Panen Raya Mulai Berlangsung, Purworejo Tetap Jadi Lumbung Padi di Jateng

PURWOREJO, Musim panen raya padi masa tanam 1 (MT 1) Oktober-Maret terbilang sukses. Dari 29.004 hektare areal sawah yang ada di Kabupaten Purworejo, hanya sekitar 62 hektare yang terserang hama wereng, tikus, dan pengerat batang. Itupun tidak sampai puso, meski mengurangi hasil produksi sekitar 20 hingga 30%.

Hal itu disampaikan Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas PPKP Kabupaten Purworejo, Ir Eko Anang SW saat ditemui di ruang kerjanya, pada Senin (8/3).

Menurut Eko Anang, panen yang dimulai bulan Maret ini akan berakhir pada bulan Mei. Panen raya kali ini tergolong bagus karena meski ada serangan hama, tapi tidak ada yang puso.

“Sampai hari ini luas area sawah yang dipanen mencapai 854,6 hektare. Adapun estimasi panen hingga akhir Maret seluas 16.758 hektare,” kata Eko.

Ir Eko Anang

Keberhasilan panen dan luas areal yang mencapai 29.004 hektare, menurut Eko Anang, menjadikan Purworejo masih tetap menyandang gelar lumbung padinya Jawa Tengah.

Beberapa kecamatan yang sedang mengalami masa panen merupakan sentra padi di Purworejo. Yakni Ngombol, Banyuurip, Purwodadi, dan sebagian Kecamatan Grabag. Bulan April, ujar Eko, yakni Kecamatan Gebang, Loano, Bayan, Bener dan Purworejo. Sisanya pada bulan Mei.

Eko menambahkan, pada panen ini, perkiraan produksi mencapai 7 hingga 8 ton gabah kering panen/hektare.

“Tapi kalau untuk daerah sentra ya lebih dari itu,” ucapnya.

Petani Banyuurip panen padi

Terkait dengan serangan hama wereng, Eko menyebut, biasanya yang diserang adalah padi varietas aromatik seperti pandanwangi, sintanur dan situ bagendit yang memang tidak tahan hama wereng.

Melimpahnya pasokan gabah menyebabkan harga gabah di tingkat petani anjlok. Meski begitu, Eko menyebut, pihak Bulog bersedia membeli gabah petani dengan harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 4.200/kg gabah kering paben, dengan kadar air minimal 25% dan hampa kotoran 10%.

Sedangkan harga gabah kering giling mencapai Rp 5.300/kg dengan kadar air maksimal 14% dan hampa kotoran 3%.

Hasil pantauan di Desa Cengkawakrejo, Kecamatan Banyuurip, seorang pemilik sawah Amat Samsudin mengeluhkan sulitnya mencari tenaga pemanen saat ini, mengingat panen dilakukan secara bersamaan di beberapa kecamatan. Ia bahkan membutuhkan waktu 14 hari untuk memanen sekitar satu hektare lahan sawahnya yang ditanami padi jenis IR.

Petani dengan latar belakang hamparan sawah menguning

Sementara itu Junaidi, pemilik sawah di Desa Cengkawakrejo, menuturkan, panen kali ini seharusnya melimpah karena cukup air dan bebas serangan hama. Tapi disayangkan pada masa pemeliharaan sulit mencari pupuk TSP dan NPK.

Kartu kredit mboten kangge mas. Artane wonten nanging pupukipun mboten wonten,” keluh Junaidi, seraya menambahkan bahwa akibat kurang pupuk produksi padinya turun.

Junaidi menuturkan, pada MT 1 dia menggarap delapan hektare sawah, baik miliknya maupun sewa. Hasilnya, 100 ubin yang biasanya menghasilkan 1 ton, sekarang hanya 7-8 kuintal gabah. (Dia)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *