Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki, Pelaku Usaha di Desa Jogoboyo Purwodadi Curhat

PURWOREJO, Pelaku usaha yang sudah menanamkan modalnya membangun rumah makan dan penginapan di Desa Jogoboyo, Kecamatan Purwodadi curhat kepada media. Pasalnya investasi senilai ratusan juta rupiah yang lokasinya berada di pinggir muara Sungai Bogowonto itu mangkrak akibat akses jalan menuju tempat usaha mereka tak kunjung diperbaiki. 

Hal itu terjadi sejak Balai Besar Wilayah Sungai Serayu melalui PT Brantas Adipraya membangun proyek Pengaman Muara Sungai Bogowonto. 

Dalam jumpa pers yang dihadiri belasan media, Jumat (10/6) di RM Dargo Pangen, kedua investor tersebut yakni Yana Karyana didampingi Anton yang mewakili Aminanto, menceritakan kronologinya.  

Sekitar bulan November 2020 yakni ketika belum ada proyek pengaman muara Sungai Bogowonto, baik Yana maupun Amin membangun lahan usaha berupa rumah makan dan penginapan. Saat membuka usaha itupun, keduanya telah mendapatkan izin dari desa.

Dalam penuturan Anto (yang mewakili Amin) disebutkan, nilai investasi yang telah keluarkan masing-masing berkisar Rp 800 juta. Yana menimpali, kondisi rumah makan yang dibangunnya sudah 95% rampung.

Permasalahannya, menurut Anto, akses jalan di sepanjang tempat usaha mereka rusak parah akibat dipakai untuk melintas kendaraan-kendaraan tronton dan alat berat lain milik PT Brantas Adipraya.

Jalan rusak di Desa Jogoboyo yang rusak

“JIka musim hujan maka jalan tersebut tidak bisa dilewati oleh kendaraan biasa. Bahkan pengendara sepeda motor sekalipun perlu kerja keras untuk bisa melewatinya,” kata Anto sambil memperlihatkan foto jalan rusak yang dimaksud.

Katanya, sebagian jalan memang telah diperbaiki secara baik dengan pengecoran, tetapi jalan sepanjang sekitar 300 meter lainnya yang kebetulan persis di depan usaha penginapan dan rumah makan yang dibangun, sama sekali tidak diperbaiki. 

“Untuk mengakses tanah sendiri praktis tidak bisa. Sekali lagi ini adalah bentuk kedholiman,” keluh Yana di hadapan media. Berbagai upaya, menurutnya, sudah dilakukan agar rumah makan serta usaha penginapan bisa mulai beroperasi.

Yana mengakui bahwa pihaknya telah melakukan upaya komunikasi dengan pihak pelaksana proyek untuk mau memperbaiki jalan tersebut, seperti halnya jalan desa lain yang juga dicor dengan beton.

Tetapi sampal saat ini, kata Yana, sudah hampir dua tahun ini belum diperbaiki sehingga dapat dilalui secara normal sebagaimana sebelum pengerjaan proyek berlangsung. 

Menurut penuturan keduanya, pihak PT Brantas Adipraya pun telah menyerahkan persoalan itu kepada PT Bumi Karsa yang menangani permasalahan tersebut.

Belasan awak media diundang dalam jumpa pers hari ini

Yana mengakui, memang jalan desa tersebut sudah disetujui masyarakat untuk dipakai. Bahkan sebagian tanah masyarakāt temāsük tanah miliknya disewa untuk pelebaran jalan oieh PT Brantas Adipraya selaku pelaksana proyek.

Senada dengan Yana, Anto mengatakan bahwa walaupun telah disewa, bukan berarti (jalan) bisa dirusak. “‘Padahal jika usaha kami sudah berjalan, maka akan banyak kegiatan ekonomi yang bisa dilakukan oleh warga setempat. Jadi mereka bisa semakin berdaya dalam bidang ekonomi,” tegas Anto.

Pihaknya mengaku sudah mulai putus asa dengan persoalan ini. Mereka pun bermaksud untuk mengontrakkan investasi usaha tersebut kepada pihak lain. Mereka hanya meminta kepada pengelola proyek untuk bisa memperbaiki akses jalan sehingga bisa diialui oieh kendaraan biasa. 

Terkait permasalahan tersebut, Humas PT Bumi Karsa, Heri saat pertama kali dihubungi memberi penjelasan melalui beberapa lembar kertas, berisi kuitansi, surat perjanjian berisi sewa menyewa tanah dan ganti rugi tanaman di Desa Jogoboyo serta surat kuasa.

Dalam kuitansi dan surat perjanjian pada tanggal 22 April 2021 itu disebutkan pihak kesatu yakni Sarif Barakati selaku manajer project Bumi Karsa Abipraya menyewa tanah dan ganti rugi tanaman di Desa Jogoboyo kepada pihak kedua yakni Yana Karyana dengan total senilai Rp 9.972.000.

Dalam perjanjian tertera bahwa sewa menyewa dan ganti rugi tersebut berlaku dari tanggal 22 April hingga tanggal 22 Oktober 2022 atau 1,5 tahun. Kesepakatan tersebut diketahui oleh Kepala Desa Jogoboyo, Joko Wahyana.

Berikutnya, dalam surat kuasa disebutkan pihak Yana Karyana memberikan kuasa kepada Moh Hamidi untuk menerima pembayaran ganti rugi dari pihak kesatu. Surat tersebut tertanggal 26 April 2022.

Heri pun menerangkan bahwa  pihaknya baru saja rapat dengan BBWSSO di Yogyakarta. “Tentang masalah ini sudah dilaporkan. Saya hanya pelaksana di lapangan saja, tidak berhak memberikan keterangan. Keterangan akan diberikan oleh BBWSSO,” tulis Heri saat diminta keterangannya. (Dia)

Tinggalkan Komentar