Regruping SDN Gesikan Ditolak Warga, Kadindikbud Purworejo Tetap Bertahan

PURWOREJO, Baru sekitar enam bulan menjabat sebagai kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Purworejo, Wasit Diyono telah digoyang berbagai masalah. Setelah sebelumnya dikecam akibat tindakannya yang memarahi siswa di salah satu sekolah, kali ini Wasit didatangi puluhan perwakilan orang tua dan tokoh masyarakat yang memprotes regruping SDN Gesikan Kecamatan Kemiri.

Kedatangan mereka ke kantor Dindikbud di Jalan Mayjen Sutoyo pada Rabu (14/9) adalah untuk menanyakan kepastian jawaban atas regruping yang dilakukan pihak Dindikbud kepada SDN Gesikan.

Melalui perwakilan wali murid dan tokoh masyarakat, mereka tetap menuntut agar regruping SD Gesikan dibatalkan karena dinilai menyalahi ketentuan. Disebutkan, saat ini jumlah siswa di SD Gesikan sebanyak 66 orang, sehingga tidak memenuhi salah satu syarat regruping yakni kurang dari 60 siswa.

Mereka pun membacakan percakapan WA dengan pihak Dindikbud bahwa dari Dinas (SDN Gesikan) belum dihapus dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Tapi Wasit bersikukuh bahwa SDN Gesikan sudah dihapus dari Dapodik.

Warga Desa Gesikan yang mendatangi Kantor Dikbud menyampaikan protes

Meski berkali-kali “diserang” dengan berbagai protes, Wasit menyatakan bahwa apapun yang terjadi pihaknya akan mengamankan peraturan bupati tentang regruping, termasuk SDN Gesikan.

“Meski begitu hasil pertemuan ini akan kami laporkan kepada pimpinan. Saya tidak bisa matur. Usulan memang dari dinas melalui Dapodik kecamatan, tapi penetapan bukan hak kami,” jawab Wasit dengan nada santai.

Pihak dinas pun bersikukuh tidak akan memberi guru di sekolah tersebut. Akhirnya
setelah sempat terjadi perdebatan dengan Wasit, mereka meninggalkan ruangan dengan kecewa. “Kepala dinas menelantarkan anak sekolah yang ingin belajar supaya lebih pandai,” teriak salah satu dari mereka.

Wasit Diyono, mengamankan peraturan bupati

Saat ditemui usai “didemo”, kepada media Wasit menegaskan bahwa regruping sudah melalui proses dengan hasil analisa di tingkat kecamatan yang ditindaklanjuti Dindikbud.

“Tanggal 6 September sudah dilakukan mediasi di tingkat kecamatan. Intinya sosialisasi anak-anak yang diregruping dimasukan ke dapodik sekolah yang dituju.
Kalau punya keinginan ke sekolah lain, silakan,'” jelas Wasit.

Sementara itu, kekecewaan masih menggelayuti Titi Lestari (35) salah satu orang tua yang anaknya sekolah di SDN Gesikan. Ia menyebutkan, anak-anak tidak mau pindah ke sekolah lain karena SDN Gesikan kualitasnya lebih baik dari sekolah yang dituju.

Menurutnya, pada saat sosialisasi diadakan tahun 2020 murid SDN Gesikan memang masih berjumlah 59 siswa. Tapi di tahun berikutnya termasuk tahun ini sebanyak 66 siswa. (Dia)

Tinggalkan Komentar