Kisah Pak Haji, Pelopor Sate Balungan Ayam, Kuliner Klangenan di Purworejo

PURWOREJO, Sate balungan ayam menjadi salah satu jujugan para pecinta kuliner tengah malam yang ada di kota Purworejo. Seperti yang dijual oleh sepasang suami istri Paiman Yanto Miharjo (67) dan Sainem (65). Keduanya telah berjualan sate balungan ayam sejak puluhan tahun lalu, berpindah dari satu tempat ke tempat lain sebelum akhirnya kini menetap berjualan di TBA seputar Alun-alun Purworejo.

Ditemui Purworejo News, Paiman yang berasal dari Solo itu menjelaskan, dirinya mulai menetap di Purworejo sejak tahun 1977, dengan kondisi tempat tinggal yang masih berpindah-pindah kontrakan.

Paiman yang akrab dipanggil Pak Haji itu bercerita, di tahun 1984 dirinya yang dikaruniai dua anak itu memulai bisnis kuliner kecil-kecilan di samping jalan raya Plaosan dekat SD Muhammadiyah Purworejo. “Dulu penjual sate di Purworejo masih sepi, Mas” ujarnya.

Didampingi istrinya, Bu Haji, Paiman mengenang, dulu pertama jualan sate di Plaosan paling habis satu kg daging ayam. “Dulu masih pakai tenggok ditutupi baki,” tutur Bu Haji.

Sampai tahun 1990 keduanya masih jualan sate balungan ayam sembari menambah porsi sedikit demi sedikit. Di tahun itu juga mereka memutuskan menetapkan tempat tinggalnya, tidak mengontrak lagi.

Pak Haji dan Bu Haji tekun berbisnis sate balungan

Di samping itu usaha yang dijalankan itu merupakan pemasukan utama keluarganya yang digunakan untuk biaya sekolah anaknya juga.

Hingga tahun 1995, Pak Haji dan Bu Haji melebarkan sayap bisnisnya, pindah jualan sate balungannya di depan Masjid Agung Alun-alun Purworejo. Di sanalah keduanya memantapkan jati diri bisnisnya itu.

Sate balungan Pak Haji mulai dikenal masyarakat Purworejo dan rombongan wisata religi yang kebetulan mampir di masjid agung untuk ishoma.

Selain rasanya yang enak, pembeli pun merasakan keunikan sate balungan berbumbu yang dihidangkan bersama sate lontong.

Proses membakar sate yang dilakukan karyawatinya

Seiring berjalannya waktu masyarakat Purworejo juga banyak yang meniru usaha mereka dan ikut-ikutan jualan sate yang ada balungannya. Meski begitu keduanya legowo karena bagaimanapun mereka dikenal sebagai pelopor sate balungan di Purworejo yang kemudian menjadi makanan khas.

Tempat jualan mereka juga cukup sederhana, karena hanya membutuhkan payung gantung dan lampu cantel serta alas karpet plastik lesehan untuk tempat makan pelanggan. Kemasannya pun hanya menggunakan daun pisang dan koran bekas jika dibungkus. Sedangkan jika dimakan di tempat ditambah piringan kayu untuk alasnya.

Tidak seperti penjual sate biasannya, proses pembuatannya pun lain dari biasanya. Jika biasannya sate dibakar di tempat, tapi sate balungan ayam Pak Haji dibakar di rumahnya. Artinya Pak Haji menjual satenya dengan siap saji alias sudah matang.

“Pukul 11.30 ayam datang ke rumah, kemudian dipotong-potong, sekalian ditusuk. Mulai buat lontong dari pukul 12.00 sampai 19.00. Masak bumbunya mulai pukul 23.00, tinggal siap-siap, mulai buka pukul 02.00 dini hari,” tutur Bu Haji.

Proses menusuk daging ayam menjadi sate

Konsep sate balungan yakni, sate lontong ditambah tulang ayam yang masih ada sedikit dagingnya setelah diirisi menjadi bagian-bagian kecil daging kemudian ditambah bumbu kacang. Jika pembeli menginginkan pedas cukup ditambah potongan cabai kecil-kecil dengan bawang merah yang menjadikan citra rasa sate balungannya nikmat untuk disantap.

Adapun menu yang disajikan sate balungan berupa sate kulit, ceker, kepala ayam beserta balungan yang diberi bumbu.

Jika dibandingkan saat awal berdiri, kini per hari sate balungan ayam Pak Haji memproduksi 25 kg daging ayam dan beras 27 kg. Jika dihitung satu kg daging ayam bisa untuk 45-50 tusuk sate, maka setiap harinya mereka memproduksi 1.250 tusuk sate.

Pak Haji dan Bu Haji dikaruniai dua anak yakni Sri Anjari (44) dan Didi Arianto (40) yang kini menetap di kota Purworejo. Mereka mantap berbisnis sate balungan ayam yang mampu menjadi menu klangenan para pecinta kuliner dini hari. (M/Saiful)

Tinggalkan Komentar