Grup Kuda Lumping TGM Desa Sumbersari Puluhan Tahun Setia dengan Pakem

BANYUURIP, Kesenian tradisional tak lekang oleh waktu biarpun seni budaya modern terus bermunculan. Setidaknya itu dibuktikan dengan masih eksisnya grup kesenian kuda lumping Pusaka Leluhur Tridoyo Gadung Melati (TGM) yang sudah turun temurun sejak puluhan tahun silam. Istilah Tridoyo merujuk pada tiga pedukuhan yang mendukung grup tersebut.
Meski jauh dari kota, kesenian kuda lumping TGM itu masih menjadi idola masyarakat setempat. Hampir setiap bulan TGM pentas di berbagai tempat, dengan iringan pokok terdiri atas kendang, angklung, saron, demung, dan kenong (gong lima). Bahkan tak pernah absen pada tiap even hari besar seperti Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Hari Lebaran, juga kadang tampil pada perayaan Hari Jadi Kabupaten Purworejo.

Sejak dulu TGM memakai gamelan dan tarian klasik untuk mempertahankan aslinya. Tak terpengaruh yang lain, meskipun kebanyakan sudah memakai kreasi modern. TGM memiliki pakem klasik, dengan rangkaian tarian yang diawali tari pambuko, tari pancingan, pencak silat, tari adu jago yang alur ceritanya prajurit berperang dengan singobarong. Paling pungkasan tari onclongan memakai dua kuda dengan kepala kuda menghadap ke depan. Ujung ceritanya yaitu menguasai Sumbersari.

Grup kuda lumping TGM memiliki kekuatan tersendiri di kala penarinya mulai mendem (trance) yang dipercaya sebagai kemasukan makhluk halus. Masyarakat yang menonton dibuat semakin penasaran untuk mengikuti ending ceritanya. Penari yang mendem selain hentakan gerakan tariannya menjadi semakin cepat, biasanya juga meminta sajen (sesaji) berupa bunga mawar merah putih, kelapa muda yang dikupas menggunakan gigi, menghirup asap bakaran sabut kelapa, memanjat tiang, dan sebagainya.
Sesaji dan serangkaian ritual disiapkan menjelang pentas dengan mengunjungi makam pepunden (leluhur) di Desa Sumbersari. Dimulai dari pepunden Balong kemudian ke pepunden Gadung Melati yang merupakan danyang perempuan yang mbahureksa daerah Sumbersari. Garung Melati dikisahkan mempunyai dua putra dan dua putri, yakni Raden Gagak Seto, Raden Sigit, Sriwati, dan Rantamsari.
Sesaji juga akan disertakan mengiringi pementasan kuda lumping. Isinya nasi tumpeng lengkap, seekor ayam hidup, daging kebo beserta kulit dan jeroan, kelapa muda, pisang, kembang mawar, yang nantinya dikonsumsi penari kuda lumping di saat kesurupan.
TGM sudah berjalan hampir 60 tahun mempertahankan kuda kepang yang masih asli itu. Bahkan konon TGM merupakan grup kuda lumping tertua di Kabupaten Purworejo. Sejak 1962 silam kuda lumping sudah ada, didirikan oleh alamarhum Semo Lekijo dan turun temurun hingga kini dinakhodai Susanto (57). (A)

Tinggalkan Komentar