Kisah Pangeran Joyokusumo dan Galuhwati di Acara Bupati Saba Desa Banyuurip

BANYUURIP, Kegiatan Bupati Saba Desa di Desa Banyuurip, Kecamatan Banyuurip, Senin (22/7) malam disuguhi penampilan drama kolosal Babad Banyuurip. Babad Banyuurip yang ditampilkan oleh Karang Taruna Tunas Jaya Desa Banyuurip cukup memukau bupati dan tamu undangan lainnya.

Drama kolosal Babad Banyuurip secara singkat menceritakan perjalanan Nyi Putri Galuhwati dan Pangeran Joyokusumo setelah diusir dari Majapahit.

Diceritakan, siang malam kedua kakak beradik tersebut melintasi hutan belantara dan suatu ketika sampai di daerah ini. Karena kehausan, adiknya yaitu Galuhwati minta air.

Seketika Pangeran Joyokusumo mencabut keris pusakanya yang bernama Kyai Panubiru dan menancapkannya ke tanah sehingga keluar air. Air tersebut kemudian digunakan untuk minum dan mandi.

Karena air itu menyegarkan kembali dan memberi kehidupan (urip) pada warga sekitarnya, maka daerah tersebut diberi nama Banyu Urip. Tempat pertapaan Pangeran Joyokusumo disebut Punden Perigi, yang berarti dipurugi (didatangi dari jauh yaitu Majapahit) menuju tempat itu.

Sementara dalam sambutanya Bupati Purworejo Agus Bastian mengatakan, kegiatan Bupati Saba Desa merupakan media silaturahmi Bupati Purworejo beserta jajarannya ke desa-desa yang tersebar di wilayah Kabupaten Purworejo.

Dengan adanya kunjungan dan interaksi langsung seperti ini, diharapkan dapat mendukung pengembangan potensi yang ada di desa yang dikunjungi maupun desa-desa di sekitarnya.

Kegiatan saba desa juga merupakan salah satu bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap perkembangan dan kemajuan masyarakat desa.

Kegiatan yang diintegrasikan dengan program dan kegiatan di Perangkat Daerah ini, diharapkan juga menjadi daya ungkit percepatan pembangunan desa.

“Karena kita menyadari desa merupakan ujung tombak pembangunan daerah, dimana apabila desa-desanya maju maka akan maju pula daerah tersebut, demikian pula sebaliknya,”kata bupati. (W5)

Tinggalkan Komentar