Muhammad Arkan Baihaqi, Aset Atlet Renang Purworejo yang Berjaya di Modern Pentathlon

PURWOREJO, Muhammad Arkan Baihaqi (15) sungguh beruntung. Atlet renang aset Purworejo yang kini terdaftar sebagai siswa SMA Ragunan itu memiliki seorang ayah yang betul-betul mengerti segala kebutuhannya sebagai atlet.

Arkan, putra pasangan M Zuhdi (49) dan Tri Lastanti (45) itu tercatat sebagai atlet Purworejo yang mewakili kontingen Jawa Tengah pada event Pekan Olah Raga Nasional (PON) XX di Papua. Melalui cabor Modern Pentathlon Arkan berhasil menyumbang medali perak saat usianya baru mencapai 14 tahun.

Boleh jadi Arkan merupakan atlet termuda dalam gelaran olah raga nasional yang diikuti ribuan peserta dari ratusan nomor pertandingan tersebut.

Zuhdi  merupakan sosok yang selalu mendampingi  Arkan dari mulai merintis prestasi sebagai atlet renang di tingkat kecamatan hingga akhirnya berhasil menembus Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan yang banyak diidamkan oleh atlet daerah.

Zuhdi dengan fasih merinci berbagai hal yang berkaitan dengan ritme Arkan sebagai atlet sejak dini. Betapa ayah tiga anak itu sangat melekat dengan semua yang dilakukan Arkan, seperti layaknya seorang manajer.

Arkan di podium saat meraih salah satu medali emas di ajang Jateng Open Modern Pentathlon

“Arkan adalah stereotip saya, dan semua yang saya lakukan untuk Arkan adalah demi keberhasilannya,” kata Zuhdi kepada Purworejo News yang mewawancarainya, Sabtu (16/7) malam di tempat kerjanya, kantor Adira Purworejo.

Seperti halnya pemeo yang menyebutkan bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha, semua keberhasilan Arkan yang lahir pada tanggal 19 Maret 2007 itu merupakan hasil gemblengan dan bimbingan Zuhdi.

Sebagai mantan atlet lari, Zuhdi tahu betul menu yang tepat untuk menggembleng fisik Arkan. Selain latihan renang secara rutin, Arkan mendapatkan menu wajib di hari Minggu yakni   lari 10 Km dari rumahnya di Desa Somorejo RT 1 RW 2 Kecamatan Bagelen sampai SD Tepus bolak balik.

Jalan yang dilalui pun seperti rute lintas alam dengan medan yang berkelok dan naik turun. “Olah raga apapun, induknya adalah lari, jadi Arkan saya gembleng fisiknya dengan cara ini,” kata Zuhdi. Belum lagi latihan rutin yang dijalani hingga 11 kali seminggu pada pagi dan sore hari.

Seperti layaknya manajer, Zuhdi pun mencatat secara rinci semua event kejuaraan Arkan dari mulai tahun 2017 atau saat Arkan masih berusia 10 tahun, yakni saat mengikuti Popda renang tingkat kabupaten. “Arkan langsung menyabet medali emas,” kata Zuhdi.

M Zuhdi

Di bulan yang sama Zuhdi kemudian mendaftarkan Arkan untuk mengikuti lomba di Yogya dengan mendapatkan satu medali perunggu. Selama tahun 2017 Arkan mengikuti tujuh event di berbagai daerah dengan total perolehan delapan medali.

Tahun berikutnya yakni 2018, Zuhdi makin bersemangat mendaftarkan Arkan dalam berbagai turnamen baik regional maupun nasional. Di tahun ini, ada 19 event yang diikuti dengan menghasilkan 43 medali. Di tahun berikutnya Zuhdi mencatat ada sembilan kejuaraan yang diikuti dengan perolehan 24 medali.

