Dua Hari di Rumah Saja, Taman Kota dan Tempat Usaha Tutup, Sentra Durian Sepi

PURWOREJO, Memasuki hari kedua pelaksanaan Gerakan Jateng Dua Hari di Rumah Saja (6-7/2), pada Minggu (7/2), sejumlah taman kota dan tempat usaha terpantau menghentikan operasionalnya alias tutup. Seperti Taman Kota Heroes Park, Cangkrep Kecamatan Purworejo yang tampak sepi pada Minggu siang.

Pengelola Heroes Park, Hari (32) yang ditemui mengatakan, Sabtu dan Minggu ini tidak ada kunjungan warga maupun rombongan pegowes yang biasanya ramai di akhir pekan.

“Memang ada beberapa orang yang kecelik dan akhirnya hanya memutari jalan, karena taman dan pendopo kami pagari dengan garis barikade,” ucapnya.

Akibat kebijakan dua hari di rumah saja itu, tiga kios kuliner yang berada di sana juga terpaksa tutup.

Cafe Sulthan tutup 3 hari

Ditambahkannya, sejak pandemi Covid-19 yang belum juga usai, pengelola Heroes Park juga tidak membolehkan kegiatan massal seperti senam maupun kegiatan yang mendatangkan banyak orang seperti biasanya.

Tak hanya taman kota. Beberapa tempat usaha seperti toko dan kafe juga tutup selama dua hari. Toko roti Lusani misalnya, memilih untuk tutup. Bahkan pemilik Cafe Sulthan memutuskan untuk menutup kafe terbesar di Purworejo itu selama tiga hari yakni dari Sabtu hingga Senin.

“Kami ikuti peraturan pemerintah,” ujar Listyowati, pemilik Cafe Sulthan.

Demikian juga dengan Kafe Kohi yang berada di Jalan Diponegoro Kutoarjo memilih untuk tutup pada hari yang biasanya justru paling banyak pengunjung yakni Sabtu dan Minggu.

Sentra durian Somongari sepi

Suasana jalan raya pada Minggu juga tampak lenggang tidak seperti biasanya. Hal itu ditambah cuaca yang memang mendung. Kondisi sepi juga terlihat dari suasana pasar durian di Balai Desa Somongari Kecamatan Kaligesing pada Minggu siang.

Seperti dituturkan Surahman (47), salah seorang pedagang durian di sana. Menurut pria yang biasa disapa Mantolet itu, biasanya pada Sabtu dan Minggu halaman balai desa Somongari penuh dengan mobil dari luar kota yang akan membeli durian lokal yang terkenal pahit legit itu.

“Biasanya saya bisa jual sekitar 300-an durian pada hari Sabtu atau Minggu di musim durian. Tapi akibat peraturan di rumah saja, hari ini saya hanya bawa 20-an durian saja,” keluhnya.

Dirinya dan sekitar 10-an pedagang durian yang ada di sana berjualan dari mulai pukul 10 pagi hingga menjelang Magrib. Durian lokal itu dijualnya dengan kisaran harga Rp 30.000 hingga Rp 50.000.

“Kanten kahananipun kados niki, nggih pripun malih, pasrah mawon,” ucapnya sambil tersenyum getir. (Dia)

 287 kali dilihat,  5 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *