Kasus Peretasan WA, Plt Kadinkominfo: Hati-hati Pinjamkan HP kepada Orang Lain

PURWOREJO, Terkait dengan peristiwa yang menimpa Kepala SMPN 3 Purworejo, Tarmiyah Temu, S.Pd, M.Pd, Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Purworejo, Stefanus Aan Isa Nugroho SST.P, MM, menjelaskan, media sosial seperti WhatsApp, Telegram dan Messenger memiliki tingkat keamanan yang tinggi.

Selain itu pesan yang terkirim juga sudah merupakan pesan yang terenkripsi atau sudah diamankan dengan menggunakan kode tertentu.

“Jadi sebenarnya agak sulit untuk meretas atau melakukan hacking secara langsung,” kata Aan, Kamis (21/1).

Meski begitu, lanjut Aan, tetap ada celah yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan hal-hal tertentu. Seperti mengintip isi pembicaraan, mengambilalih medsos dan bahkan handphone korban.

Dari kategori pelaku ada dua memungkinan, yaitu dilakukan peretas yang memiliki kemampuan IT yang hebat atau dilakukan masyarakat secara umum.

Aan memberi penjelasan, yang dilakukan oleh peretas yang memiliki kemampuan IT,  yang paling sering adalah dengan menggunakan spyware atau perangkat pengintai. Ini merupakan program berbahaya yang masuk  ke dalam sebuah sistem untuk mencuri data atau merusak sistem pengguna. Peretas pada sistem ini disebut Hacker. Bahaya dari program seperti ini,  Kata Aan, bisa sampai mengambilalih perangkat korban seluruhnya. 

Sedangkan peretas  yang dilakukan oleh masyarakat biasa, yakni bisa melalui aplikasi yang banyak tersedia di Play Store ataupun Appstore atau menggunakan WhatsApp Web yang merupakan fasilitas dari aplikasi WhatsApp. Aplikasi di Play Store atau Appstore yang sering digunakan untuk peretas yakni aplikasi seperti ClonApp, AirDoid, Mobile Client, dan Whatsweb plus. 

“Tapi semua aplikasi tersebut membutuhkan QR code dari HP korban. Artinya pelaku tetap akan menyentuh HP korban untuk melakukan scan QR code melalui aplikasi tersebut sebelum dapat melihat atau menduplikat WhatsApp. Sedangkan WhatsApp Web digunakan untuk memudahkan melakukan komunikasi dengan laptop atau PC”.

Hal tersebut berpotensi kelalaian korban apabila lupa belum ditutup dan kemudian laptop atau PC tersebut dipakai orang lain yang otomatis dapat mengakses seluruh percakapan WA. Selain itu, potensi penyalahgunaan WA Web juga dapat dilakukan oleh orang lain menggunakan laptop atau PC miliknya dengan mengambil HP korban dan melakukan scan QR code menggunakan HP tersebut.

Terkait dengan kasus yang menimpa Tarmiyah Temu, Aan berpesan, agar tidak perlu panik saat ada orang lain yang dapat mengirimkan pesan melalui akun WA. Langkah pemulihan  yang dilakukan, yakni cukup install ulang aplikasi WA di HP, masukkan Nomor WA. Selanjutnya pilih kode OTP dikirim melalui SMS. Pastikan simcard dari nomor yang dimasukkan masih aktif dan ada di HP.

Berikutnya dari pihak WA akan mengirimkan 6 digit kode One-Time Password (OTP) melalui SMS. “Masukkan 6 digit kode tersebut. Akun WhatsApp Anda sudah kembali, ” ujar Aan.

Dirinya berpesan agar hati-hati dalam meminjamkan HP ke orang lain atau meletakkan HP sembarangan dengan posisi terbuka karena QR code pada WA dapat. sewaktu-waktu discan.

“Jangan lupa menutup WA Web apabila sudah selesai dan laptop atau PC yang akan digunakan orang lain. Juga jangan mudah meng-klik tautan yang tidak kita kenal sumbernya karena dapat saja itu merupakan tautan malware berbahaya,” pungkasnya. (Dia)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *