Rasanya Mantul, Cucur Menthul Mbah Paidah, Melegenda Sejak Tahun 1943

BUTUH, Kue cucur, panganan berbahan baku tepung beras campur terigu dan gula jawa berbentuk bulat dengan gunungan tebal di bagian tengah dan tipis di pinggirnya itu, memang bukan kudapan khas Purworejo. Tapi di Desa Andong RT 2 RT 3 Kecamatan Butuh, ada warganya yang memproduksi kue cucur sejak tahun 1943 hingga kini.

Dialah Mbah Paidah yang sudah meninggal di tahun 2009 dan mewariskan usahanya kepada anak dan cucunya yakni Mujilah (62) dan Gufron Maskuri (36). Cucur Menthul Mbah Paidah memang sudah melegenda di kalangan pecinta kuliner karena rasanya yang mantul alias mantap betul.

Ditemui di tempat produksi Cucur Menthul sekaligus rumah tinggalnya, Gufron yang merupakan generasi ketiga menuturkan, merk ‘menthul’ sebenarnya merupakan singkatan yang dikarang olehnya.

“Menthul singkatan dari men tekan anak turun langgeng. Itu juga merupakan doa dalam Bahasa Jawa yang berarti supaya langgeng (usahanya) sampai anak cucu,” kata Gufron didampingi istrinya, Koningah (37) pada Sabtu (28/5).

Terkait dengan dimulainya produksi kue cucur yang konon sejak tahun 1943, Gufron mengatakan, hal itu berdasarkan penuturan Mbah Paidah.

Mbah Mujilah sedang membakar cucur tengah malam

“Simbah pernah bercerita, waktu jualan di Pasar Kalianyar, lalu ada Belanda. Karena takut, Simbah kemudian bersembunyi di Pasar Blubuk (Desa Kaliwatubumi),” ucapnya.

Karena faktor usia, mulai tahun 1992 Mbah Paidah pensiun memproduksi langsung kue cucur. Tongkat estafet lalu diberikan kepada anaknya yakni Mujilah yang tak lain adalah ibu Gufron. Sedangkan Gufron mulai total menghandel bisnis keluarga tahun 2017.

Dituturkan, saat ini sudah ada berbagai varian cucur menthul dengan aneka warna. Selain rasa original yakni gula jawa (coklat), ada juga cucur wijen, moka, pandan (hijau), bunga telang (ungu), dan oman (hitam).

Warna cucur yang hitam berasal dari oman (batang padi) yang dibakar, abunya menghasilkan warna hitam dan disaring menjadi pewarna alami. Rupanya rasa oman inilah menurut Gufron, yang paling disukai.

Varian rasa tersebut, menurut Gufron merupakan inovasi yang dilakukannya. Juga ukuran, ada dua yakni standar dan mini yang diberinya nama cuminthul (cucur mini menthul).

Koningah bagian packing untuk diantar kepada pemesan

Adapun harganya, untuk ukuran standar dipatok Rp 1.800 per cucur dan Rp 1.300 untuk cuminthul. Cucur menthul menurut Gufron, bisa tahan sampai tiga hari pada suhu ruang.

“Ukuran cuminthul ini juga hasil dari inovasi mulai tahun 2018, supaya lebih elegan dan praktis saat dipacking. Biasanya cuminthul dipacking untuk oleh-oleh atau suvenir acara hajatan,” ujar Gufron yang menjadi pengurus UMKM Kecamatan Butuh itu.

Terkait produksi, Gufron menjelaskan, dalam sehari minimal 600 cucur dibuat dengan menghabiskan 10 kg tepung beras. Jumlah tersebut, katanya, semuanya sudah by order alias pesanan. “Jadi semua yang diproduksi langsung didistribusikan berdasarkan pesanan. “

Pada waktu sebelumnya, terutama saat Ruwahan atau sebelum puasa Ramadan, pesanan bisa mencapai 1.000 cucur atau menghabiskan 15 kg tepung. Demikian pula setelah lebaran.

Untuk proses produksi, Gufron menuturkan, sudah dimulai sejak pukul 01.00 dini hari. Hal itu karena setelah diaduk, adonan harus didiamkan lebih dahulu sekitar dua jam. “Supaya adonan mengembang alami dan kalis,” katanya.

Ghufron si pelanjut bisnis cucur keluarga

Tapi saat pesanan mencapai 1.000 cucur atau lebih, mereka harus lebih awal lagi bekerja, yakni mulai pukul 22.00. Dalam proses produksi, ada empat orang yang terlibat. Yakni Gufron, istrinya, serta kedua orang tuanya yakni Mujilah dan Musodik (67)

Meski sudah eksis sejak puluhan tahun lalu, tapi ternyata cucur Menthul Mbah Paidah baru terdaftar PIRT pada tahun 2018, tepatnya setahun setelah Gufron total menekuni bisnis warisan keluarga tersebut.

“Termasuk berbagai pelatihan saya ikuti. Hasilnya antara lain berupa inovasi terutama pada ukuran cucur dan packing agar lebih menarik,” tutur Gufron yang sebelumnya pernah menjadi koki di salah satu hotel di Yogya.

Ia pun merasa terbantu dengan teknologi saat ini. Dengan sumringah Gufron menuturkan sudah punya banyak reseler dan pelanggan.

Ghufron dengan latar belakang bangunan baru yang bakal jadi pusat produksi cucur

Meski begitu, masih banyak keinginan yang ingin diwujudkannya. Selain inovasi berupa toping pada cucur Menthul, Gufron ingin segera menyelesaikan pembangunan toko yang terletak di depan tempat tinggalnya saat ini.

“Insya Allah bisa selesai empat bulan lagi. Nantinya akan digunakan sebagai tempat produksi dan juga pemasaran berupa etalase untuk kue cucur yang bisa dibeli langsung tanpa order sebelumnya,” ucap Gufron.

Dengan omset mencapai hampir 30 juta per bulan, Gufron berharap bisa membuka cabang. Tujuannya, untuk memudahkan pelanggan serta efisiensi waktu pengiriman pesanan. Dirinya memang masih sering mengantar sendiri pesanan pelanggan hingga luar area.

“Monggo, untuk yang mau order di wilayah Purworejo bisa diantar minimal lima dus isi 10, bisa diantar,” kata Gufron. (Dia)

Tinggalkan Komentar