Purworejo 5 Terbaik Jateng dalam Penanganan Stunting

PURWOREJO, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah drg Widwiyono, MKes, mengatakan, BKKBN Jawa Tengah telah merekrut tenaga ahli yang ditempatkan di Kabupaten Purworejo untuk membantu percepatan penurunan stunting.

“Kabupaten Purworejo berada di posisi kelima terbaik tingkat Provinsi Jawa Tengah untuk persentase jumlah stunting dengan 15,7%, di bawah angka nasional 24% dan Provinsi Jawa Tengah di angka 20,9 %,” kata Widwiyono pada Koordinasi Teknis Pelaksanaan Percepatan Penurunan Angka Stunting, di Bappedalitbang Purworejo, Jumat (27/5).

Koordinasi dilakukan antara BKKBN Provinsi Jawa Tengah bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Purworejo dan Tim Percepatan Penurunan Stunting Kecamatan se Kabupaten Purworejo.

Acara dihadiri Wakil Bupati Purworejo Hj Yuli Hastuti, SH, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah drg Widwiyono, MKes, Kepala Bappedalitbang Sukmo Widhi Harwanto, SH, MM, perwakilan Universitas Muhammadiyah Purworejo serta instansi terkait lainnya.

Menurut Widwiyono, percepatan penurunan stunting difokuskan pada area pencegahan bukan pada pengobatan. Sehingga pendataan, pendampingan dan penyuluhan telah dimulai saat mendaftar sebagai calon pengantin hingga nantinya hamil dam melahirkan.

Wabup Yuli Hastuti, jangan lengah

“Kami punya data, di Kabupaten Purworejo dalam satu tahun ini akan ada kurang lebih 5.500  pendaftar nikah. Dari angka tersebut itu 20% diantaranya diprediksi wanitanya jika melahirkan berpotensi rawan stunting,” ujarnya.

Dijelaskan, angka 20% tersebut harus menjadi fokus kita untuk mencari yang masuk dalam kriteria rawan stunting dan dilakukan pendampingan.

“Kita siapkan dari provinsi anggaran Rp 3,5 miliar,” ungkapnya.

Wabup Yuli Hastuti mengatakan, penangananan stunting tidak hanya menjadi tugas dari satu-dua OPD dalam hal ini DinsosdaldukKB dan Dinas Kesehatan, tetapi menjadi tugas bersama semua OPD, didukung stake holder terkait, perguruan tinggi dan masyarakat.

Suasana rapat koordinasi teknis penanganan stunting

Menurut Wabup, prevelensi angka stunting di Kabupaten Purworejo tahun  2021 adalah 15,7 %  berdasarkan hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) dan target di tahun 2022 adalah 12,2 %. 

Secara nasional angka stunting Kabupaten Purworejo sudah cukup baik, akan tetapi tidak serta merta membuat kita lengah dan santai. 

“Saya minta semua bergerak, bersinergi secara optimal. Kerja keras dan kerjasama yang dimotori oleh Tim Percepatan Stunting yang sudah dibentuk dari tingkat Kabupaten, Kecamatan, Desa/Kelurahan, dan ujungnya pada Tim Pendamping Keluarga yang langsung berinteraksi dengan masyarakat. Saya yakin target 12,2% dapat kita wujudkan,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinsosdaldukkb Ahmad Jainudin, SIP mengungkapkan terdapat 28 desa di Kabupaten Purworejo yang menjadi lokasi fokus penurunan stunting. Di 28 desa tersebut terdapat paling sedikit 2 balita telah terlahir stunting. 

“Penanganan stunting juga menjadi fokus hingga di tingkat desa. Pada tahun 2020 sebesar Rp. 25.055.011.597 telah dianggarkan untuk stunting. Pada tahun 2021 naik menjadi Rp. 28.638.549.271  dan tahun 2022 ini masih dalam proses finalisasi yang kita harapkan akan terus bertambah untuk mengoptimalkan upaya penurunan stunting,” harapnya. (Nas)

Tinggalkan Komentar