Inovasi Clorot Instan Karya Siswa SMAN 7 Purworejo Maju ke Lomba Krenova Provinsi

PURWOREJO, Clorot adalah makanan khas Purworejo yang berasal dari Kecamatan Grabag. Dibuat dari adonan tepung beras, tepung sagu, gula aren dan santan, yang dimasukkan ke dalam sebuah wadah semacam selonsong terbuat dari janur, kemudian dikukus.

Cara makannya pun unik. Yakni mengeluarkan isinya dengan cara didorong bagian bawah selonsong menggunakan jempol atau jari telunjuk.

Karena merupakan makanan khas dan memiliki keunikan, tak jarang orang yang berkunjung ke Purworejo ingin menjadikan clorot sebagai oleh-oleh.

Tapi sayangnya, kue khas ini mudah basi, karena hanya bisa bertahan maksimal dua hari. Belum lagi waktu perjalanan yang harus ditempuh, sehingga orang akan berpikir ulang untuk membawa clorot sebagai buah tangan.

Tapi berkat karya inovatif dari siswa-siswi SMAN 7 Purworejo (Smansev), terciptalah produk clorot yang tahan lama, diberi nama Clorotan, singkatan dari Clorot Instan.

Produk inovatif tersebut berhasil menjadi Juara 3 pada ajang Lomba Krenova Kabupaten Purworejo tahun 2021, dengan judul Clorotan, Clorot Instan Asli Purworejo,  
menyisihkan ratusan karya peserta lainnya.

Selanjutnya produk prestisius tersebut akan mengikuti Lomba Krenova tingkat Provinsi Jawa Tengah yang rencananya akan digelar pada bulan Maret tahun 2022.

Produk inovatif Clorotan digawangi empat siswi kelas XII MIPA Smansev. Mereka adalah Fiersta Endhar Permata (ketua kelompok), dengan anggota Desi Susanti, Novita Mega Arba, dan Venda Putri Nirmala. Mereka dibimbing oleh Fitria Rahmawati, M.Pd, seorang guru mapel Kimia di sekolah tersebut.

Fitria Rahmawati, S.Pd

Saat ditemui Purworejo News pada Rabu (24/11), Fiersta mengungkapkan, konsep atau ide membuat Clorotan seperti halnya membuat mi instan, yakni hanya membutuhkan waktu singkat untuk membuatnya, serta praktis dan awet.

“Terlebih bagi yang ingin membuat sendiri clorot, maka Clorotan-lah solusinya. Selain itu juga bisa dijadikan oleh-oleh karena tahan lama setelah divakum,” jelas Fitria.

Ia pun menunjukkan satu paket Clorotan yang dimasukkan ke dalam kemasan kardus. Berisi satu paket adonan clorot dengan berat 270 gram. Serta dua plastik yang telah divakum berisi selonsong wadah clorot masing-masing tujuh dan delapan selonsong.

Cara membuatnya pun sangat mudah. Adonan clorot diberi 250 ml air panas kemudian diaduk merata. Berikutnya masukan adonan ke dalam selongsong kira-kira hingga 3/4-nya.

“Tahap akhir yakni mengukus selama 30 menit. Setelah itu clorot siap dihidangkan,” imbuh Fitria. Petunjuk cara membuatnya pun tertera di dalam kemasan kardus.

Terkait harga, lanjut Fitria, memang lebih mahal dari clorot biasa yang harganya Rp 9.000 per 10 clorot. Sedangkan satu kemasan Clorotan berisi 15 clorot dibandrol dengan harga Rp 20.000.

Meski begitu Fitria menjelaskan, harga itu sebanding dengan proses serta tingkat keawetan produk meski tanpa bahan pengawet.

“Clorot biasa hanya tahan dua hari setelah dibuat. Sedangkan adonan clorotan bisa bertahan hingga sebulan lebih. Sementara selongsongnya bila secara estetika tidak berubah warna bisa bertahan hingga dua minggu,” kata Fitria.

Proses pengepakan Clorotan

Jadi bila tidak segera dibuat, baik adonan maupun selongsong bisa disimpan di suhu kering, atau bila disimpan di dalam kulkas akan lebih awet lagi.

Alat yang diperlukan untuk memproduksi Clorotan pun terbilang sederhana. Hanya butuh mesin vacum, sealer, timbangan, dan plastik kemasan. Komposisi tepung beras, tepung kanji, gula aren, serta santan kering dibuat menyerupai adonan yang biasa dibuat.

Adapun untuk selongsong, pihaknya bekerjasama dengan pengrajin yang terbiasa membuatnya. Saat ini ada dua varian Clorotan, yakni original dan durian.  “Kalau yang varian durian kami tambahkan rasa durian ke dalam adonan,” ujar Fitria.

Adonan kering Clorotan

Untuk pemasaran, lanjut Fitria, saat ini baru sebatas melalui medsos. “Ke depannya kami akan memperbaiki kemasan termasuk komposisi yang benar-benar pas agar rasanya sama dengan clorot yang selama ini dikenal masyarakat”.

Fitria pun berterima kasih kepada pihak sekolah yang telah memfasilitasi sarana dan prasarana untuk mengikuti lomba Krenova.

“Mudah-mudahan produk inovatif ini dapat diterima masyarakat dan bisa dikembangkan. Juga diharapkan akan meningkatkan nilai tambah bagi clorot yang merupakan panganan khas Purworejo,”  pungkasnya. (Dia)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *