Perjalanan Letkol Inf Lukman Hakim: Berjuang dari Bintara, Kini Dipercaya Jadi Dandim Purworejo

SUARANYA LANTANG, tidak hanya di lapangan sebagai seorang Komandan Kodim 0708 Purworejo. Tapi juga lantang sebagai vokalis saat membawakan lagu-lagu milik God Bless (grup band yang sangat populer di era 1980an) yang jadi favoritnya. Dialah Letkol Inf Lukman Hakim, S.Sos, M.Si.

Hobi menyanyi Dandim Purworejo ke-27 itu rupanya sudah dimulai sejak dirinya masih duduk di bangku SMP. “Waktu itu saya tergabung dalam grup band Topan (sebagai vocalis) di Bojonegoro, Jawa Timur,” ujar alumni SMPN 1 Padangan Bojonegoro itu, dalam wawancara khusus dengan Purworejonews, Selasa (18/5).

Ayahnya, H Mustofa yang seorang kyai, kurang suka dengan hobi Lukman Hakim. “Bapak suka marah kalau saya menyanyi di rumah. Beliau ingin saya juga jadi kyai,” kenang pria kelahiran 8 November 1971 itu.

Meski begitu, Lukman tetap menyalurkan hobinya itu dengan sering tampil dari satu panggung ke panggung lainnya. Pertama kali tampil, ujarnya, yakni di acara perpisahan siswa SMA di Bojonegoro. Padahal dia masih duduk di bangku SMP. Lukman membawakan lagu-lagu milik Ahmad Albar yang jadi idolanya.

Diakui Lukman, lagu-lagu God Bless sangat energik dan sarat makna. Seperti lagu Semut Hitam, Srigala Jalanan, Damai, Rumah Kita, dan Panggung Sandiwara. Kebetulan juga range vokalnya senada dengan vokalis God Bless itu.

Lukman Hakim saat tampil satu panggung dengan legenda Ahmad Albar

Kepiawaian menyanyi itu pulalah yang membuat Dandim satu-satunya di Kodam IV/Diponegoro yang bukan dari Akmil itu berhasil tampil satu panggung dengan sang idola, Ahmad Albar, dalam sebuah acara di tahun 2020.

Selain itu, anak ke-8 dari 10 bersaudara itu juga tampil memukau saat satu panggung dengan Ita Purnamasari (lady rocker top era 1980an) dalam acara Gebyar Kemerdekaan di Bojonegoro tahun 2019. Sebagai sesama warga Jawa Timur, Lukman pun menyukai karakter lagu Ita Purnamasari.

Mengenai kariernya di militer, Lukman berkisah, dirinya yang selalu ranking 1 dan menjadi ketua OSIS di SMAN 1 Padangan itu memang berminat menjadi seorang tentara. Hal itu karena ia terinspirasi oleh Pakdenya yang juga seorang tentara.

“Beliau tampak gagah, rapi, dan berwibawa. Apalagi saat datang ke rumah, beliau sering memberi saya uang,” ungkap suami Lestari Handiyaningsih itu.

Faktor pendorong lainnya, yakni karena dirinya bukan berasal dari keluarga yang mampu. “Bapak saya harus membiayai 10 anaknya, sehingga Beliau hanya mampu membiayai sekolah saya hingga SMA,” lanjut Lukman.

Berduet dengan lady rocker Ita Purnamasari

Dengan tekad itulah, selepas SMA Lukman mencoba mendaftar ke Akmil. Tapi nasib baik belum berpihak. Lukman tidak lolos. Akhirnya demi menyalurkan hasratnya di dunia militer, Lukman mendaftar jadi bintara dan akhirnya diterima.

“Saat itulah saya bertekad untuk tidak pulang ke kampung halaman sebelum menjadi seorang perwira,” ucap bapak dua orang putri itu. Tekad dan usaha Lukman yang kuat menjadikannya satu-satunya dari 41 peserta bintara yang lulus mengikuti ujian Sekolah Calon Perwira.

Penugasan pertama Lukman yakni di tahun 1994 saat dirinya bergabung bersama Divisi Infanteri 3 Kostrad di  Makasar. Di sana ia tergabung dalam Batalyon 431 dengan pangkat Serda. Saat itulah Lukman “nyambi'” kuliah S1 usai jam kerja.

“Saya selesai kerja jam 14.00. Terus jalan kaki sejauh 10 Km, lanjut naik bus Damri sejauh 20 Km menuju kampus untuk  mengambil  kuliah malam,” kenang Lukman. Masa kuliah pun dijalaninya dengan tekun hingga akhirnya ia berhasil lulus dan menyandang gelar Sarjana Sosial (S.Sos).

Setelah menjadi perwira, Lukman yang selalu bangun mulai pukul 03.00 itu ditempatkan di Batalyon 501 Lintas Udara (Linud) di Madiun. Ia bertutur, dari teman-teman seangkatannya, hanya dirinyalah yang ingin ditempatkan di bagian tersebut.

Letkol Inf Lukman Hakim, S.Sos, M.Si

Di sana Lukman bertugas selama sembilan tahun hingga berpangkat kapten. Ia pun menduduki jabatan sebagai Komandan Kompi C. Lukman kembali melanjutkan studinya dengan mengambil S2 di Universitas  Budi Utomo Surabaya. Ia juga pernah menjadi dosen Ilmu Komunikasi di Akmil pada tahun 2010 dan kembali menjadi dosen Teknik Sipil pada tahun 2017-2018.

Karier Lukman pun kembali terasah saat dirinya mengikuti pendidikan untuk pangkat mayor di tahun 2013 dengan mengikuti Sesko. Menurut Lukman, ia waktu itu satu angkatan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang kemudian sama-sama  berpangkat mayor.

Setelah itu Lukman kembali mengikuti Sesko di Kalimantan pada tahun 2016 untuk menempuh pangkat Letkol. Jabatannya waktu itu yakni Kabagum Rindam XII. Barulah pada tahun 2020 tepatnya tanggal 20 Juli 2020 Lukman ditugaskan menjadi Komandan Kodim 0708/ Purworejo.

“Menjadi Dandim merupakan pengalaman teritorial saya yang pertama sejak menempuh karier di militer. Selain itu menjadi Dandim merupakan cita-cita yang terus saya yakini akan saya raih. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk mengemban amanah ini atas kehendak-Nya” ucapnya mantap.

Terkait perjalanan hidupnya, Lukman mengatakan, meskipun kedua orang tua, terutama bapaknya tidak bisa menyaksikan kehidupannya sekarang karena meninggal di tahun 2003, tapi Lukman bertekad untuk mewujudkan keinginan bapaknya, yakni agar dirinya menjadi orang yang mendalami ilmu agama.

Putri keduanya, Levina Aurellia Hakim yang kini duduk di bangku SMP Ikhsanul Fikri Magelang telah hafal enam juz. Rencananya si bungsu akan melanjutkan jenjang pendidikan SMA di tempat yang sama.

Lukman Hakim bersama keluarga

“Insya Allah melalui dia, cita-cita Bapak saya dapat terwujud,” ujarnya. Adapun putri pertamanya yakni Lisa Aldira Hafidza kini tengah menempuh pendidikan S1 Teknik Industri di UNS.

Tempaan militer sangat melekat dalam kehidupan Lukman yang tercatat memiliki prestasi saat bertugas pada Operasi Darurat Militer di Aceh itu.

Sewaktu kerja sambil kuliah, dalam sehari pria yang sudah 28 tahun bergelut di dunia kemiliteran itu mempunyai metode belajar yang unik. Setiap buku yang dipelajari, ia tulis di kertas buram.

“Satu hari bisa menghabiskan dua bolpoin dan puluhan lembar kertas buram. Ini sangat efektif untuk mengingat isi buku,” ujarnya.

Yang unik dari seorang Lukman Hakim yakni kebiasaannya bercermin setiap ada masalah. Lukman menggambarkan, dirinya selalu bercermin untuk menghadirkan diri sendiri dan berkomunikasi. Cara itu dinilainya ampuh untuk mendapat solusi atas permasalahan yang dihadapi.

Di depan cermin, Lukman Hakim berdialog dengan diri sendiri untuk mencari solusi

Kebiasaan itu berlanjut hingga kini. Di ruang kerjanya, Dandim berusia 49 tahun itu memiliki ruang khusus untuk bercermin.

“Di ruang inilah saya berkomunikasi dengan diri sendiri dan berlatih akting sebelum berhadapan dengan orang lain,” kata Dandim sambil menunjukkan ruang khusus tersebut.

Sebagai seorang pemimpin teritorial, Lukman Hakim bersyukur bisa ditempatkan di Purworejo. Menurutnya, di Purworejo banyak kyai besar yang dapat membantunya menimba ilmu agama. Selain itu, kondisi masyarakatnya yang kondusif semakin menguatkan semangatnya untuk dapat memberi lebih.

Lukman Hakim juga tercatat aktif menjalin hubungan dengan banyak komunitas untuk dapat membantu sesama. Selama bertugas, ia juga tidak menemukan kendala yang berarti. Baginya, yang penting bisa berkomunikasi dan mengesampingkan ego.

Prinsip hidup yang selalu dijalankannya yakni jangan pernah merasa kita lebih penting dari orang lain. Sebagai seorang tentara yang menyukai seni dan memegang teguh nilai religi, Lukman Hakim berusaha  menerapkan filosofi Dengan ilmu hidup akan jadi mudah, dengan seni hidup akan jadi indah, dengan agama hidup akan jadi terarah.

Dengan falsafah itulah Lukman Hakim menjalani kehidupan bersama istri dan dua putri tercintanya di tengah kesibukannya sebagai seorang Komandan Kodim 0708 saat ini. (Dia/Nas)

 1,923 kali dilihat,  21 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *