Pasar Umpet Night, Sensasi Ngopi di Bawah Rumpun Bambu dan Cahaya Lentera

BANYUURIP, Ingin merasakan sensasi ngobrol malam di sela rerimbunan kebun bambu ditemani secangkir kopi dan kudapan dengan penerangan lentera? Datang saja ke Pasar Umpet Night (PUN) yang berlokasi di Desa Popongan RT 2 RW 4 Kecamatan Banyuurip.

Letaknya sekitar 800 meter dari Jalan Raya Jogja Km 5, arah menuju Jembatan Semapop (Semawung Popongan).

Bagi penyuka suasana ndeso dan penerangan yang temaram, pasar atau tempat kuliner ini tampaknya cocok buat sekedar menghabiskan malam Minggu bersama teman atau keluarga. Ya, karena PUN saat ini baru buka khusus di malam Minggu.

Purworejo News yang datang ke lokasi pada Sabtu (27/11) malam turut merasakan sensasi ngobrol ditemani kopi serta kudapan dengan sinar lantera. Sesekali tercium aroma dupa yang sengaja dipasang di arena pasar temaram itu.

Menikmati kopi dan kudapan di dalam saung dengan penerangan lentera

Setiap pengunjung yang datang diberi kopi gratis. Aneka kuliner serta jajanan pun dijual kepada pengunjung. Ada rica ceker, serabi, mendoan, roti bakar, takoyaki, dan cilor.

Creative Media Director PUN, Nanang ‘Virtual’ (49) menyebutkan, kopi itu berasal dari Desa Banjarsari, Kecamatan Grabag, Magelang yang merupakan unit usaha milik desa.

Nanang menjelaskan, PUN merupakan bentuk pengembangan kreatif dari pasar umpet yang telah eksis hadir di setiap Minggu pagi. “Kehadiran pasar umpet di malam minggu baru tiga kali ini,” jelas Nanang.

Dengan modal nol budget, Nanang memanfaatkan fasilitas yang dipakai saat pasar umpet pagi untuk pasar umpet malam Minggu. Termasuk 50 tempat duduk dengan 14 meja yang dibuat seadanya.

Siti si penjual serabi, habis hanya dalam waktu satu jam

Hanya saja, untuk malam hari ditambah lentera. Nyalanya berasal dari sumbu yang bahan bakarnya campuran minyak goreng dan air yang dimasukkan ke dalam gelas berisi tanah.

Meski baru berusia seumur jagung, puluhan pengunjung tampak berdatangan. Sebagian besar mereka bukanlah warga sekitar. Kendaraan pengunjung pun memenuhi arena parkir yang disediakan pengelola.

Salah satunya Gaisala (28), pengunjung asal Wonosobo. Ia mengaku datang ke pasar umpet bersama istri dan kawan-kawannya. Sebelumnya dia diberi tahu temannya kalau ada pasar tradisional di bawah papringan (pohon bambu).

“Tempat ini menarik, karena dibanding pasar tradisional lain, di sini ada suasana syahdu, apalagi ada papringannya,” ucap Gaisala.

Gaisala dan kerabatnya sengaja data dari Wonosobo untuk menikmati malam Minggu di PUN

Ia pun memberi masukan kepada pengelola untuk menambah minuman ronde serta geblek. Hal itu, menurutnya, agar suasana ngobrol lebih hangat.

Nanang kembali menjelaskan, PUN buka mulai pukul 18.30 hingga 22.00. Selain bertujuan untuk membangkitkan ekonomi warga selama pandemi, aktivitas tersebut juga diharapkan dapat mendongkrak budaya lokal.

“Ini semacam pengembangan ekonomi kreatif dengan memanfaatkan kearifan lokal, Kami ingin memfasilitasi masyarakat yang butuh hiburan lain di malam Minggu. Ini seperti kafe ndeso begitu,” kata Nanang.

Meski jam operasional relatif pendek yakni hanya sekitar empat jam, tapi animo pengunjung untuk membeli sangat tinggi. Seperti pengakuan penjual serabi, Siti (45) warga Semawung, Kecamatan Purworejo.

Nanang sang kreator

Dagangannya telah habis sekitar satu jam berjualan. “Hari ini saya hanya bawa 1/2 kg adonan yang bisa jadi 30 porsi yang dijual seharga Rp 5 ribu,” katanya. Satu porsi berisi tiga serabi dengan toping keju parut.

Menurut Siti, dirinya hanya membawa sedikit adonan karena takut kalau hujan pengunjungnya bisa dihitung dengan jari. Begitu juga dengan penjual takoyaki.

Diakui Nanang, hujan menjadi kendala bagi keberadaan pasar kuliner malam itu. Untuk itu minggu depan ia berencana membuat gasebo yang bisa digunakan sebagai tempat berteduh kala hujan.

“Sekarang ini baru sebatas beberapa saung milik pedagang pasar umpet pagi yang bisa dimanfaatkan pengunjung PUN,” kata Nanang.

Nyamannya tempat itu membuat beberapa anak-anak tampak enjoy berada di sana. Nanang mengungkapkan, dirinya bersyukur konsep yang ditawarkan dapat diterima publik, meski semuanya terus berproses untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

“Saya berharap ini dapat menjadi media bagi siapapun untuk berinteraksi dengan memanfaatkan kearifan lokal, meski belum ideal, kami terus belajar,” tutup Nanang. (Dia)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.