannya setiap hari, melainkan dua hingga tiga hari dalam seminggu.

Meski begitu, harus sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam aturan (sekolah). Pada kenyataannya, di lapangan sudah banyak guru yang merasa kangen dengan para murid, karena selama adanya pandemi Covid-19 pembelajaran dilakukan secara daring. Selain itu guru dan siswa banyak terkendala dengan adanya sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).**

Penulis adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Purworejo. Lahir di Purworejo, 9 April 2000

One comment

  1. Turun kelapangan, jangan hanya tinggal diruang ber AC, makanya imun fisik tubuh lemah. Tanpa adanya sekolah tatap muka, Indonesia MATI PENDIDIKAN, sedangkan tempat hiburan, pasar semuanya ramai. Apa sih maunya pemerintah, ingin membodohkan masyarakat, biar kita mudah di jajah bangsa lain. Coba tatap muka, aman.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *