Ketua PGRI Jawa Tengah: Perjuangkan Guru Honorer yang Jadi Penyelamat Pendidikan

PURWOREJO, Guru honorer yang masih muda dan melek teknologi adalah penyelamat pendidikan saat pandemi. Mereka tidak hanya mengajar kepada muridnya tapi juga sesama guru. Di masa pandemi hanya 17% pendidik yang siap mengajar dengan sistem daring.

“Tapi sayangnya para guru honorer yang usianya di bawah 35 tahun itu belum mempunyai status sehingga harus terus diperjuangkan oleh PGRI,” tegas Ketua PGRI Jawa Tengah Dr Muhdi, MH, M.Hum di sela acara Konferensi Kerja PGRI Kabupaten Purworejo yang digelar hari Minggu (26/6), di Aula Gedung PGRI Purworejo.

Muhdi juga menjelaskan, di Jawa Tengah ada sekitar 120 ribu guru honorer yang harus diperjuangkan. “Terbanyak di Kabupaten Cilacap sekitar 5 ribu orang. Di Purworejo ada sekitar 2.400 orang,” jelas mantan Rektor UPGRIS tersebut.

Lebih lanjut Muhdi menyatakan bahwa Purworejo menjadi tempat bersejarah bagi lahirnya Undang-Undang Guru. “Di tempat inilah dulu banyak guru yang menangis memperjuangkan nasib mereka,” ujarnya.

Muhdi menambahkan, PGRI yang lahir di era kemerdekaan harus mempertahankan NKRI sebagai harga mati. Setelah itu, PGRI berjuang untuk kemajuan pendidikan. Selanjutnya barulah memuliakan atau mensejahterakan guru.

Irianto Gunawan

Menurutnya, guru unggul adalah yang kapabel dan sejahtera. Adapun generasi unggul adalah yang kompeten dan berkarakter. Generasi muda Indonesia, lanjutnya, selain merupakan bagian dari bonus demografi juga mendapatkan bonus digital. Juga mendapatkan bonus Keindonesiaan.

Dengan adanya ketiga bonus tersebut maka munculah istilah Pelajar Pancasila yang diharapkan berwawasan global, berkarakter, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Terkait kesejahteraan guru dengan tegas Muhdi mengatakan bahwa tunjangan guru bukan gratisan. “(Tunjangan guru) Itu menjadi tanggung jawab untuk menjadikan murid yang berkualitas,” tegasnya.

Di sisi lain Ketua PGRI Kabupaten Purworejo Irianto Gunawan menyampaikan bahwa misi yang diembannya adalah menjadikan guru yang solid dan mempunyai solidaritas. Itulah sebabnya melalui PGRI dirinya terus memperjuangkan pengangkatan guru honorer menjadi P3K.

Irianto berharap PGRI dapat bertransformasi untuk meningkatkan pelayanan kepada anggotanya agar mendapat tempat di masyarakat.(Dia)

Tinggalkan Komentar