In memoriam Dr Yatiman, Sp.OG, The Smiling Doktor, Pendiri RSIA Pertama di Purworejo

PURWOREJO, Dokter Antonius Yatiman, Sp.OG, dokter spesialis kandungan dan persalinan pertama di Purworejo meninggal pada hari Rabu (14/4) kemarin dalam usia 78 karena sakit. Kepergian eyang 10 cucu dari empat anak itu membawa duka mendalam dan mendapat perhatian luas masyarakat Purworejo.

Hal itu tampak dari ribuan pelayat yang  datang silih berganti dari mulai jenazah tiba di rumah duka, Jalan Mayjen Sutoyo No 15A Purworejo pada Rabu sore.  Pada Kamis pagi, pelayat pun kembali berdatangan menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.

Mulai Bupati dan istri, Sekda dan istri, rekan sejawat, hingga masyarakat yang kehilangan dengan sosok dr Yatiman yang dikenal sebagai the smiling doctor (dokter yang selalu tersenyum) dan telah menolong ribuan ibu-ibu yang akan melahirkan tersebut.

Bersama istri tercinta Antonia Titik Surtinah, dr Yatiman dikarunia empat anak. Yakni A. Widjokongko  Judoputranto (Wiwid), B. Anggraeni Dwi Yudani (Dani), C. Gunawan Wibisono (Soni), dan D. Kiki Respati Dewandari (Kiki).  Dua dari putranya menjadi dokter, demikian juga dengan dua orang menantunya.

Ditemui di rumah duka, Antonia Titik Surtinah, istri yang telah mendampingi dr Yatiman selama lebih dari 50 tahun, kepada Purworejo News menuturkan kisah perjalanan hidup dr Yatiman.

Bupati menyampaikan ucapan belasungkawa kepada Bu Titik

“Kami menikah pada tanggal 28 Mei 1971 di Sribit, Kulonprogo. Setelah itu Bapak mendapat tugas pertama sebagai dokter umum di Kabupaten Bangli, Bali selama tiga tahun, ” ucap Antonia mengenang.

Kemudian dr Yatiman pindah tugas ke Banyuwangi selama tujuh tahun, sebelum akhirnya mengambil spesialis obstetri dan ginekologi di FU UGM tahun 1979.

Setelah lulus, tahun 1982 dr Yatiman pertama kali mengabdikan diri sebagai dokter spesialis di RSUD Purworejo. Menjelang purna tugas di tahun 1990, tepatnya tanggal 20 Maret, dr Yatiman mendirikan Rumah Sakit Bersalin Kasih Ibu.

Pendirian rumah sakit tersebut, menurut Bu Titik, adalah agar bisa lebih fokus melayani khususnya wanita yang akan melahirkan dan juga anak-anak.

Terkait nama rumah sakit yang letaknya bersebelahan dengan rumah tinggalnya, Bu Titik bertutur, Kasih Ibu merupakan filosofi untuk menghargai  kasih sayang ibu dr Yatiman yakni Siti Khadijah yang sudah berjasa membesarkan dan merawatnya.

Suasana di rumah duka menjelang upacara pemakaman dr A Yatiman, Sp.OG

Menurut Bu Titik, kasih ibulah yang menghantarkan anak-anaknya menjadi orang yang sukses dan berbudi mulia serta berguna bagi masyarakat.

“Di usia kandungan tiga bulan, beliau ditinggal bapaknya. Sampai wafat di usia 99 tahun Ibu Siti Khadijah tidak menikah lagi sejak ditinggal suaminya,”  tutur Bu Titik di sela-sela menerima ucapan bela sungkawa dari para pelayat yang terus berdatangan.

Bu Titik sempat bertutur tentang almarhum yang pernah menceritakan pengalamannya  menghadapi pasien seorang wanita asal Medan yang akan melahirkan di Purworejo.

“Setelah melahirkan, wanita itu bilang ke Bapak: ‘Dokter Yatiman ganteng sekali, aku mau naik kapal dengan dokter Yatiman’. Ya Bapak hanya senyum-senyum saja,” kenang Bu Titik yang selalu setia mendampingi dr Yatiman.

Tak hanya mendirikan rumah sakit. Dr Yatiman juga mendirikan sekolah PAUD, TK, dan SD Mutiara Ibu di tahun 2000. Sekolah tersebut didirikan karena keprihatinan mereka akan adanya konflik yang timbul akibat perbedaan.

Sekda Said Romadhon dan istri di depan peti jenazah

“Sekolah Mutiara Ibu didirikan dengan landasan cinta kasih pada sesama dan toleransi atau saling menghargai. Ini sebagai bekal yang harus ditanamkan sejak usia dini,” jelasnya.

Diibaratkan, sekolah Mutiara Ibu seperti koor beberapa suara yang berbeda tapi menghasilkan lagu yang merdu dan indah. Itulah sebabnya di sekolah Mutiara Ibu disediakan lima tempat ibadah sebagai perwujudan kerukunan.

Demikian pula dengan klinik pratama Siti Khotijah, satu-satunya klinik kesehatan di Wates yang semula merupakan tempat tinggal dr Yatiman semasa kecil bersam ibunya.

Ketiganya yakni rumah sakit, sekolah, dan klinik tersebut bernaung di bawah Yayasan Kasih Ibu. Menurut keterangan putrinya, Dani yang mendampingi saat wawancara, rencananya RSIA Kasih Ibu akan menjadi RSU. 

“Saat awal berdiri, RSIA hanya memiliki tujuh tempat tidur. Sekarang kami sudah memiliki 75 TT dan sedang berproses untuk menuju RSU,” kata Dani.

Di akhir hayatnya, hanya satu keinginan dr Yatiman yang belum kesampaian. Yakni menghadiri acara wisuda cucu tertuanya yakni Stella Hita Arawinda yang kini tengah menyelesaikan skripsinya di FH Undip.

“Puji Tuhan, dengan ilmunya, Papa dapat menolong ibu-ibu untuk melahirkan putra-putrinya dengan baik dan sehat. Semoga kami putra-putrinya dapat terus meneruskan cita-cita Papa yang mulia,” tutup Dani. (Dia)

Tinggalkan Komentar