PJJ Tak Cukup Bekali Siswa Ikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi

KUTOARJO, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dirasa tidak cukup untuk membekali siswa kelas 12 menempuh ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Pemberlakuan PJJ, yang sudah berlangsung satu tahun penuh tersebut dianggap belum bisa menjadi wahana yang memadai untuk terjadinya proses belajar mengajar.

“Yang saya dapatkan dari sistem PJJ di sekolah adalah file-file modul dan tugas yang dishare di google classroom. Saking banyaknya sampai saya kebingungan membukanya,” ujar Frizzky Jannafirra Adelia, siswa kelas 12 di salah satu SMA di Kutoarjo yang mengikuti bimbingan belajar di Bina Siswa Cendikia (BSC) Purworejo.

“Penjelasan guru melalui zoom meeting atau google meet kurang bisa dipahami. Selain ada keterbatasan interaksi, juga tidak semua guru bisa memaksimalkan media tersebut untuk mengajar siswanya,” tambahnya.

Di sisi lain, Salwianto, M.Pd, pengelola Bimbingan Belajar BSC Purworejo, mengatakan bahwa siswa kelas 12 yang ingin masuk PTN harus berjuang dan berlatih lebih.

Menurut Salwianto, dengan tidak adanya Ujian Nasional (UN), para siswa kehilangan moment pemanasan untuk betul-betul belajar. Padahal soal-soal ujian masuk PTN itu hanya lebih sulit satu tingkat di atas soal-soal UN. 

“Ditambah lagi sistem PJJ yang sudah pasti tidak bisa memberikan penjelasan materi secara tuntas,” ujar Motivator dan Trainner Bahasa Inggris yang mengelola bimbel di Kutoarjo dan Purworejo itu.

Sejumlah siswa peserta bimbel BSC

Dijelaskan Salwianto bahwa soal-soal ujian masuk PTN baik jalur Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) maupun jalur Ujian Madiri (UM) sebenarnya bisa didapatkan dengan mudah lewat buku-buku di pasaran atau internet. 

Tapi penting bagi siswa diajarkan untuk melogika dan menyelesaikan soal dengan cara-cara yang cepat dan mudah, karena durasi pengerjaan soal UTBK dan UM itu kurang dari satu menit per nomernya.

Sementara itu menurut Anisa Putri, selain tidak menerima soal-soal UTBK dari PJJ, motivasi ikut les di BSC karena sudah bosan belajar sendiri di rumah.

“Kalau di rumah sulit untuk fokus, karena sebentar-sebentar pasti buka WhatsApp, Facebook dan sosial media lain. Di sini bisa fokus karena sistem kelompok 4 sampai 6 siswa, dan terjangkau dengan uang saku saya, Rp 10 ribu per pertemuan,” jelas siswa dari salah satu SMA di Purworejo itu.

Shinta Kususmastuti, M.Pd, yang juga pengelola BSC, mengatakan bimbelnya tidak ditujukan untuk bisnis tetapi untuk berbagi motivasi dan mendampingi anak-anak yang ingin maju. 

“Selain dengan pengayaan online bimbelnya mengadakan tatap muka untuk konsultasi pembahasan soal dengan protokol kesehatan, sesuaidengan keinginan siswa,” jelas alumni UGM yang juga mengajar di SMK Institut Indonesia Kutoarjo itu. (**)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *