Masjid Tiban Jenar Kidul, Bukti Sunan Kalijogo Sebarkan Islam di Purworejo

PURWODADI, Purworejo merupakan kabupaten yang pada zaman dahulu memiliki rangkaian sejarah baik pada masa Islam maupun Hindu. Beberapa peninggalannya masih bisa ditemui hingga saat ini. Salah satunya yakni Masjid Tiban di Desa Jenar Kidul, Kecamatan Purwodadi.

Karena nilai historisnya, tak heran bila masjid yang terletak telah berusia ratusan tahun itu masuk dalam bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah.

Ditemui di halaman masjid pada Selasa sore (27/4), H. Sudarno (72), Takmir Masjid Tiban mengungkapkan, Masjid Tiban konon dibangun oleh Sunan Kalijaga, pada tahun 1468.

Jadi hingga kini masjid itu telah berusia 553 tahun. Masjid itu terletak sekitar 300 meter dari Jalan Raya Purwodadi ke arah barat, tidak jauh dari Pasar Jenar.

Meski sudah mengalami renovasi beberapa kali, tapi bentuk dan empat tiang penyangga atau soko guru masjid tersebut masih asli, termasuk yoni yang menjadi ciri khas bangunan di zaman kerajaan Hindu. Dilihat dari bentuk bangunannya, masjid seluas 10×10 meter itu sama seperti Masjid yang ada di Demak.

Ditilik dari namanya yakni Masjid Tiban atau berarti tiba-tiba, menurut Sudarno, karena masyarakat menganggap masjid itu berdiri dalam jangka waktu yang sangat singkat dan tidak diketahui pembangunannya, mengingat sebelumnya lokasi masjid adalah hutan belantara.

“Karena berdirinya masjid yang seolah-olah tanpa sepengetahuan masyarakat, maka disebut Masjid Tiban sampai sekarang,” terang Sudarno.

Sumur tiban

Selain bangunan yang ada di dalam masjid dan asesorisnya, keaslian dari Masjid Tiban juga tampak dari gapura masjid yang ditata dari bata dan dibentuk seperti pura.

Pada sisi selatan masjid selain terdapat kulah yang pada masa itu digunakan untuk tempat berwudhu, juga terdapat batu andesit yang ditanam di halaman masjid. Konon batu itu dibawa Sunan Kalijaga sepulangnya dari Mekah.

Selain itu, pada bagian selatan atau sebelah kanan depan, masjid dilengkapi dengan sebuat menara. Menurut Sudarno, menara setinggi 10 meter itu berfungsi untuk meletakkan pengeras suara.

Umpak yoni penyangga Soko guru

Jadi menara itu dibangun dalam beberapa waktu ini atau merupakan bagian tambahan dari bangunan asli masjid.

Sudarno menyebut, keberadaan Masjid Tiban memang menarik perhatian kalangan sejarawan. Pada tahun 2014, pernah ada tim dari Dinas Purbakala Prambanan yang melakukan survey untuk merenovasi Masjid Tiban seperi aslinya.

“Selama berhari-hari mereka melakukan kajian, bahkan sampai membuat maket masjid tersebut, tapi hingga kini tidak ada kejelasannya,” ungkap Sudarno.

Batu andesit yang konon dibawa dari Mekah

Di bulan Ramadhan seperti sekarang ini, Masjid Tiban banyak melakukan kegiatan keagamaan, seperti buka bersama dan tadarus Alquran di malam hari. Masjid berkapasitas 600 orang itu tentu saja hanya boleh diisi maksimal separuhnya di masa pandemi seperti sekarang ini.

Maka bersyukurlah kita yang masih memiliki warisan budaya berumur ratusan tahun seperti halnya Masjid Tiban yang merupakan
perpaduan serasi antara agama Hindu dan Islam yang diwujudkan dalam bentuk masjid peninggalan salah satu wali songo yakni Sunan Kalijaga.

Masjid Tiban juga merupalkan saksi bahwa Sunan Kalijagaa pernah singgah di Purworejo dan meninggalkan bangunan bersejarah yang masih terpelihara hingga kini. (Nas)

 844 kali dilihat,  7 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *