Dampingi Difabel Purworejo Kelola Bisnis Jamur Tiram, STIE Rajawali Gandeng 2 Perguruan Tinggi

PURWOREJO, Dalam beberapa tahun ini STIE Rajawali terus berupaya mengaplikasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Salah satunya melalui kegiatan pengabdian pada masyarakat. Kali ini STIE Rajawali berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) dan Universitas Ma’arif Nahdatul Ulama Kebumen.

Ketiga PT tersebut melakukan pendampingan kepada kelompok penyandang disabilitas yang melakukan usaha jamur tiram. Kelompok usaha yang dikelola Difable Person Organization (DPO) Restu Abadi Purworejo itu berada di Desa Cangkreplor Kecamatan Purworejo.

Tim dosen yang melakukan pendampingan tersebut diketuai oleh Dr. Hesti Respatiningsih, SE, M.Par (Prodi Manajemen STIE Rajawali) dengan anggota Dr. Dwi Irawati, M.Si (Prodi Manajemen UMP) dan Nurlaila Fatmawati, S.TP, M.Si (Prodi Agroteknologi Universitas Ma’arif NU Kebumen). Kegiatan juga melibatkan lima mahasiswa dari tiga PT tersebut.

Kepada Purworejo News, Hesti menjelaskan, Proposal Program Kemitraan Masyarakat (PKM) berjudul Pendampingan Penguatan Manajemen Usaha Jamur Tiram Kelompok penyandang Disabilitas DPO Restu Abadi Purworejo itu mendapatkan dana dana hibah dari Kemendikbud Ristek tahun 2022.

Hesti Respatiningsih (tengah) saat presentasi

Hesti menjelaskan, PKM mendukung Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Hal itu berlaku untuk mahasiswa ketiga PT tersebut. “Pada Prodi S1 Manajemen STIE Rajawali dapat disetarakan dengan mata kuliah senilai 14 sampy 18 SKS,” jelas Hesti, Senin (25/9).

Lebih lanjut ia menyampaikan, pihaknya melibatkan mitra lain yakni Unit Pelayanan Kesehatan Umum (UPKM) RS Panti Waluyo dan Pusat Rehabilitasi Yakkum (PRY). Kegiatan yang dimulai sejak Juni tersebut akan berlangsung hingga Desember mendatang.

Menurut Hesti, fokus yang akan diselesaikan meliputi permasalahan di bidang produksi, pemasaran, legalitas, serta pengelolaan SDM.
Di bidang produksi, menurut Hesti, jamur tiram yang dihasilkan rata-rata baru sebanyak 10 kg/hari dari sekitar 3.000 baglog yang digunakan. Padahal permintaan sebenarnya mencapai 50 kg/hari.

Pembuatan kumbung untuk menambah produksi jamur tiram

Hal itu, katanya, berkaitan dengan keterbatasan sarana produksi, yaitu kapasitas rumah baglog atau rumah tumbuh jamur (kumbung). Juga lamanya proses sterilisasi baglog, karena kapasitas drum yang dimiliki hanya bisa menampung 75 baglog. Akibatnya permintaan terhadap jamur tiram belum dapat dipenuhi.

Berbagai permasalahan lainnya yakni bidang pemasaran yang baru dilakukan secara konvensional, belum adanya merk, labelisasi yang belum memenuhi standar kelayakan pangan, serta kurang variatifnya produk menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani Hesti bersama timnya.

Langkah awal yang dilakukan, lanjut Hesti, berupa perbaikan kumbung di Desa Kedungsari. Tujuannya agar dapat meningkatkan produksi jamur tiram yang dikelola para penyandang disabilitas terssbut.

“Secara bertahap kami juga membantu labelisasi serta pemasaran berikut perbaikan manajemen kelompok,” lanjut Hesti. Melalui pendampingan tersebut Hesti berharap agar produk jamur tiram yang dikelola DPO bisa
memenuhi standar kelayakan pangan dan marketable.(Dia)

Tinggalkan Komentar