Kurikulum yang “Listening First Approach” pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMP

Oleh: Andrian Nuriza Johan

PELAJARAN Bahasa Inngris adalah salah satu mata pelajaran yang wajib pada tingkat SMP dan SMA sederajat. Di semua pelajaran, pasti ada kuikulum yang dijadikan acuan dalam proses belajar-mengajar.

Saat ini kurikulum yang digunakan dalam mengajar adalah kurikulum 2013.  Di dalam kurikulum tersebut dinyatakan SK dan KD mata pelajaran Bahasa Inggris untuk SMP/MTs dan SMA/MA merupakan suatu kesinambungan dengan menggunakan format dan rumusan yang tidak berbeda. Perbedaan hanya pada ragam wacana yang tercakup, terutama pada teks fungsional.

Standar isi kurikulum Bahasa Inggris mencakup empat ketrampilan berbahasa yang berupa menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Semua ketrampilan berbahasa ini mulai diajarkan ketika siswa mulai belajar Bahasa Inggris.

Hal ini berarti ketika seorang mulai siswa belajar Bahasa Inggris, mereka dituntut untuk belajar empat ketrampilan  tersebut secara bersamaan.   

Belajar empat ketrampilan secara bersamaan  adalah hal tidak lazim ketika seseorang mulai belajar berbahasa. Mengacu ketika seseorang mulai belajar Bahasa Ibu yang dalam hal ini adalah Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia maka ketrampilan yang pertama dipelajari adalah menyimak. 

Setelah menyimak, ketramiplan selanjutnya adalah berbicara, kemudian diikuti dengan membaca, dan ketrampilan terakhir yang dipelajari adalah menulis. 

Menyikapi hal tersebut, ketika seorang siswa mulai belajar Bahasa Inggris  di SMP, maka  seyogyanya ketrampilan yang pertama dipelajari adalah menyimak (listening). 

Pada tahap ini siswa dilatih untuk banyak mendengarkan kata atau kalimat Bahasa Inggris yang diucapkan oleh guru atau melalui media lainnya. Melalui menyimak, pada tahap ini siswa diaharapkan dapat memperoleh input yang banyak mengenai kosakata dalam Bahasa Inggris. 

Hal ini sejalan dengan pendapat seorang ahli penguasaan Bahasa yang bernama Rost (1991). Rost (1991) menekankan pentingnya mendapat dan memahami input dalam penguasaan bahasa.

Penulis

Ahli Bahasa lain yang berpendapat bahawa ketrampilan menyimak harus di ajarkan terlebih dahulu sebelum ketrampilan yang lain adalah Davine (1982). 

Menurut Davine (1982) ketrampilan memyimak adalah prasyarat untuk mengembangkan ketrampilan yang lain, itu seharusnya diajarkan terlebih dahulu sebelum berbicara, membaca, dan menulis. 

Sementara itu, ada beberapa manfaat yang didapat seseorang ketika mereka belajar ketrampilan menyimak terlebih dahulu. Menurut  Dunkel (1986) kemampuan  berpengaruh besar pada kemampuan berbicara seseorang. Ini artinya kemampuan berbicara seseorang sebagian besar bergantung pada kemampuan menyimak.  

Manfaat menyimak yang lain adalah dengan menyimak, seseorang kemampuan berbahasa dan kosakata seseorang akan meningkat. Ini sejalan dengan Yun Kul (2010) yang menyatakan bahawa dengan menyimak maka kemampuan berbahasa, penggunaan bahasa, dan kosakata juga akan meningkat. 

Untuk mengakomodasi hal di atas, maka seyogyanya kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris di SMP menekanankan pada menyimak lebih dahulu sebelum ketrampilan yang lain. Penekanan pada menyimak ini disebut dengan Listening-First Approach.  

Model kurikulum Listening-First Approach pertama kali diperkenalkan oleh Postovsky (1975). Menurut Postovsky seseorang yang belajar asing hendaknya menunda untuk belajar berbicara sampai dia bisa memahami apa yang dikatakan orang lain. 

Dengan kata lain, seseorang yang belajar bahasa asing hendaknya mempunyai kecakapan menyimak yang bagus terlebih dahulu sebelum belajar ketrampilan berbicara. Kurikulum Listening-First Approach seyogyanya diterapkan padan siswa SMP kelas 7 dan 8 dimana pada umumnya siswa belajar Bahasa Inngris mulai kelas 7 SMP.  Dalam kurikulum tersebut siswa diberi kesempatan nutuk menyimak sebanyak mungkin. 

Sebagai kesimpulan, kurikulum Listening-First Approach bisa dijadikan pertimbangan untuk bisa diterapakan dalam pengajaran Bahasa Inggris SMP. Besar harapan pemerintah melalui Pusat Kurikulum dan Perbukuan bisa mengimplementasikan kurikulum ini suatu saat nanti. (**)

Penulis adalah Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Semarang, tinggal di Plaosan VI Purworejo

One comment

Tinggalkan Komentar