Hindari Penyebaran PMK, Sebaiknya Jeroan Daging Kurban Direbus Dulu Sebelum Dibagikan

PURWOREJO, Daging kurban terutama jeroan harus direbus lebih dulu sebelum dibagikan kepada masyarakat. Selain itu dalam pembagiannya juga disarankan dipisah dengan daging. Hal itu untuk menghindari penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) yang marak akgir-akhir ini.

“Untuk menghindari penyebaran PMK, diperlukan pengemasan dan pengolahan daging kurban yang benar,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Purworejo Hadi Sadsilo, SP, MM pada sosialisasi pelaksanaan kurban saat terjadi wabah PMK di Pendopo Kabupaten Purworejo, Senin (4/7).

Menurut Hadi Sadsilo, daging kurban yang harus direbus terlebih dahulu yakni kepala, kaki, buntut, dan jeroan. Penularan terjadi dari hewan yang terkena PMK ke hewan lainnya dan memiliki tingkat penularan lebih cepat. Sedangkan PMK hewan tidak menular ke manusia. 

“Untuk memastikan hewan terpapar PMK atau tidak, harus melalui pemeriksaan dari dokter hewan terlebih dahulu, karena gejala yang sama belum tentu PMK,” jelasnya.

Suasana sosialisasi pelaksanaan penyembelihan hewan kurban

Pihaknya sudah menugasi satu dokter hewan sebagai koordinator lapangan dan dua Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di masing-masing kecamatan. Karena jumlah petugas yang terbatas, maka jika hewan kurban menunjukkan gejala PMK, agar panitia hewan kurban melaporkan ke dokter hewan atau PPL, untuk segera ditangani.

Sementara itu Kabid Kesehatan Kewan dan Kesehatan Masyarakat drh Sri Widiartik, MM menjelaskan, hewan yang dipotong dalam kondisi sehat tapi ternyata membawa virus, bisa kemungkinan terpapar karena virusnya tidak terihat. 

“Untuk amannya diupayakan agar merebus kepala, jeroan, kaki dan buntut terlebih dahulu selama 30 menit pada air mendidih. Lalu untuk mensterilkan tempat penyimpanan daging, terlebih dahulu tempatnya direndam dalam larutan asam cuka. Sedangkan daging yang sudah berbau, jangan dikonsumsi karena bakteri sudah berkembang biak pada daging,” jelasnya. 

Drs Fatkhurrahman, MM

Widiartik mengingatkan, untuk keamanan diupayakan tidak hanya pada daging kurban, tetapi setiap membeli kepala, jeroan, kaki dan buntut di pasar juga harus direbus dulu sebelum disimpan.

“Kalau dagingnya tidak usah direbus dulu tidak apa-apa, langsung disimpan tetapi menggunakan pembungkus yang steril,” ujarnya.

Secara terpisah Kabag Kesra Setda Drs Fathurrahman, MM saat dikonfirmasi pada senin (4/7) menjelaskan bahwa, berdasarkan Surat Edaran No. SE.10/2022 tentang Panduan Penyelenggaran Sholat Hari Raya Idul Adha dan Pelaksanaan Qurban Tahun 1443 H/2022 Masehi. Bahwa umat Islam dihimbau untuk membeli ataupun menyembelih hewan qurban yang sehat, tidak cacat fisik dan tidak menunjukan gejala klinis PMK. 

Selain itu juga dihimbau untuk melakukan penyembelihan di Rumah Potong Hewan (RPH) dengan cara kirim antar atau door to door. Jika memang akan di selenggarakan secara mandiri maka haruslah dilaksanakan di area yang luas dan tetap menjaga protokol kesehatan. (Nas)

Tinggalkan Komentar