Lawatan Bupati ke Eropa: Melacak Keberadaan Buku Babad Kedung Kebo di Negeri Kincir Angin

LEIDEN, BELANDA, Lawatan Bupati Purworejo Agus Bastian dan rombongan ke Eropa diawali dengan berkunjung ke Negeri Kincir Angin (Belanda). Misi utamanya yaitu mengembalikan sejumlah dokumen penting yang menyangkut catatan sejarah Purworejo yang sejak ratusan tahun tersimpan di Museum Leiden. Itulah yang diungkapkan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Purworejo, Drs Pram Prasetyo Achmad, MM, kepada pNews, di sela-sela kesibukannya mendampingi bupati di Museum Leiden, Selasa (18/6).

Sekedar diketahui, Museum Leiden terletak di Kota Leiden, Provinsi Zuid Holland atau Belanda Selatan. Leiden adalah salah satu kota terpenting di provinsi Zuid Holland maupun di Belanda secara umum, meski kota ini tidak terlalu besar. Di kota ini ada Universitas Leiden (Universiteit Leiden) yang ternama. Universitas Leiden adalah universitas tertua di negeri Belanda dan sudah didirikan pada tahun 1575.

Pram mengatakan, dari kunjungan di Museum Leiden baru diketahui bahwa di tahun 1933 buku Babad Kedung Kebo karangan RAA Tjokronagoro telah disalin oleh Theodoor Gautier Thomas Pigeaud, seorang sejarawan. Dokumen tersebut kini ada di perpustakaan University Leiden.

“Dari data katalog juga diketahui bahwa buku karya RAA Tjokronagoro itu setebal 300 halaman dan tersusun dalam huruf Jawa,”jelas Pram.

Menutut Pram, karena museum tidak menyimpan dokumen Babad Kedung Kebo (BKK), maka petugas museum tidak bisa memberi penjelasan lebih rinci. Hanya kalau tahun 1933 disalin, maka Pemerintah Hindia Belanda pasti paham posisi BKK yang asli berada di mana.

“Maka oleh Dubes RI di Belanda disarankan agar ditempuh cara Goverment to Goverment atau antarpemerintah. Dan Pak Bupati telah memberi beberapa pengarahan kepada kami,”tegas Pram Prasetyo.

Pram menduga, ada kemungkinan buku BKK berada di antara tiga tempat, yaitu di Belanda namun disimpan oleh Kerajaan, di Library University Leiden atau mungkin saja masih ada di Indonesia tapi tidak diketahui disimpan di mana.

“Karena petugas Museum Leiden memberi penjelasan bahwa yang bentuk manuskrip yang langka biasanya harus ada perlakuan khusus. Seperti pengaturan suhu ruangan dan pencahayaan yang sesuai dan dokumen tidak boleh bersentuhan langsung dengan tangan dan lain-lain,”jelas Pram.

Seberapa pentingkah keberadaan dokumen buku BKK bagi Pemkab Purworejo? Menjawab pertanyaan tersebut, Pram mengatakan, momentum sejarah akan memberi sentuhan edukasi yang kuat ketika data dukung lengkap.

“Keberadaan buku BKK bukan hanya soal hari jadi. Namun BKK bisa memberi lebih banyak informasi lain, baik terkait perkembangan kota, perkembangan sosio kultural dan beberapalandasan filosofis yang membantu memahami kondisi tertentu di masyarakat Purworejo,”katanya.

Pram lalu menganalogkan pentingnya buku BKK bagi daerah dengan selembar foto keluarga bersama anak tercinta saat usia 1 tahun. Menjadi sangat berharga ketika foto kenangan itu hilang.

“Ada nilai sangat penting yang tidak hanya berupa aspek edukasi akademis logis. Mungkin analog itu bisa membantu memahami pentingnya BKK bagi masyarakat Purworejo,” pungkasnya. (Nas)

Tinggalkan Komentar