Jalan Arkan menuju SKO Ragunan didapat saat mengikuti event Jakarta Open GBK Senayan bulan Oktober 2018. Prestasinya yang gemilang rupanya membuat pelatih renang SKO Ragunan kesengsem dan merekomendasikan Arkan agar mengikuti seleksi masuk SKO Ragunan.

Arkan yang bercita-cita menjadi atlet renang nasional itupun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi yang ketat, tahun 2019 saat masih berusia 12 tahun Arkan akhirnya berhasil lolos seleksi dan terdaftar menjadi siswa SMP SKO Ragunan.

Tak terhitung berapa banyak uang yang dikeluarkan Zuhdi untuk mensupport Arkan baik dari segi akomodasi yang dibutuhkan selama mengikuti lomba serta yang paling pokok adalah mencukupi kebutuhan asupan makanan.

Arkan berjaya di kolam renang

“Bayangkan, dalam sebulan kadang dua event yang Arkan ikuti, semuanya di luar daerah dan butuh tempat menginap juga transportasi serta biaya pendaftaran yang nilainya mencapai jutaan rupiah sekali ikut lomba,” kata Zuhdi. Belum lagi biaya untuk pola hidup sehat dan bergizi tinggi yang harus dijalani Arkan secara ketat.

“Saya atur pola makannya, termasuk kebutuhan gizi, susu, serta suplemen yang dibutuhkan untuk menjaga staminanya. Pokoknya jatah makan Arkan itu sama dengan jatah makan tiga orang,” ungkap Zuhdi.

Zuhdi mengatakan, dirinya mengetahui secara detil semua kebutuhan makan, istirahat, serta pola latihan yang diperlukan anak kedua dari tiga bersaudara itu. Dirinya jugalah yang mengatur ritme hidup Arkan agar seimbang.

Satu hal lagi yang membanggakan dari Arkan yakni prestasinya saat mengikuti event Jateng Open Modern Pentathlon di SAC Butuh beberapa waktu lalu.

Dalam ajang bergengsi tersebut Arkan berhasil mendapat delapan medali, lima diantaranya medali emas kelas individu, sisanya beregu. Atas hasil tersebut Arkan turut berkontribusi saat Jawa Tengah dinobatkan sebagai juara umum.

Arkan meraih medali perak di cabang modern pentatlon di PON XX Papua

Tidak main-main, lawan yang dihadapi Arkan di kelas individu yaitu para prajurit yonif dan marinir yang memiliki fisik lebih besar dan power yang lebih kuat. Arkan bahkan berkali-kali naik podium untuk menerima medali.

Arkan yang masih berusia 15 tahun dengan percaya diri ikut di kelompok U-19 dan U-21. Lima medali emas yang berhasil diraihnya berasal dari nomor single individu U-17, biathle, laser-run, triathle, dan nomor single individu U- 21 (junior), biathle serta triathle.

Bagaimanapun, Arkan merupakan aset milik Purworejo yang telah membuktikan bahwa kerja keras akan membuahkan hasil maksimal.
Sebagai “bayangan” Arkan, Zuhdi mengapresiasi semua pengorbanan yang dilakukan putranya itu.

“Selama ini saya lakukan apapun agar Arkan bisa meraih impiannya menjadi atlet nasional. Sekarang dia sudah berada di tempat yang tepat. Arkan masih muda, saya yakin dia punya potensi dan mental yang bagus untuk bisa mewujudkan cita-citanya,” kata Zuhdi optimistis.

Ia pun tidak pernah menyesali banyaknya uang yang dikeluarkan untuk menjadikan Arkan seperti sekarang ini. Baginya, yang mahal adalah pengalaman bertanding yang akhirnya membentuk mental juara.

“Arkan bisa masuk SKO Ragunan karena banyaknya medali yang ia dapat dari puluhan kejuaraan, dan semuanya saya yang membiayai. Kalau hanya mengandalkan Popda, sulit,” pungkas Zuhdi. (Dia)

Tinggalkan Komentar