Kalaedoskop 2020: Keraton Agung Sejagat Lambungkan Purworejo ke Seantero Jagat

SALAH SATU peristiwa yang jadi catatan penting mengawali tahun 2020 di Purworejo, yaitu deklarasi berdirinya Keraton Agung Sejagat (KAS) di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan.

Kemunculan KAS di awal 2020 itu langsung viral dan jadi topik berita hampir seluruh media lokal dan nasional. Bahkan lokasi keraton jadi destinasi wisata baru yang banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah.

Berikut ini rangkuman berita seputar aktivitas KAS, dari awal deklarasi hingga berujung di penjara, dari berbagai sumber.

Peristiwa yang kemudian viral ke seluruh penjuru Tanah Air bahkan dunia itu berawal dari acara Wilujengan dan Kirab Budaya pada Jumat (10/1) hingga acara sidang kerajaan Minggu (12/1) 2020.

KAS dipimpin oleh seorang raja yang bernama Totok Santosa Hadiningrat. Ia juga memiliki seorang istri yang bernama Dyah Giatrja yang sering dipanggil Kanjeng Ratu.

Kirab Budaya KAS

KAS memiliki istana yang berada di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan. Mereka mengklaim memiliki 450 pengikut. Kekuasaan Sang Raja pun tidak terbatas hanya di wilayah Purworejo, tapi melebihi Indonesia bahkan seluruh dunia.

Seperti dilansir Kompas.com, Sang Raja Keraton Sejagat Totok Santoso Hadiningrat menyatakan bahwa KAS adalah induk dari seluruh negara di dunia.

Selain itu Totok menyebut KAS menjadi wadah terkait konflik yang terjadi di dunia saat ini dan ia adalah Rakai Mataram Agung yang menjadi juru damai dunia.

“Kita umumkan kepada dunia Keraton Agung Sejagat sebagai induk daripada seluruh kingdom state tribune colony atau republik yang ada di dunia ini menyatakan menjadi jondang (kotak) terhadap konflik yang terjadi di seluruh dunia,” kata Totok dilansir dari Tribunnews.com.

Beberapa hari jadi sorotan dan mulai meresahkan masyarakat, akhirnya Polda Jawa Tengah menangkap dan menahan Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat di Purworejo.

Raja dan Ratu KAS

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Polisi Iskandar F Sutisna membenarkan penahanan itu.

“Malam ini ditahan dan akan dibawa ke Polda Jawa Tengah,” ujar Iskandar, Selasa (14/1).

Dari informasi yang dihimpun, penangkapan itu didasarkan atas keresahan masyarakat akibat kehadiran keraton di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan.

Dan setelah menjalani persidangan berkali-kali, Totok Santosa, yang menyebut dirinya sebagai pemimpin Keraton Agung Sejagat, bersama istrinya, Fanni Aminadia, divonis bersalah “menyebarkan berita bohong” dan dihukum penjara masing-masing empat tahun dan satu tahun enam bulan oleh Pengadilan Negeri Purworejo.

Dalam sidang pembacaan vonis yang digelar secara daring, Selasa (15/09), Toto dan Fanni terbukti “menyiarkan berita bohong” dan pemberitahuan bohong dengan sengaja”.

“Terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat sebagaimana dalam dakwaan primer JPU,” kata ketua majelis hakim, Sutarno, dalam amar putusannya.

“Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa satu, Totok Santoso dengan pidana penjara selama empat tahun dan terdakwa dua, Fanni Aminadia dengan pidana penjara selama satu tahun enam bulan,” ungkap majelis hakim, seperti dilaporkan Detikcom. (Redaksi)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *