Mbah Martomi: Juru Pijat Anatomi Kondang di Purworejo, Pasien Sampai Rela Menginap

BANYUURIP,  Mbah Martomi (72). Juru Pijat yang satu ini memang kondang luar biasa. Betapa tidak. Pasiennya selalu membludak terutama di hari Sabtu dan Minggu. Beberapa dari mereka bahkan rela menginap di teras rumah Mbah Martomi untuk mendapatkan antrean awal.

Tak sedikit pula yang datang sejak pukul 05.00 atau selepas Subuh. Meski begitu mereka baru dilayani mulai pukul 06.00. Tak jarang pasien yang sudah datang pagi hari pun baru bisa “digarap” Mbah Martomi belasan jam kemudian.

Seperti dituturkan Akhil (13), bocah asal Yogya. Diantar ayahnya, Akhil mengaku sudah mengantre sejak pukul 08.00. Hingga pukul 20.00, dirinya belum juga mendapat giliran. Itu karena rumah Mbah Martomi di Dusun Pitarankidul, Desa Candisari, Kecamatan Banyuurip itu sudah didatangi pasien sejak pagi buta.

Dituturkan Akhil yang seorang atlet badminton, dirinya mengalami cedera pada lutut sudah sekitar enam bulan lalu.

Mbah Martomi

“Sudah difisioterapi berkali-kali, mau nyoba dipijat di sini,” katanya. Kebetulan tantenya tinggal di Purworejo dan merekomendasikannya untuk mencoba pijat Mbah Martomi.

Beberapa pasien bertutur kepada Purworejo News, mereka rela antre dari pukul 23.00 malam sebelumnya. Itu pun baru bisa dilayani sesaat sebelum Mbah Martomi istirahat pertama pada pukul 12.00.

Saat reporter Purworejo News kembali ke tempat praktik Mbah Martomi pada pukul 20.00, pasien yang sudah menunggu sejak pagi hari pun masih belum dilayani. Tapi mereka masih setia menanti hingga belasan jam.

Para pasien datang dengan berbagai keluhan, dari terkilir, nyeri sendi, patah tulang, hingga urusan ingin cepat punya keturunan dan keperkasaan pria.

Akhil dan ayahnya, nyoba

Tapi tak hanya orang dewasa. Anak-anak dari bayi hingga balita juga ikut mengantre agar bisa ditangani Mbah Martomi. Keluhannya pun macam-macam: batuk pilek, susah makan atau BAB,  sampai mereka yang mengalami pertumbuhan lambat.

Dari sekian banyak pasien, Mbah Martomi biasanya mendahulukan pasien anak-anak. “Diselakke sing anak-anak disik kene,” katanya dengan senyum ramah.

Sejurus kemudian beberapa balita yang datang bersama orang tuanya antre, masuk ke kamar berukuran 3×2,5 meter.

Dari pengamatan Purworejo News, setiap pasien ditangani Mbah Martomi selama 20 hingga 30 menit. Tapi untuk pasien anak-anak paling hanya 5-10 menit.

Pasien ini rela menginap di teras demi mendapat giliran dipijat

Menurut Mbah Martomi, dirinya sudah berprofesi sebagai pemijat tradisional sejak 21 tahun lalu. Keahliannya “mereparasi” anatomi tubuh didapatinya secara otodidak.

“Alhamdulillah banyak yang cocok,” katanya. Tak heran banyak pasien yang menjadi langganannya, dari anak-anak hingga orang tua. Mereka merasa cocok dengan treatment Mbah Martomi.

Bahkan sebelumnya ada pasien yang seharusnya menjalani operasi patah tulang bisa ditangani cukup dengan ditarik bagian tertentu, lengan tangannya kemudian dibebat dengan perban atau selendang.

“Syaratnya hanya satu. Begitu kejadian langsung dibawa ke sini untuk Mbah tangani,” katanya. Kalau hanya terkilir biasanya satu kali dipijat pun pasien sudah langsung merasakan khasiatnya.

Pasien Mbah Martomi setia menunggu hingga larut malam

Tidak setiap hari Mbah Martomi melayani pasien. “Hari Selasa dan Sabtu tutup sampai malam”. Begitu antara lain isi banner yang dipasang di depan kamar praktiknya.

Waktu libur, kata Mbah Martomi, digunakannya untuk beristirahat serta bersosialisasi dan berkumpul bersama keluarga.

Saat melayani pasien, tak jarang Mbah Martomi menerangkan terapi yang dilakukannya. Bak seorang ahli anatomi, Mbah Martomi sering menganalisa keluhan penyakit yang diderita pasien. Sesekali ia mengajak mereka ngobrol layaknya kenalan lama.

Hari Minggu (27/3), Mbah Martomi tercatat “berdinas” lebih dari 17 jam sejak pukul 06.00 hingga pukul 23.30. Waktu jedanya hanya dua jam yakni pada pukul 12.00 hingga 13.00 dan pukul 18.00 hingga 19.00.

Pada bulan Ramadhan, Mbah Martomi tutup pada hari pertama dan kedua. Selanjutnya sesuai ketentuan yang berlaku.

Ebtah siapa yang akan menggantikan kepiawaian Mbah Martomi dalam dunia pijat anatomi kelak. Itu karena delapan anak Mbah Martomi tidak ada yang meneruskan keahliannya. (Dia)

Tinggalkan Komentar