M Harjanto: Ki Lurah Off-Road, Budayawan Otomotif, dan Kolektor Benda Langka

KOLEKTOR multi dimensi. Julukan itu tampaknya tepat ditujukan buat seorang M Harjanto atau yang kondang disapa Janto Ki Lurah Off Road. Betapa tidak. Janto dikenal memiliki hobi mengoleksi berbagai ragam “disiplin ilmu”.

Dari mulai kolektor pohon bonsai yang jumlahnya hampir mencapai seratus, kolektor barang antik, termasuk ratusan lesung, hingga kolektor batu akik yang fenomenal karena ukurannya yang super besar.

Pria gondrong itu juga “mengoleksi” puluhan burung langka. Puluhan lukisan pun turut dikoleksinya, termasuk lukisan Affandi yang dibelinya di tahun 1992. Dan tentu saja kolektor mobil nyleneh yang terparkir di “show room” belakang rumahnya yang luas.

Pantaslah kalau Janto menyebut dirinya sebagai satu-satunya off road seniman di Indonesia. Kecintaan Janto pada dunia otomotif dan juga seni membuatnya mendapat julukan Budayawan Otomotif.

Tapi tidak banyak yang tahu kalau bapak tiga orang putra itu adalah lulusan Akademi Analis Kesehatan. Entah apa yang dipikirkannya saat memilih jurusan yang sama sekali tidak relevan dengan dunia yang ditekuninya saat ini.

The Jungle Man saat off-road di tengah hutan

Tapi bagi Janto, hal itu tidak disesalinya. Pria kelahiran 22 September 1969 itu merasa sudah pernah merasakan berada di posisi puncak pada setiap aktivitas yang digelutinya. Disebutkan, dirinya sudah sering menjadi juara 1 pada even off road yang diikuti.

Posisi lain misalnya menjadi ketua pada beberapa organisasi dan kegiatan. Di BPBD Kabupaten Purworejo saat ini Janto tercatat sebagai Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana.

Sampai saat ini pun dirinya masih dipercaya menjadi Ketua Dewan Pengawas Indonesia Off Road Federation (IOF) Pusat. Suatu jabatan yang prestisius mengingat anggota IOF yang jumlahnya mencapai puluhan ribu di seluruh Indonesia.

Ya. Janto merasa dirinya sudah cukup dan kaya dalam segala hal.  Itulah sebabnya ia tidak pernah merasa iri dengan orang yang kaya. “Tapi saya selalu iri dengan orang yang berhati kaya,” ucapnya seperti berfilosofi.

Janto, istri dan ketiga puteranya

Tentang jalan hidupnya, dengan suara khasnya yang melengking Janto berkisah, “Selepas kuliah saya merantau ke Bali. Di sana saya bekerja di perusahaan persewaan mobil. Setelah beberapa tahun, saya pulang kembali ke Purworejo.”

Sulung dari tujuh bersaudara itupun menekuni dunia perbengkelan dengan cara membantu pakdenya yakni Pak Umar yang dikenal sebagai owner bengkel spesialis mobil Jeep dan mobil off road. “Saya dulu kontrak bersama Pak Umar di sini, di rumah yang akhirnya saya tempati ini,” kenang suami Atik Trumiyati itu.

Setelah Pak Umar membeli rumah di samping rumah yang dikontraknya, giliran Janto yang mengontrak rumah yang pernah ditempatinya bersama Pak Umar. 

Tak disangka, berkat ketekunan dan keuletannya, di tahun 2010 rumah dengan tanah seluas 2.000 meter itu dibeli Janto. Rumah itu berada di tepi Jalan Kaliboto Kecamatan Bener.

Tapi sebetulnya, jauh sebelumnya, yakni di tahun 1997 atau saat masih berusia 28 tahun pria yang juga hobi menyanyi itu telah memiliki delapan mobil. Setelah itu barulah ia menikah.

Batu akik raksasa koleksi Janto

Hobi off road telah ditekuni Janto sejak dirinya masih kuliah. Gelar Ki Lurah Off Road yang disandangnya tidak terlepas dari sosok idolanya yakni tokoh pewayangan Ki Semar yang mengemban tugas sebagai pamomong/penasehat para ksatria. Citra itulah yang dilukiskan Janto terkait dengan jabatan sebagai Ketua Dewan Pengawas IOF.

Janto yang juga dijuluki the Jungle Man itu menilai dirinya sebagai orang yang anti mainstream. “Misalnya, mobil harian yang saya pakai bukan mobil yang biasa digunakan orang kebanyakan. Ini mobil
Jeep langka tapi masih glowing,” ujarnya sambil menunjukkan Jeep J20 buatan tahun 1982 seharga Rp 260 juta yang berada di belakang tempatnya duduk.

Mobil  bercat biru muda itu terparkir di samping galeri seni yang sekaligus dijadikan Janto sebagai tempat bersantai dan menerima tamu. Di sana puluhan koleksi benda antik dan unik berusia puluhan bahkan ratusan tahun menemani pria bergigi gingsul itu bercerita.

Koleksinya antara lain tarantula purba yang diletakkan di dalam aquarium ikan mini berisi pasir. Juga ada tulang raksasa yang dipajang sepanjang sekitar dua meter. “Mbuh iki balung kewan opo, gedene ra umum,” jawabnya ketika ditanya.

Di sela-sela sesi wawancara, sesekali Janto menelepon koleganya. “Saya punya nomor kontak ribuan orang dan punya 70 grup dari berbagai komunitas,” katanya menyela.  Meski relasinya dari mulai petinggi sampai orang biasa, Janto mengaku ia hanya ingin menjadi orang biasa dengan prestasi luar biasa.

Janto dengan latar belakang Jeep yang jadi kendaraan hariannya

Selain itu, bapak dari Jihan (22), Viga (20), dan Nanta (18) itu sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik. “Banyak yang menawari saya masuk ke parpol mereka, tapi saya ndak mau. Emoh,”  katanya. Alasannya sederhana, ia sudah mendapatkan semua puncak jabatan. Jadi menurutnya, buat apa mencari yang sudah dimiliki.

Terkait dengan koleksi batu akik raksasa (berat 200 Kg) yang fenomenal, Janto berujar, hal itu dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada Purworejo. “Supaya Purworejo punya ikon baru,” jelasnya.

Di balik sikapnya yang santai, alumni SMA Muhammadiyah Purworejo itu sangatlah serius menekuni pekerjaan yang disebutnya sebagai bisnis hobi. Yakni yang berkaitan dengan servis dan jual beli mobil off road beserta spare part-nya yang langka. Peminatnya, kata Janto, berasal dari seluruh Indonesia.

Janto yang sudah melakukan off road di Timur Leste dan Malaysia itu mengaku tidak memiliki pengalaman yang tidak mengenakkan. “Ndak ada itu, karena hidup saya selalu menyenangkan,” ujar penyuka lagu Ebiet G Ade dan Lienol Richie itu.

Saat ini, Janto menyatakan sedang belajar untuk tidak marah. “Saya ingin hidup tenang, urip semeleh, seperti filosofi Ki Semar yang saya anut sampai saat ini. Itulah sebabnya saya merasa cukup dan bahagia dengan semua yang sudah saya miliki”.

Jadi, tidak ada yang kurang dari seorang Harjanto, Ki Lurah Off Road yang terus berusaha menjaga denyut seni dan otomotif secara harmoni untuk keseimbangan rohani dan hayatinya. (Yudia Setiandini)

 618 kali dilihat,  8 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *