Menderita Syaraf Kejepit, Muhammad Fadlil Butuh Uluran Tangan Dermawan

KEMIRI, Seorang bocah berusia 6 tahun, Muhammad Fadlil Arzaqi, warga Desa Sutoragan RT 01 RW 01 Kecamatan Kemiri, membutuhkan perhatian dan uluran tangan. Kedua kaki anak itu kini tidak dapat berjalan dengan normal akibat adanya gangguan saraf pada tulang ekornya.

Fadlil merupakan anak kedua dari pasangan Ilfi Maksum (40) dan Titik Anjani (36). Nestapa harus dialami Fadli bersama keluarganya lantaran sejak menderita kelainan tersebut, hingga saat ini, Fadlil belum tersentuh bantuan dari pemerintah atau pihak lain. Padahal benjolan yang diketahui sebagai saraf kejepit tersebut semakin hari semakin membesar.

Selain itu, keluarga ini juga belum memiliki Program Keluarga Harapan (PKH), dan belum terdaftar di Basis Data Terpadu (BDT) Dinas Sosial Kabupaten Purworejo.

Menurut Ilfi Maksum, pada saat anaknya lahir ada benjolan pada tulang ekornya. Dari hasil pemeriksaan tim dokter RSUP Sardjito, benjolan tersebut adalah penyakit saraf kejepit.

Namun, dokter yang memeriksa saat itu menyatakan tidak berbahaya. Tetapi kenyataannya, pada saat anaknya mau buang air kecil atau BAB kesulitan. Selain itu, kedua kaki Fadli juga tidak dapat berjalan secara normal.

“Kalau dioperasi saya tidak punya uang, gaji saya cuma sekitar Rp 200 ribu perbulan, ditambah Rp 600 ribu dari pemerintah. Sementara anak saya yang besar sudah SMA, butuh biaya banyak,” kata Ilfi, saat ditemui di rumahnya, Senin (24/6).

Sebagai warga yang tidak mampu, Ilfi mencoba mengajukan permohonan bantuan ke desa setempat dengan mendaftar sebagai warga miskin untuk mendapatkan PKH. Namun, ia ditolak oleh perangkat desa dengan alasan tidak memenuhi keriteria.

Pria yang berkerja sebagai tenaga kebersihan di SD Sutoragan dan menjadi tulang punggung keluarga ini berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap masa depan anaknya. Menurut Ilfi, anaknya juga mempunyai hak yang sama dengan anak-anak lainnya untuk mendapatkan hidup yang layak.

Sementara itu, Kades Sutoragan, Nur Kholik, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa memang selama ini keluarga Ilfi Maksum belum mendapat PKH dan belum terdaftar di BDT. Namun, pada tahun 2018, yang bersangkutan telah diajukan dan baru keluar tahun 2019.

“Dulu bantuan berupa beras raskin yang bersangkutan kita kasih, kalau bantuan lainnya memang belum,” jelasnya.

Lebih lanjut Nur Kholik menyatakan akan secepatnya berupaya agar yang bersangkutan segera dapat bantuan, khususnya bagi Fadli agar bisa mendapat pelayanan jaminan kesehatan dari pemerintah melalui, BPJS Kesehatan.

“Ya nanti kita bantu secepatnya, walaupun yang kita urus ini bukan satu atau dua orang. Di Desa Sutoragan ini jumlah warga miskin itu ada sekitar 180 KK. Walau demikian saya berusaha untuk mencari solusi yang terbaik untuk warga saya,” ungkapnya. (W5)

Tinggalkan Komentar