Kerak Telor, Kuliner Khas Betawi yang Selalu Hadir di Arena Pameran

PURWOREJO, Kerak telor. Entah mengapa, kuliner khas Betawi itu kerap kali hadir di setiap event pameran, bahkan seolah menjadi ikon khas gelaran pasar rakyat termasuk di Purworejo. Kerak telor hampir selalu hadir di arena pameran atau expo di mana pun.

Dalam gelaran Pekan Raya Purworejo (PRP) yang dihelat di halaman Makodim Purworejo mulai Kamis hingga Minggu ini, ada empat penjual kerak telor. Semuanya laris manis, terutama di malam hari.

Banyak pengunjung yang membeli kerak telor yang dibandrol dengan harga Rp 25 ribu per porsi itu. Sebagian mengaku sudah pernah mencicipinya, tapi tak sedikit pula yang membeli karena penasaran dengan kuliner berbahan baku beras ketan putih, telur bebek, serundeng, dan abon itu.

Seperti inilah wujud kerak telor

Membuat kerak telor pun tak butuh waktu lama. Purworejo News yang menyambangi pedagang kerak telor di arena PRP pada Jumat (27/8) malam mengkalkulasi, tak sampai dua menit kerak telor siap disajikan.

Dengan menggunakan penggorengan logam, Riyanto (30) dan Riki (22), dua penjual kerak telor di arena PRP, cekatan melayani pembeli.
Tidak menunggu lama, pembeli langsung disodori kerak telor yang dipesan.

Proses pembuatan satu porsi kerak telor pun sangat mudah. Segenggam beras ketan putih yang telah direndam seharian, diberi sedikit air lalu dipanaskan menggunakan wajan di atas anglo (tungku tembikar).

Proses memasak kerak telor

Setelah setengah matang, masukkan telur bebek, abon, dan serundeng lalu diaduk merata. Bagi yang menyukai pedas, dapat ditambahkan bubuk cabe sebelum diaduk merata.

Sambil dipanaskan di atas anglo, adonan dibentuk bulat dan pipih. Bila bagian bawah sudah dirasa kering, wajan dibalik beberapa saat untuk mematangkan bagian atas kerak telor yang masih agak basah.

Setelah matang, kerak kelor dikeluarkan dari wajan dan ditaburi abon. Cara makan kerak telor pun sebenarnya mirip dengan kebab, yakni digulung dulu, barulah disantap.

Pengunjung PRP antre membeli kerak telor

Cita rasa kerak telor, meski tidak memakai garam atau bumbu penguat rasa lainnya, terasa gurih. Itu karena paduan abon dan serundeng yang dicampur dengan telur bebek.

Aroma amis telur bebek pun tidak terasa, karena disangrai dan berpadu dengan beras ketan putih serta abon dan serundeng. Seperti kata Sarkan (23) penyuka kerak telor.

Mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di Magelang itu mengaku menyukai kerak telor karena rasanya yang khas. “Lagipula ini kuliner musiman, karena cuma ada di arena pameran,” katanya.

Ya, itu karena di Purworejo sampai saat ini memang belum dijumpai penjual kerak telor selain saat ada event pameran atau ekspo. Jadi, Anda tertarik untuk berjualan kerak telor? (Dia)

One comment

Tinggalkan Komentar