Grebeg Lowano, Refleksi Perjuangan Para Adipati di Kadipaten Loano

LOANO, Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang Jalan Raya Purworejo-Magelang, tepatnya di Desa Loano, Kecamatan Loano, Minggu (11/9). Mereka sangat antusias mengikuti prosesi Grebeg Lowano, tradisi yang digelar tiga tahun sekali. Wakil Bupati Purworejo Hj Yuli Hastuti, SH, hadir dalam acara tersebut.

Kades Loano, Sutanto, menjelaskan, Gerebeg Lowano merupakan usaha desa dalam nguri-uri tradisi leluhur. Selain itu juga untuk mengenang kembali perjuangan para adipati yang pernah memimpin Kadipaten Lowano. 

“Ada sembilan adipati, mulai Pangeran Haryo Bangah yang mendirikan Kadipaten Lowano sekitar tahun 1200 Masehi, hingga Adipati Gagak Handoko. Grebeg menjadi sarana mengenalkan kearifan lokal Loano kepada masyarakat,” kata Sutanto.

Grebeg Lowano diawali dengan kirab hasil bumi dengan mengelilingi Desa Loano. Rombongan kirab dipimpin Kepala Desa Loano Sutanto beserta Ketua TP PKK, disusul perangkat desa, pembawa benda pusaka, drum band, bergodo pasukan pembawa hasil bumi kesenian dolalak.

Ribuan warga saksikan prosesi Geebeg Lowano

Kirab diikuti sebanyak 12 bergodo dari 12 dusun yang masing-masing membawa tumpeng nasi dan hasil bumi. Sebelum sampai Masjid Al Iman, bergodo kirab berhenti di Gapura Singgelopuro yang merupakan bekas pintu gerbang Kadipaten Lowano. Lalu melaksanakan ritual unggah tirto bumi, dengan mengambil air dari tujuh sumber yang terdapat di Loano.

Menurut Sutanto, Grebeg Lowano ini sebagai bersih desa yang merupakan ungkapan rasa syukur warga masyarakat Loano atas anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah panen hasil bumi melimpah. 

Bersih desa dikemas dengan kebudayaan Mataraman dan Bagelenan. Prosesi Grebeg Lowano dilanjutkan sedekah bumi dan kenduri di halaman Masjid Al Iman Loano, yang kemudian semua warga berebut hasil bumi dan tumpeng.

Wabup mengapresiasi dilaksanakannya Tradisi Grebeg Lowano, bukan saja sebagai salah satu nguri-nguri budaya saja, tetapi diharapkan mampu menarik wisatawan.

Bergodo 12 membawa tumpeng dan hasil bumi

“Saya berharap Tradisi Grebeg Lowano ini bisa terus terselenggara di tahun-tahun mendatang. Bukan saja sebagai salah satu bagian dari upaya penghormatan kepada leluhur sekaligus nguri-uri budaya lokal, tetapi juga menjadi agenda wisata di Kabupaten Purworejo, yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara,” katanya

Wabup menambahkan kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pemerintah dan masyarakat Desa Loano sangat tanggap dan responsif dengan program yang sering disosialisasikan. Seperti program satu desa satu produk (one village one product), Romansa Purworejo dan sebagainya, yang tentunya akan sangat mendukung peningkatan daya saing di era global menuju kesejahteraan bersama. 

“Terlebih dengan adanya beberapa proyek strategis nasional di Purworejo dan sekitarnya, yang tentunya akan menambah aktivitas ekonomi di Kabupaten Purworejo,” tandasnya. (Nas)

Tinggalkan Komentar