Pasar Umpet, Destinasi Kuliner Ndeso di Desa Popongan

BANYUURIP, Menikmati jajanan ndeso seperti cenil, grontol dan sawut di tempat yang rimbun di bawah rumpun bambu sambil menikmati sepoi angin pagi, dapat Anda rasakan saat berkunjung ke Pasar Umpet di Desa Popongan, Kecamatan Banyuurip.

Pasar rakyat yang hanya buka setiap hari Minggu mulai pukul 05.30 hingga 09.00 itu kini telah mulai banyak dikunjungi warga dan menjadi destinasi wisata kuliner selama PPKM berlangsung.

Pantauan Purworejo News pada Minggu (12/9) pagi, banyak warga berkunjung ke Pasar Umpet yang letaknya memang tersembunyi di antara pohon bambu.

Tempat itu dapat diakses dari Desa Popongan maupun dari Desa Semawung Kecamatan Purworejo melalui jembatan gantung atau yang kerap disebut jembatan goyang.

Pengunjung di Pasar Tiban

Disebut jembayan goyang, karena saat berjalan melewati jembatan itu tubuh kita akan bergoyang-goyang. Begitu pula setelah melewati jembatan, sensasinya seperti baru turun dari kapal laut, badan agak bergoyang.

Di seberang Pasar Umpet yang dihubungkan jembatan gantung itu ada juga Pasar Tiban yang baru ada tiga minggu ini. Informasi tersebut disampaikan oleh Mbah Bon (57), warga Desa Semawung yang pagi itu tengah berada di lokasi Pasar Tiban.

Dari arah Desa Semawung, setelah mengunjungi Pasar Tiban yang memiliki 18 lapak, kita menuju Pasar Umpet melalui jembatan gantung yang membentang di atas
Sungai Bogowonto.

Sesampai di seberang sungai, sampailah pada lahan tempat Pasar Umpet berada. Di sana ada 32 lapak yang menjual 58 menu. Tapi yang paling diburu pengunjung yakni kerupuk lethek dan cenil.

Grontol, cenil dan ongol-ongol di lapak Bu Fitri

Indra (32) pemilik lapak kerupuk ‘Hero’ mengungkapkan, dirinya menjual 300 bungkus kerupuk. Tiap tiga bungkus dijual seharga Rp 10.000. Waktu baru menunjukkan pukul 07.20. Tapi seluruh kerupuk yang dibawa Indra sudah ludes dibeli pengunjung.

Dirinya mengaku kewalahan jika harus menambah dagangan kerupuk yang diproduksinya sendiri. “Mboten kober le mbungkusi,” katanya sumringah.

Begitu juga dengan cenil yang dijual oleh Fitri (55) warga desa setempat. “Saya jualan cenil, getuk, grontol, ongol-ongol, dan sawut mulai jam 05.30,” katanya sambil melayani pembeli yang mengantre.

Nanang (49) pengurus Pasar Umpet menjelaskan, bersama beberapa temannya, ia mengelola Pasar Umpet sejak 16 pekan lalu, tepatnya bulan Mei 2021.

Ke Pasar Tiban dan Pasar Umpet melewati jembatan gantung

Selain cenil dan kerupuk lethek, Pasar Umpet juga menjual menu berat seperti kupat tahu, lontong sayur. Juga bakso bakar, cilor, sempol, jambu kristal, dan gula aren. Beberapa penjual minuman instan juga turut mencoba peruntungan di sana.

“Niat kami ingin memberdayakan sektor ekonomi warga masyarakat sekitar sini terutama di masa pandemi,” ujar Nanang. Selain itu, menurutnya, masyarakat pun butuh ruang untuk menyalurkan hasrat wisata kuliner ala desa.

Meski demikian pihaknya tetap menerapkan prokes ketat dengan sistem pembelian take away alias dibawa pulang. “Tapi kami juga menyediakan tempat duduk seadanya untuk pengunjung yang ingin sekedar menikmati suasana asri seperti ini,” katanya.

Nanang berharap nantinya Pasar Umpet dapat lebih dikenal dan menjadi jujugan bagi warga yang ingin menikmati suasana asri di Minggu pagi sambil menikmati kuliner ala desa. Apalagi jika PPKM Covid-19 di Purworejo semakin membaik. (Dia)

 983 kali dilihat,  5 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *