Pembelajaran Tatap Muka Terbatas SD dan SMP Segera Dilaksanakan di Purworejo

PURWOREJO, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di semua SD dan SMP akan segera dilaksanakan di Kabupaten Purworejo. Hal itu sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri Nomer 97/sipres/A6/III/2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19.

“Melalui keputusan bersama tersebut, pemerintah mendorong akselerasi PTM terbatas dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Purworejo, Sukmo Widi Harwanto, SH, MM, di ruang kerjanya, Kamis (1/4).

SKB 4 menteri tersebut meliputi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri Mendagri Menteri Kesehatan Menkes, dan Menteri Agama Menag.

“Setelah pendidik dan tenaga kependidikan di satuan pendidikan divaksinasi Covid-19 secara lengkap, pemerintah pusat, pemerintah daerah, kantor wilayah (kanwil), atau kantor Kementerian Agama (Kemenag) mewajibkan satuan pendidikan untuk menyediakan layanan pembelajaran tatap muka terbatas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan pembelajaran jarak jauh,” jelas Sukmo Widi, mengutip siaran pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebelumnya, beberapa sekolah terutama SD dan SMP sudah melaksanakan PTM, namun belum dilaksanakan secara menyeluruh. Seiring dengan terus dilakukannya vaksinasi covid-19 kepada tenaga pendidik, persiapan PTM terus dilakukan.

“Sejauh ini hampir 100% guru dan tenaga pendidik di Kabupaten Purworejo sudah divaksin. Jadi, Kabupaten Purworejo siap melaksanakan PTM terbatas, tentu dengan protokol kesehatan yang ketat,” jelas Sukmo.

Perlu diketahui, Indonesia adalah satu di antara empat negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang belum melakukan PTM secara penuh. Sebanyak 85% negara di Asia Timur dan Pasifik telah melakukan PTM secara penuh, antara lain Vietnam, RRT, Kamboja, dan Laos.

Contoh pembelajaran tatap muka terbatas di sebuah SMP

Sukmo menjelaskan, sudah satu tahun ini pembelajaran jarak jauh dilakukan akibat pandemi covid-19, sedikit banyak berpotensi menimbulkan dampak sosial negatif yang berkepanjangan.

Risiko putus sekolah dikarenakan anak “terpaksa” bekerja untuk membantu keuangan keluarga di tengah krisis pandemi Covid-19 menjadi kekhawatiran tersendiri.

Ditambah lagi, perbedaan akses dan kualitas selama pembelajaran jarak jauh dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama untuk anak dari sosio-ekonomi berbeda.

Studi menemukan bahwa ketika anak tidak lagi datang ke sekolah, terdapat peningkatan risiko untuk pernikahan dini, eksploitasi anak terutama perempuan, kekerasan, dan kehamilan remaja.

“Peran sekolah sangat penting dalam mendeteksi perkembangan siswa. Permasalahan internal maupun eksternal sulit terdeteksi oleh sekolah jika Pembelajaran Tatap Muka tidak segera dilaksanakan”, tambah Sukmo.

PTM di Kabupaten Purworejo akan segera dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat. Aturan-aturan yang dijalankan sesuai dengan arahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, seperti kondisi kelas, Jumlah hari dan jam pembelajaran tatap muka terbatas dengan pembagian rombongan belajar (shift),

Perilaku wajib di seluruh lingkungan satuan pendidikan, dan beberapa aturan yang sudah ditetapkan demi berjalannya kegiatan PTM termasuk penanganan jika pada saat pelaksanaan ditemukan kasus konfirmasi positif.

“Kita memiliki target dengan melaksanakan PTM terbatas ini, dengan terus melakukan evaluasi dan perbaikan, harapannya di Juli 2021 PTM sudah bisa normal kembali”, pungkas Sukmo. (AR)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *