Hilang 27 Jam, Mbah Tuginem Ditemukan Tewas di Sungai Bogowonto

LOANO, Warga Dusun Tlepo, Desa Loano, Kecamatan Loano, Kamis (15/4) pagi sekitar pukul 05.30 dikejutkan oleh penemuan sosok mayat perempuan tergeletak di Sungai Bogowonto. Saat ditemukan warga, mayat dalam posisi tersangkut di batu besar yang berada di tengah sungai.

Kapolsek Loano AKP Sarpan, SH, MH yang ditemui Purworejonews menjelaskan, pihaknya mendapat laporan dari warga terkait adanya penemuan mayat di Sungai Bogowonto, tepatnya di Dusun Tlepo, Desa Loano pada Kamis pagi sekitar pukul 05.30.

Mendapat laporan tersebut, polisi bersama warga langsung mendatangi lokasi dan berhasil mengevakuasi mayat korban. Setelah berhasil dievakuasi, mayat korban langsung dibawa ke RSUD Dr Tjitrowardojo untuk divisum.

“Saat proses visum itulah keluarga korban datang dan membenarkan bahwa mayat tersebut anggota keluarganya, bernama Tuginem, usia 72 tahun, yang memiliki KTP Bekasi Timur VI RT 4 RW 13 Kelurahan Cipinang Besar Kecamatan Jatinegara,” ungkap Kapolsek.

Untuk diketahui, sudah tiga bulan korban tinggal di rumah Amat Junaidi di Dusun Glagah Malang, Desa Maron. Korban dititipkan oleh anaknya yang tinggal di Bekasi.

Kapolsek Loano AKP Sarpan, SH, MH

Usai divisum dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, jenazah Mbah Tuginem akhirnya dibawa ke Banguntapan Bantul untuk dimakamkan di tanah kelahirannya tersebut.

Fauzi (25), anak Amat Junaidi yang tinggal serumah dengan korban, saat ditemui di rumahnya di Dusun Glagah Malang Desa Maron menuturkan kronologi kejadian.

“Waktu itu bulik saya membangunkan adik saya yang tidur dengan Mbah Tuginem karena akan sahur sekitar pukul 02.30,” tuturnya.

Saat itu Mbah Tuginem sudah tidak berada di tempat tidur. Setelah dicari di sekeliling rumah tidak ada, lanjut Fauzi, ia mencari keberadaan Mbah Tuginem yang sudah pikun itu hingga ke jalan raya menuju Jembatan Solotiyang dengan mengendarai sepeda motor.

Fauzi dan kerabatnya

Keluarga dan warga pun mencari keberadaan Mbah Tuginem yang diduga terbawa arus sungai Bogowonto yang jaraknya hanya sekitar 70 meter dari rumahnya.

Namun mereka tidak melaporkan peristiwa itu ke pihak kepolisian. Ternyata setelah hilang kurang lebih selama 27 jam, Mbah Tuginem ditemukan sekitar tiga kilometer dari rumahnya.

Menurut Fauzi, selama tiga bulan tinggal di Purworejo dari sebelumnya di Bekasi, Mbah Tuginem tidak pernah keluar rumah, apalagi ke sungai. Ia tidak menyangka Mbah Tuginem akan berjalan menuju ke arah sungai yang selama jni tidak pernah dilaluinya.

Saat keluar rumah dalam keadaan gelap, sandal yang dipakai pun tertukar (selen) dengan sandal lainnya. “Mungkin karena sudah pikun, jadi Mbah Tuginem tidak tahu arah yang dituju saat keluar rumah dari pintu samping,” kata Fauzi. (Dia)

Tinggalkan Komentar