Curug Sidandang Kaligesing Jadi Lokasi Seminar Nasional Literasi Digital

KALIGESING, Curug Sidandang di Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Purworejo menjadi lokasi seminar nasional Literasi Digital untuk Indonesia Bangkit pada Sabtu (15/10). Tiga pembicara dihadirkan dalam acara yang dipandu oleh anggota Komisi X DPR RI Bramantyo Suwondo, M.M.IR (Mas Bram).

Ketiga pembicara tersebut yakni Dr Sudibyo, M.Hum (dosen FIB UGM), Soekoso, Dm, S.Pd (budayawan), serta Dr Joenaedi Setiyono (novelis dan dosen UMP). Wakil Bupati Yuli Hastuti juga turut hadir dalam seminar yang digelar di pendopo Sidandang tersebut.

Acara yang digagas oleh Yayasan Nurhantara Bakti Budaya  (NBB) dan didukung Kemenpora RI itu diikuti puluhan peserta milenial. Kepada Purworejo News ketua Yayasan NBB, Hantoro menyebutkan, usia peserta seminar dibatasi yakni 16 sampai 30 tahun.

Mereka berasal dari komunitas karang taruna Desa Kaligono, Pangenrejo, dan Pangenjurutengah, serta perwakilan siswa SMK dan SMA di Purworejo. “Sebanyak 70 peserta yang ikut acara ini. Lokasi yang dipilih di Desa Kaligono karena punya potensi wisata serta seni budaya yang tinggi,” kata Hantoro.

Peserta seminar literasi digital

Menurutnya, panitia mengajak peserta jauh-jauh ke lokasi agar mereka tahu ada potensi seni budaya wisata di sini. Selain mendapat pengetahuan tentang materi seminar mereka juga bisa berwisata ke Curug Sidandang.

Asisten Deputi Bidang Imtek dan Imtak Kemenpora Dr Amar Ahmad yang menjadi keynote speech secara daring memberikan penjelasan, dari sekitar 200 juta penduduk Indonesia sekitar 65 juta diantaranya berasal dari generasi muda berusia 16 hingga 30 tahun.

Dirinya juga menyampaikan data yang menyebutkan bahwa 75% generasi muda begitu bangun tidur langsung membuka HP terutama membuka WA. “HP sudah menjadi kebutuhan pokok yang tidak boleh ditinggal. Mereka bisa jadi lupa bawa kebutuhan sekolah tapi tidak pernah lupa bawa HP,” ucap Amar.

Terkait literasi digital yang sedang digalakkan,
Soekoso dalam paparannya menjelaskan bahwa gelombang literasi digital dimulai sejak adanya Covid-19. Akibatnya dunia pendidikan dan perkantoran melakukan kegiatan secara daring.  “Hikmahnya mau tak mau semua harus gotong royong termasuk penguatan SDM untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” paparnya.

Sudibyo saat menyampaikan materi

Adapun pemateri berikutnya yakni Sudibyo
menyoroti tentang kesenian Ndolalak sebagai khas Purworejo dan menjadi memori kolektif.
“Selain itu Ndolalak juga akan mempunyai nilai sosial ekonomi saat ditampilkan di hadapan publik dengan tarif tertentu. Ndolalak merupakan kesenian yang mendesak untuk dilestarikan,” ungkap Sudibyo.

Kepada peserta yang merupakan kaum milenial Sudibyo  juga mengenalkan tokoh wayang yakni Petruk Kaligesingan yang memiliki ciri khas  tersendiri. Sudibyo juga berpesan agar budaya lokal diekpos menggunakan medsos yang ada. “Ekspos bukan berarti eksploitasi tanpa makna,” tegasnya.

Di sisi lain Joenaedi membahas tentang penulisan novel pada era digitalisasi. Dirinya juga berkisah tentang suka duka menjadi penulis novel pada eranya.

Sebagai moderator Mas Bram menanggapi bahwa budaya merupakan identitas yang membedakan antara kita dengan lainnya.

Dirinya pun berharap para nara sumber dapat memberikan materi serta pemahaman yang utuh tentang pentingnya literasi digital bagi generasi milenial untuk melestarikan budaya lokal supaya bisa dinikmati di manca negara. (Dia)

Tinggalkan Komentar