Nikmatur Rohmah, Doktor Pendidikan Ekonomi, Sukses Pimpin SMPN 33

PURWOREJO, Figur kepala sekolah dinilai mampu membawa perubahan pada sekolah yang dipimpinnya. Begitu pula dengan SMPN 33 Purworejo yang dinakhodai Dr Nikmatur Rohmah, M.Pd sejak bulan Juni 2018 lalu. Dalam beberapa tahun ini sekolah yang terletak di Jalan Tentara Pelajar itu menampakkan kemajuan yang cukup signifikan.

Ditemui di ruang kepala sekolah, Sabtu (9/1), rupanya Nikma baru saja selesai melakukan pekerjaan rutinnya yakni menginspeksi sudut sekolah yang memiliki luas 2.100 m2 itu. “Sambil olah raga, Mbak,” ujarnya ramah.

Nikma yang beberapa waktu lalu terpilih sebagai Ketua MKKS SMP Kabupaten Purworejo periode 2021-2023 itu menuturkan berbagai upaya yang dilakukannya dalam empat tahun terakhir ini.

“Beberapa bulan setelah diberi amanah sebagai kepala sekolah, saya langsung tancap gas, membangun gedung indoor berukuran 20X40 m. Selain untuk sarana olah raga basket dan takraw, gedung itu sering digunakan sebagai aula pertemuan baik dengan siswa maupun orang tua, serta forum pertemuan guru dan siswa, termasuk untuk kemah bakti,” ujarnya.

Setahun berikutnya yakni tahun 2018, Nikma yang bergelar doktor dengan disiplin ilmu Pendidikan Ekonomi dari Universitas Negeri Malang itu pada bulan Februari 2020 itu kembali melakukan pembangunan joglo. Material kayu dan gentengnya didapat dari hasil “temuannya” melakukan inspeksi di sudut sekolah yang selama ini teronggok tidak dimanfaatkan. Menurut Nikma, joglo tersebut kini digunakan untuk ruang interaksi siswa dan guru.

Wanita 55 tahun itupun kembali melakukan pembangunan sarana sekolah berupa hall yang dapat menampung 70 orang. Biasanya hall digunakan untuk kegiatan siswa seperti senam. Berikutnya, Nikma membangun Ruang IT dan ruang sekretariat yang representatif.

Nikma bersama keempat anaknya

Nikma bahkan membuat efisiensi anggaran melalui block grand pembangunan ruang kelas dari rencana semula 29 ruang menjadi 37 ruangan pada tahun 2018.

Tak hanya melakukan pembangunan fisik. Sadar bahwa sekolah yang dipimpinnya akan sangat sulit disejajarkan dengan sekolah yang sudah mapan secara akademis, Nikma menggenjot prestasi siswanya melalui program disiplin yang tinggi.

“Dispilin itu pada mulanya saya tekankan kepada para guru yang akan memberi contoh pada anak didiknya,” tegas Nikma.

Sebagai langkah awal, Nikma mewajibkan seluruh kelas 7 untuk mengikuti kegiatan kemah bersama guru dengan materi disiplin dan penanaman karakter berbudi pekerti.

Menurut pengakuan Nikma, pada mulanya memang sulit. Pada awal diterapkan disiplin itu, banyak sekali siswa dan guru yang datang terlambat dengan berbagai alasan. Tapi sekarang hampir tidak ada. “Lama-lama mereka malu bila datang terlambat,” ujar Nikma.

Itulah sebabnya, siswa yang pindah dari tempat lain, terutama yang bapaknya tentara, pasti memilih SMPN 33 karena dinilai memiliki disiplin tinggi.

Nikma bersama tiga wakil kepala sekolah

Hal itu, kata Nikma, tak lepas dari peran siswa yang dilibatkannya untuk turut serta mendisiplinkan teman-temannya. “Jadi ada semacam satgas khusus disiplin siswa”.

Berkat ketelatenan serta ketegasannya dalam memimpin, perlahan tapi pasti SMPN 33 yang sebelumnya dianggap sekolah “pinggiran” walaupun letaknya berada di tengah kota,
mulai merangkak naik peringkatnya.

Sekarang, tutur Nikma, SMPN 33 berada pada peringkat 31 dari sebelumnya berada pada peringkat paling bawah dari 43 SMP yang ada di Kabupaten Purworejo.

Bahkan sekolah yang memiliki 659 siswa itu beberapa kali menjuarai berbagai lomba seperti Juara 1 Lomba PKS tingkat kabupaten. Selama pandemi siswa ikut KSN dan masuk 10 besar tingkat kabupaten yakni mapel Matematika, IPS, dan IPA.

Tak hanya itu. Nikma menuturkan bahwa hampir 100% siswa mendapatkan bantuan beasiswa dari tiga sumber yang diupayakan. Yakni beasiswa PIP, aspirasi dari pusat, serta
dari anggota DPR. Bahkan ada siswa yang mendapatkan ketiga macam beasiswa itu.

Gedung indoor hasil karya Dr Nikmatur Rohmah

SMPN 33 kini sudah tampak ijo royo-royo dengan aneka pohon yang ditanam. Disipilin guru dan siswa meningkat. Begitu pula etos kerja guru yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi semua itu tidak membuat Nikma berpuas diri.

SMPN 33 kini sudah tampak ijo royo-royo dengan aneka pohon yang ditanam. Disipilin guru dan siswa meningkat. Begitu pula etos kerja guru yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi semua itu tidak membuat Nikma berpuas diri.

Ia ingin agar literasi semuanya diperbaiki. Termasuk rencananya hanya menampung 6 kelas di kelas 7 dari sebelumnya 7 kelas. Nikma berprinsip, lebih baik meningkatkan kualitas dari pada kuantitas.

Kepala sekolah keenam di SMPN 33 itu berharap agar setiap tahun ada perubahan yang dapat dilakukan dan mewarnai sekolah yang memiliki 53 guru itu. (Yudia Setiandini)

 1,060 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *