Cerita Pengalaman Eks Pasien Covid-19: Stephanus Aan Isa Nugroho

Laporan Reporter Purworejonews Yudia Setiandini

PURWOREJO, Januari ini genap 10 bulan masyarakat hidup bersama sebuah virus baru yang menghebohkan, yakni Coronavirus Disease -2019 (Covid-19). Selama rentang waktu itulah, hingga saat ini sudah hampir 3.000 warga Purworejo yang terpapar virus misterius itu. Dari jumlah tersebut, 100 orang dinyatakan meninggal dunia terinfeksi Covid-19.

Namun banyak pula yang bertahan dan akhirnya dinyatakan sembuh. Beberapa dari mereka yang sembuh membagikan kisahnya kepada Purworejonews agar pembaca dapat mengetahui berbagai gejala serta upaya yang dilakukan serta proses kesembuhannya.

Mereka adalah orang yang bergejala dan Orang Tanpa Gejala (OTG). Salah satu penyintas Covid-19 yang bergejala yakni Stefanus Aan Isa Nugroho, Kepala Plt Dinkominfo Kabupaten Purworejo menuturkan kisahnya saat dinyatakan terpapar virus misterius itu.

“Diawali tanggal 17 Desember, saya pulang awal dari kantor karena mulai terasa demam. Saya lalu memutuskan untuk menjalani aktivitas terpisah dengan anggota keluarga di rumah dengan melakukan isolasi mandiri di kamar ,” kata Aan mengawali kisahnya.

Kebiasaan tersebut menurut Aan, diterapkannya di masa pandemi ketika badan terasa tidak enak sebagai antisipasi bila ternyata gejala itu mengarah pada Covid. Esoknya yakni pada hari Jumat, dirinya memutuskan untuk tidak masuk kantor.

Di hari ke-3 (Sabtu) Aan merasakan tenggorokan sakit dan indera penciuman hilang. Hal itu karena saat ia menyemprot parfum di tangan dan berusaha mencium aromanya, sama sekali tidak berbau. Demikian pula waktu ia mencoba membakar aroma terapi dengan asap langsung ke hidung, tetap tidak bisa membau aromanya. Saat itu ia langsung meyakini bahwa dirinya terpapar Covid.

Stephanus Aan saat menjalani isolasi mandiri di rumah

Hari Senin (21/12) atau hari ke-4, Aan memutuskan untuk melakukan swab PCR di Dinas Kesehatan dan kemudian melanjutkan isolasi di rumah. “Mulai hari ke-4 malam sampai hari ke-7 saya sempat mengalami kondisi yang menurut saya menakutkan.

Seluruh tulang terasa sangat linu, badan demam, penciuman hilang, tenggorokan sakit, dan yang paling parah, badan terasa sangat lemas. Bahkan pada malam hari untuk mengangkat tangan saja terasa sangat berat. Nafsu makan pun hilang total,” kenang Aan.

Tapi ia bersyukur dirinya masih termasuk relatif muda dan dari sisi fisik juga masih kuat. Ia membayangkan, andai yang terkena gejala tersebut orang tua dan kategori rentan dengan komorbid, mungkin akan fatal akibatnya.

Selepas hari ke-7 (24/12) kondisi Aan mulai membaik; hidung sudah bisa mencium bau, demam sudah hilang, sakit tenggorokan sudah berangsur pulih, dan linu-linu sudah mulai hilang. Hari Senin (28/12) Aan dirujuk untuk dirawat di RSUD Tjokronegoro.

“Pelayanan dan fasilitas yang diberikan oleh Pemkab Purworejo menurut saya sangat baik dan nyaman. Semua biaya pelayanan perawatan Covid-19 ditanggung oleh Pemkab. Saya dirawat selama enam hari. Pada tanggal 2 Januari saya sudah diperbolehkan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari, dengan catatan tanpa gejala”.

Tanggal 8 Januari Aan dinyatakan sehat oleh Dinas Kesehatan. Tepat 24 hari sejak gejala pertama, dirinya sudah dapat masuk kantor kembali. Selama dalam masa karantina, Aan mengaku mengalamai penurunan berat badan hingga 4 kg akibat turunnya nafsu makan.

Dari pengalamannya menjadi penyintas Covid, Aan berkesimpulan bahwa virus itu sangat berbahaya dan bisa berakibat fatal bagi yang bergejala berat dan orang rentan dengan komorbid, terutama di masa kritis. (bersambung)

 3,288 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *