Fauzi: Setelah 18 Tahun Menjabat, Terpilih Lagi Jadi Kades Legetan

NAMANYA SINGKAT: Fauzi. Tapi jabatannya sebagai kepala desa tidaklah sesingkat namanya. Bahkan  Fauzi yang baru saja terpilih kembali sebagai Kades Desa Legetan, Kecamatan Bener, menjadi satu-satunya kades di Purworejo dengan jabatan terpanjang alias terlama yakni 18 tahun berturut-turut.

Hal itu karena pada masa jabatan pertama, Fauzi yang lahir pada tanggal 28 September 1975 itu berada pada periode peraturan masa jabatan hingga 10 tahun (sebelum ada pedaturan baru). Maka kalau dihitung secara periode, ini merupakan periode keempatnya menjadi kades.

Saat ditemui di warung makan Inis miliknya yang terletak di tepi terasering sawah di Desa Legetan, Fauzi tampak santai. Ia mengungkapkan, pertama kali menjabat sebagai kades, usianya baru masuk 28 tahun. “Mungkin juga jadi kades termuda waktu itu, tahun 2003,” kenangnya.

Sejarah Fauzi menjadi kades tampaknya diwariskan dari bapaknya, Ahmad Jani yang menjadi kades di era tahun 90-an. Saat itu di tengah masa jabatan, ayahnya meninggal dunia. Fauzi yang saat itu tengah melanglang buana ke berbagai negara di Asia Tenggara itupun akhirnya pulang ke kampung halamannya. 

Ia pun ditunjuk untuk menggantikan sementara jabatan yang kosong tersebut. Selama setengah tahun, Fauzi menjadi pejabat sementara kades hingga akhirnya diadakan pemilihan kades.

Fauzi dan keluarga

Saat itulah Fauzi terpilih menjadi kades untuk pertama kali dengan masa jabatan 10 tahun. Lalu terpilih lagi dengan masa jabatan 8 tahun yang berakhir Februari 2021.

Suami Arifah Asrori (44) itu mulai mendalami Desa Legetan yang terdiri atas sembilan RT, tiga RW dan tujuh dusun. Yakni Dusun Bengkal, Ketawang (tempat tinggalnya sekarang), Krajan, Krendo, Munggang, Plandikan, dan Kayangan.

Fauzi bertutur, sebenarnya ia sudah tidak mau maju kembali sebagai kades. Tapi karena dirinya masih banyak mendapatkan dukungan, mau tak mau ia kembali mendaftar. Itupun dilakukan di hari terakhir pendaftaran setelah diberi waktu perpanjangan sampai sebulan.

Alasannya bersedia kembali menjadi kades adalah karena dirinya ternyata masih dikehendaki masyarakat. Kepada Fauzi, masyarakat berkata, “Pokoke dientekne tekan ora iso,” ucapnya.

Hasilnya, pada pilkades kemarin, dirinya mendapatkan suara 1.117 dibanding rivalnya yang hanya mendapatkan 162 suara.

Fauzi saat menyerahkan kepada anak yatim

Di masa kepemimpinannya, berbagai sarana dan prasarana berhasil dibangun. Seperti jalan, jembatan, gedung PAUD, dan gedung pemerintahan.

Bapak tiga anak itu menyebutkan, di Desa Legetan yang memiliki luas 352 hektar itu berdiri lima masjid dan 15 mushola.

Dengan kontur hampir 80% merupakan area perbukitan, dari 2.348 jiwa penduduknya, sebagian warga Desa Legetan berpenghasilan sebagai petani.

Dari 352 hektare luas sawahnya 115 hektare yang merupakan sawah tadah hujan. Sisanya, pekarangan yang ditanami aneka palawija dan kencur oleh warganya.

Terkait bisnis kuliner yang digelutinya, sulung dari dua bersaudara itu menuturkan,
ilmu maupun resep masakan andalannya diperoleh saat ia merantau, misalnya saat di Malaysia dan Brunei. “Di sana saya harus hidup mandiri sehingga saya harus ubed,” katanya.

Fauzi saat menerima penghargaan sebagai pembayar PBB tercepat ketiga di Kecamatan Bener

Sikapnya yang santai dan mandiri tampak dari tidak adanya kekuatiran akan terjadi perpecahan di desanya. Itulah sebabnya, jika di desa lain saat pilkades TPS dipencar di beberapa RW, tidak demikian halnya dengan Desa Legetan. Saat Pilkades lalu, empat TPS dijadikan satu tempat yakni di RW 1.

Dengan serius Fauzi mengatakan, “Saat pilkades kemarin saya tidak membentuk tim sukses. Prinsip saya, kalau saya kalah, biar saya saja yang menanggung bebannya. Kalau saya menangpun, tidak ada yang merasa dimusuhi kecuali saya.”

Fauzi pun tampaknya sudah sangat menikmati suka duka menjadi kades. Ia merasa asyiknya menjadi kades yakni bisa dekat dengan warga tanpa ada sekat.

Dalam memimpin pun, ia selalu menggunakan prinsip egaliter dengan meminta pendapat warga, bukan otoriter dengan langsung memberikan keputusan.

“Kecuali untuk hal yang pasti seperti aturan yang sudah ditetapkan,” tegasnya.

Fauzi dan istri saat serah terima jabatan kepada Pejabat Kades Legetan

Menurut Fauzi, di Desa Legetan ada berbagai kesenian yang bisa dieksplor antara lain ndolalak, kubro, jathilan, dan hadroh. Dengan 12 perangkat desa, Fauzi  menyatakan bahwa setiap hari ia ngantor.

Dengan slogan nata warga mbangun desa, Fauzi berprinsip bahwa warga perlu dikasih wadah dan pengertian. Menurutnya, “Kalau warganya tidak ditata bisa rusuh.”

Dalam hidup, Fauzi berprinsip sante kemlawe yang artinya santai tapi tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup. Sebagai kades, satu rencana yang akan direalisasikan yakni mendirikan pasar desa.

“Memang sulit mencari lahan datar untuk membangun pasar. Ini sedang kami rintis. Mudah-mudahan segera terealisasi,” pungkasnya. (Yudia Setiandini)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *