Dr Junaedi Setiyono: Menulis Karya Sastra yang Baik Juga Sebuah Kebaikan

Dr Junaedi Setiyono, sastrawan Purworejo yang meraih penghargaan Sastra Asia Tenggara, mengaku bersyukur dan senang karena karyanya mendapatkan perhatian dari suatu ajang penghargaan lintas negara semacam Mastera. Dirinya berharap, penghargaan ini bermanfaat bagi kemajuan sastra Indonesia. 

“Menulis karya sastra yang baik saya yakin adalah termasuk kebaikan. Semoga dapat menginspirasi sastrawan muda Indonesia, generasi setelah saya, untuk semakin giat menulis,” katanya, Minggu (1/8). 

Novel Dasamuka merupakan novel ketiga Junaedi Setiyono yang versi Bahasa Indonesianya juga pernah dinobatkan sebagai Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012. Sebelumnya, dua novel yang ia terbitkan juga menasional. 

Novel pertamanya, Glonggong, menjadi pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006 dan finalis Khatulistiwa Literary Award 2008. Novel keduanya Arumdalu menjadi Nomine Khatulistiwa Literary Award 2010.

Dr Junaedi Setiyono

Karya terbaru Junaedi berjudul Tembang dan Perang terbitan PT Kanisius tahun 2020, juga diterjemahkan dalam Bahasa Inggris oleh peberbit Dhalang Publishing dengan judul Panji’s Quest. Endorsement ditulis oleh tokoh-tokoh kondang di bidang sastra budaya Indonesia, yakni  Lydia Kieven (Jerman), Kathy Folley (Amerika), dan Eka Budianta (Indonesia).

Rencananya, peluncuran akan dilakukan di KJRI San Fransisco Amerika Serikat. 

“Alhamdulillah Tembang dan Perang sudah selesai diterjemahkan dan insya-Allah sekarang sudah naik cetak,” ungkapnya.

Dahlan Iskan membaca Dasamuka

Mungkin tidak banyak yang tahu, novel Dasamuka menjadi perhatian bos Jawa Pos Grup yang juga mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan. Di blog pribadinya, DISWay, 23 Juni lalu, Dahlan Iskan menuliskan kesan mendalamnya membaca novel Dasamuka.

Berikut beberapa kutipan tulisan Dahlan Iskan yang diberi judul Dasamuka Jawa:

Di musim piala eropa ini Inggris kalah dengan Dasamuka. Saya harus melewatkan pertandingan Inggris lawan Skotlandia karena tidak bisa berhenti membaca novel dengan judul tokoh pewayangan itu.

Awalnya saya sulit menduga apa tema novel karya Dr Junaedi Setiyono ini. Dua tahun lalu saya membaca novel karya sastrawan India dengan judul Rahwana. Yang menjungkirbalikkan cerita Ramayana.

Ternyata Dasamuka ini novel tentang Perang Jawa (1825-1830). Yang juga disebut Perang Diponegoro.
Tentu Dasamuka adalah sebuah novel. Bukan buku sejarah. Tapi bahwa sastrawan Dr Junaedi Setiyono memilih setting waktu hamil tuanya Perang Diponegoro sungguh pekerjaan yang besar.

Memang Dasamuka belum bisa disejajarkan dengan Bumi Manusianya Pramudya Ananta Toer. …….Tapi munculnya karya sastra seperti Dasamuka adalah babak baru novel Indonesia setelah Bumi Manusia.

Betapa kuat riset yang dilakukan sastrawan Purworejo, Jateng ini. Betapa jeli pandangan dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo ini. (Nas)

 458 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *