Keren, Siswa SMAN 1 Purworejo Ciptakan Alat Monitoring Lokasi dan Kecepatan Motor

PURWOREJO, Berawal dari rasa penasaran lima siswa SMAN 1 Purworejo saat salah satu teman mereka kehilangan dompet, timbullah ide untuk menciptakan alat pendeteksi benda. Pada saat sudah ditemukan alatnya, ternyata terlalu ribet untuk dipasang di dompet. Akhirnya dipilihlah sepeda motor untuk menaruh alat yang berfungsi sebagai monitoring lokasi dan kecepatan yang kemudian diberi nama Monolok (monitoring lokasi dan kecepatan).

Adalah Arifah Rahmawati, Bagas Widi Saputra, Jati Kurniawan, Nazwa Aulia Febriyanti, Veronika Putri Gantari, kelimanya siswa kelas XI MIPA 2 yang menciptakan Monolok. Karya tersebut menjadi salah satu gagasan inovatif yang dipresentasikan pada Lomba Krenova Kabupaten Purworejo tahun 2022.

Kepada Purworejo News Bagas pun menjelaskan cara kerja Monolok yang
digunakan untuk memonitor kecepatan serta berfungsi sebagai pengawasan berdasarkan sinyal GPS itu.

“Komponen yang digunakan merupakan accu 12 volt yang disambungkan ke saklar dan modul step down untuk menurunkan voltase dari 12 volt menjadi 5 volt. Lalu dihubungkan dari micro contoler ke mode ESP 32. Fungsinya untuk mengolah data dari GPS yang selanjutnya mengirim pesan ke nomor yang sudah dicatat,” rinci Bagas, Senin (26/9).



Ditambahkannya, Monolok ditaruh di bagasi motor yang disambung ke accu. Selain berfungsi untuk memonitor kecepatan dan lokasi yang bisa dipantau oleh orang tua, Monolok juga dilengkapi fitur tombol darurat yang bila ditekan akan mengirimkan lokasi dan pesan peringatan darurat.

Lima siswa SMAN 1 Purworejo pencipta “Monolok”

“Dengan kelebihan tersebut, apabila si pengguna Monolok mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, bisa terdeteksi tanpa menghubungi orang tua terkait lokasinya berada, cukup menekan tombol darurat saja” jelas Bagas.

Monolok memang dirancang untuk menguragi risiko kecelakaan dan memantau lokasi. Itulah sebabnya pada alat ini dilengkapi fungsi over speed 50km/jam. Jadi sebelum melebihi batas kecepatan ada buzzer untuk mengingatkan pengendara bahwa kendaraannya hampir melebihi batas kecepatan.

Meski demikian, harga Monolok masih relatif mahal yakni Rp 639 ribu. Itu karena komponennya masih sulit. Mereka pun berharap akan ada revisi alat agar bisa menekan harga produksi. Kelima siswa inovatif itu pun berencana melakukan pengembangan yakni mematikan kelistrikan motor apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Bagi orang tua yang putra putrinya mengendarai sepeda motor saat beraktivitas terutama di tempat yang jauh dari rumah pun tentu akan sangat terbantu dengan keberadaan Monolok. Mereka tidak perlu lagi kuatir bila anaknya berkendara secara over speed dan hal-hal lain yang tak terduga. (Dia)

One comment

Tinggalkan Komentar