Jemaat Lansia Dominasi Ritual Tahun Baru Imlek di Kelenteng Thong Hwie Kiong Purworejo

PURWOREJO, Perayaan tahun baru Imlek di Kelenteng Thong Hwie Kiong Kelurahan Baledono Kecay Purworejo berupa ibadah tutup tahun pada Sabtu (21/1) malam diikuti 19 jemaat yang didominasi para lansia. Antara lain Halim Trisno Wijoyo (80) dan Lie Sauw Tun (76). Bersama jemaat lainnya, mereka melakukan ibadah tutup tahun pada pukul 21.00 di pelataran kelenteng yang telah berumur ratusan tahun itu.

Dalam hitungan Tionghoa, tahun 2574 ini merupakan pergantian dari shio macan ke kelinci. Dikutip dari laman China Highlights, arti shio kelinci adalah umur panjang, kedamaian, dan kemakmuran dalam budaya Tiongkok.

Sambil menunggu saat pemberian ucapan selamat tahun baru Imlek yang dilaksanakan pada pukul 23.30, pemimpin doa Tjan Giok Lan (72) mengungkapkan, ibadah penutupan tahun merupakan bentuk doa memohon diberi keselamatan dan kemudahan rejeki kepada para dewa.

Cik Lan pun membenarkan peserta ibadah didominasi oleh para lansia. Menurutnya saat ini banyak generasi muda Tionghoa yang beralih dari Konghucu ke agama Kristen atau Katolik. “Keluarga muda memang banyak yang memilih jadi Kristen atau Katolik,” ucapnya.

pemimpin doa Tjan Giok Lan (Cik Lan)

Cik Lan menyebutkan bahwa di kelenteng tersebut hanya dua orang yang asli beragama Konghuchu, termasuk dirinya. Selebihnya merupakan penganut agama Kristen atau Katolik namun masih menganut agama tradisi di kalangan Tionghoa yakni Konghucu.

Selain itu Cik Lan menengarai ketidakhadiran para jemaat karena mereka telah melakukan ibadah sembahyang memanggil leluhur untuk makan bersama di rumah masing-masing pada siang sebelumnya (Sabtu). Dalam ritual itu mereka memberikan sesaji antara lain berisi buah dan makanan khas untuk para leluhur.

Menurutnya, ritual tersebut bisa berlangsung lama, tergantung dari permintaan arwah leluhur selama jamuan berlangsung. Ia pun menjelaskan prosesi penutupan ritual tersebut.

Yakni dengan membalikkan dua koin. Apabila dua koin sama sisinya berarti ritual belum boleh berakhir. Tetapi kalau salah satu sisi berbeda berarti para leluhur sudah selesai dan mereka akan kembali ke alamnya.


Tepat pada pukul 23.30, jemaat kembali berkumpul untuk saling memberikan ucapan selamat tahun baru Imlek. Namun sebelumnya mereka saling melakukan semacam refleksi akhir tahun dengan menyampaikan keinginan masing-masing di depan jemaat lainnya.

Saling memberikan ucapan tahun baru Imlek antar jemaat

Seperti disampaikan salah satu tokoh Tionghoa, Samar. Menurutnya Tahun kelinci harus harmonis, meski tidak cocok. “Kalau tidak cocok ya bagaimana caranya agar cocoklah, jangan menimbulkan persengketaan,” ucapnya.

Hal itu sejalan dengan yang disampaikan Cik Lan agar para jemaat hidup rukun, segala sesuatunya diselesaikan dengan pikiran yang dingin agar hasilnya lancar.

Setelah saling mengungkapkan harapannya di tahun baru, tepat pada pukul 24.00 para jemaat saling memberikan ucapan selamat tahun baru Imlek.

Personil dari Polsek Purworejo tampak mengamankan jalannya ibadah sejak sore hingga prosesi berakhir.

Umat Konghucu pun akan kembali melakukan ritual sembahyang pada tanggal 25 Januari mendatang, termasuk bagi-bagi angpau yang merupakan tradisi turun temurun. (Nas)

Tinggalkan Komentar